Minggu, 21 Desember 2014 | 05:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Rusuh Puger, Habib Muhdor Minta Pelaku Ditangkap
Headline
(foto: inilah.com/ilustrasi)
Oleh:
nasional - Kamis, 12 September 2013 | 07:34 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jember - Tewasnya Eko Mardi salah satu warga yang menentang karnaval yang digelar Pondok Pesantren Darus Sholihin, Rabu (11/9/2013), di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuat massa berang.

Dipimpin Habib Muhdor, seorang tokoh agama asal Kecamatan Tanggul, warga menuntut agar pembunuh Eko segera ditangkap. Mereka menuduh kelompok Ponpes Darus Sholihin yang diasuh Habib Ali Al Habsyi yang berada di balik tewasnya Eko. Eko adalah keponakan Fauzi, seorang ustaz di Puger yang selama ini menentang kehadiran Habib Ali.

Eko menjadi korban pembacokan dan mengalami luka parah di kepala dan wajah. Ia meninggal dunia pukul 17.25 WIB di RS Daerah Balung.

Muhdor menemui Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, di Kantor Kecamatan Puger, untuk melakukan pembicaraan, Rabu malam. Pertemuan itu tertutup bagi wartawan.

Usai pertemuan, Muhdor menemui massa dan menyatakan bahwa pihaknya memberi waktu kepada polisi untuk segera menangkap pelaku pembunuhan. Massa akan bergerak jika ternyata polisi tak memenuhi tuntutan itu.

Unggung meminta warga menyerahkan penuntasan kasus itu kepada polisi. "Polisi dalam hal ini akan melakukan penegakan hukum. Apalagi ada korban penganiayaan. Saya akan lakukan tindakan hukum," katanya kepada wartawan.

"Saya sudah ketemu dengan Habib Muhdor, dan ustaz Fauzi. Saya minta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri," kata Unggung.

Pondok Pesantren Darus Sholihin yang diasuh Habib Ali mengadakan karnaval peringatan HUT Kemerdekaan RI, di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (11/9/2013).

Karnaval itu sempat dilarang oleh aparat pemerintah kecamatan. Ini dikarenakan ada sekelompok warga yang tidak setuju dengan karnaval keliling desa itu. Bayang-bayang perselisihan antarkelompok Islam berbeda paham keagamaan tahun lalu jadi alasan.

Namun karnaval tetap diselenggarakan karena warga setempat mendesak. Warga dan santri yang menginginkan karnaval berlangsung menyerang aparat kepolisian dengan batu. Ternyata, keinginan warga dan santri ponpes melakukan karnaval benar-benar mendapat perlawanan dari sekelompok warga lainnya. Massa antikarnaval menyerang pondok pesantren yang ditinggalkan penghuninya berkarnaval.

Sebanyak 41 sepeda motor dirusak, dan tiga di antaranya dibakar. Massa yang datang dengan membawa senjata tajam merusak ponpes. Sekolah, kantor, dan masjid jadi sasaran penyerangan. [beritajatim]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER