Kamis, 28 Agustus 2014 | 12:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sidang Simulator, Jaksa KPK Hadirkan Saksi Kunci
Headline
(Foto: Ilustrasi)
Oleh: Firman Qusnulyakin
nasional - Jumat, 24 Mei 2013 | 10:32 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Sidang terdakwa kasus korupsi pengadaan Simulator SIM di Korlantas Polri pada 2011, Djoko Susilo, kembali digelar hari ini, Jumat (24/5/2013), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta. Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sidang Djoko Susilo dijadwalkan digelar pukul 13.00 WIB bakal hadirkan tujuh saksi, beberapa di antaranya adalah saksi kunci.

"Saksi yang dihadirkan adalah Budi Susanto, Sukotjo Sastronegoro Bambang, Tri Hudi Ernawati alias Erna, Dino Inggiano, Ijay Herno, Anggiat Timbul Hutabarat, dan Wilson Hutajulu," kata Jaksa Kemas Abdul Roni lewat pesan singkat.

Budi Susanto adalah Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (CMMA). Sementara Sukotjo Sastronegoro Bambang merupakan Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia. Keduanya sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam perkara korupsi simulator oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

PT CMMA ditetapkan oleh panitia lelang di Korlantas Polri dan Pejabat Pembuat Komitmen, Brigadir Jenderal Polisi Didik Purnomo, sebagai pemenang lelang proyek pengadaan simulator SIM pada 2011. Tetapi, penetapan itu tidak sesuai prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah. Karena pada dasarnya, yang membuat seluruh unit simulator SIM roda dua dan empat bukan PT CMMA, melainkan PT ITI.

Dalam surat dakwaan, Djoko Susilo sudah memerintahkan kepada Ketua Panitia Lelang simulator, Ajun Komisaris Besar Polisi Teddy Rusmawan, agar proyek itu dikerjakan oleh Budi Susanto. Jelas hal itu melanggar peraturan presiden soal pengadaan barang dan jasa pemerintah, karena Djoko sebagai Kuasa Pengguna Anggaran menunjuk sepihak pemenang dan pelaksana proyek.

Dalam dakwaan juga dicantumkan dialog perintah Djoko ke Teddy, 'Ted, nanti ndoro (Budi) saja yang mengerjakan (proyek simulator).' Lalu dijawab Teddy dengan mengatakan, 'Siap pak',".

Proses lelang proyek simulator pun direkayasa. Budi Susanto memerintahkan Sukotjo Bambang mencari beberapa perusahaan yang bisa dipinjam benderanya, buat mengikuti lelang. Hal itu dilakukan atas sepengetahuan AKBP Teddy. Akhirnya, Sukotjo meminta bantuan konsultan proyek Warsono Sugantoro alias Jumadi buat mencarikan perusahaan itu. Dia pun memberi Rp20 juta kepada Jumadi sebagai biaya sewa bendera perusahaan.

Namun, karena diduga wanprestasi, Sukotjo Bambang dilaporkan dan diajukan ke persidangan. Dia sudah divonis penjara karena tuduhan penggelapan. Saat ini, dia ditahan di Rumah Tahanan Kebon Waru, Bandung, Jawa Barat. Tetapi, sebelum dijebloskan ke penjara, Sukotjo sempat dianiaya oleh Teddy. Saat itu, Teddy terlihat menampar Sukotjo. Aksi itu terekam kamera pengawas (CCTV) di kantor Sukotjo di Bandung.

Sukotjo S. Bambang adalah pengungkap kasus (whistleblower) yang membuka kasus dugaan korupsi senilai Rp198,6 miliar itu. Sukotjo juga menyatakan punya setumpuk data lain soal dugaan korupsi pengadaan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (pelat nomor) di Korlantas Polri. Menurut dia, ada beberapa petinggi Polri terlibat dalam permainan proyek itu. Sukotjo saat ini ada dalam perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK).

Sementara itu, Tri Hudi Ernawati alias Erna adalah Sekretaris Pribadi Djoko Susilo. Dia yang menerima paket berisi uang buat Djoko, dari Budi Susanto. Paket itu diserahkan di kantor Djoko di Korlantas Polri. [mvi]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER