Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 2 Agustus 2015 | 13:18 WIB
Hide Ads

Kasus Luthfi Hasan, PKS Seret Lingkar Dalam Istana

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 2 Juli 2013 | 05:11 WIB
Kasus Luthfi Hasan, PKS Seret Lingkar Dalam Istana
Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) - (Foto: inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta - Kasus Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tidak hanya berdimensi hukum saja. Ada dimensi politik yang menyeruak. Tak tanggung-tanggung, lingkar dalam (inner circle) Istana terbawa dalam pusaran kasus Luthfi Hasan Ishaaq. Bagaimana ceritanya?

Adalah Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah yang mengungkapkan ada andil sejumlah lingkar dalam Istana dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. Ia menyebut dua menteri yang dikenal dekat dengan Presiden SBY yakni Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam.

Pintu masuk keterlibatan dua menteri yang dikenal dekat dengan SBY itu dimulai dari nama Yuddi Setiawan, saksi yang dipinjam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk terdakwa Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Yuddi juga terlibat dalam pembobolan Bank Jabar Banten (BJB), Bank Jatim, serta kasus narkoba.

Menurut Fahri, Yuddi Setiawan kerap membawa dua nama menteri tersebut. "Nama yang sering dibawa dia (Yuddi Setiawan ) adalah Sudi Silalahi dan Dipo Alam. Setiap ketemu LHI, Yuddy selalu mengucapkan ada salam dari Sudi Silalahi," ujar Fahri yang baru saja bertemu dengan Luthfi Hasan Ishaaq sebelum sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (1/7/2013).

Lebih lanjut Fahri menyebutkan peran Dipo Alam dalam kasus yang menyeret Luthfi Hasan Ishaaq cukup besar. Menurut dia, Dipo Alam melakukan operasi dalam kasus LHI sejak pelaporannya di KPK beberapa waktu lalu. "Bagaimana kronologinya sejak peristiwa pelaporan ke KPK. Ini ada peran Dipo Alam. Terus terang, otaknya juga mata-mata kabinet itu, UKP4 (Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan)," sebut Fahri.

Sebagaimana dimaklumi, pada pertengahan November tahun lalu, Menseskab Dipo Alam melaporkan tiga kementerian yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertahanan. Saat itu pelaporan Dipo Alam sempat memunculkan polemik di tengah publik.

Ketika itu, Dipo apa yang dilakukannya merupakan tindaklanjut dari pelaporan dari PNS. Ia sudah menyerahkan bukti-bukti ke KPK. "Intinya ini adalah suatu laporan dari PNS. Jadi, kalau ada yang sebut itu fitnah, memang kita lihat ada tertulis. Demikian juga ada kementerian dan menteri yang mau bersama-sama untuk klarifikasi di KPK, akan mengklarifikasikannya," katanya.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengatakan hak Fahri Hamzah menyampaikan analisa terkait dengan kasus yang menyeret LHI. Ia menyebutkan, kasus LHI bermula dari laporan pegawai di Kementerian Pertanian. "Yang jelas, sekitar Oktober saya terima laporan dari intern Kementerian Pertanian," kata Dipo kepada wartawan di Jakarta, Senin (1/7/2013).

Dipo mengatakan dirinya kemudian mengundang pejabat eselon I untuk mengklarifikasi kebenarannya. "Mereka membenarkan nama-nama yang kini tersebut di pengadilan KPK kini termasuk peran masing-masing," tambah Dipo.

Setelah itu, kata Dipo, ia mengundang khusus Menteri Suswono menanyakan apakah ia mengetahui soal masalah impor daging. Secara tidak langsung ia agak membantah. "Tapi ada yg menarik, ia katakan bahwa kalau laporan itu diberikan ke KPK ia menyambutnya dengan senang. Ia juga mengatakan bahwa beliau sebagai anggota Dewan Syuro merasa senang karena di partainya ia sering dikatakan sebagai menteri yang tidak bisa cari duit," papar Dipo.

Menurut dia, cukup keliru jika Fahri menuding dirinya sebagai otak dalam kasus suap sapi. "Jadi kalau Fahri mengatakan saya otaknya kasus LHI sampai diadili oleh KPK itu keliru. Otaknya ialah laporan intern pejabat di Kementan, dan Inpres," tandas Dipo. [mdr]

8 Komentar

Image Komentar
SALIM FARUK - Jumat, 5 Juli 2013 | 10:40 WIB
Sy sepakat sama mas fahri...kayaknya pks sdg dikerjai istana krn bbrp kali kritis thd pemerintahan sby,,dalam kasus century, pajak dan bbm sby marah besar boroknya diungkap ke publik..makanya sekarg balas dendam..dan kpk kayaknya tunduk pd istana,,berani ga alat sadap kpk diarahkan ke istana? kayaknya ga berani,,dlm kasus nazar aja nama ibas menghilang dari pemeriksaan kpk...
Image Komentar
NIZAM - Kamis, 4 Juli 2013 | 20:33 WIB
Sip boss ini baru betol
Image Komentar
YUNATA SUSILO - Kamis, 4 Juli 2013 | 09:58 WIB
Wajarlah kalo fahri membela habis2an partainya dengan ocehan2 kosong. yang membuat dia nya seperti sekarang ini - hidup mewah - kan partainya juga. kalo bukan partainya, fahri mungkin kerja jadi penambal ban.
Image Komentar
GERI - Kamis, 4 Juli 2013 | 09:36 WIB
Pendukung pemerintahan zholim...sebaiknya membuka mata dan hati..spy hati kita tdk keras..
Image Komentar
ISA - Rabu, 3 Juli 2013 | 23:57 WIB
Bagus mas, negeri ini banyak banget boroknya, aparat jangan mau di jadikan alat politik, bongkar semua yg terlibat,,,,merdeka

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.