Jumat, 18 April 2014 | 15:28 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sekolah Guru Indonesia (SGI)
Dompet Dhuafa Melecut Semangat Pengabdian Guru
Headline
(Foto : inilah.com)
Oleh: Advertorial
nasional - Senin, 13 Mei 2013 | 12:15 WIB
Berita Terkait

BERBICARA kualitas manusia tentu amat ditentukan dari sejauh mana kualitas pendidikan yang diselenggarakan. Bicara kualitas pendidikan, fokus akan tertuju pada sejauh mana pula kualitas para guru.

Guru merupakan elemen penting. Tidak berlebihan, lantaran guru adalah garda terdepan dalam perjuangan mengangkat kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun, bagaimana jadinya jika guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan itu tidak berkompeten?

Lantas, bagaimana pula jika para guru memahami perannya hanya sebagai sekadar profesi, bukan kesempatan membentuk generasi bangsa yang unggul? Tidak terbayang jadinya para siswa notabene generasi penerus bangsa mendapati kualitas guru yang demikian. Kualitas guru yang buruk adalah bencana sosial.

Sinyalemen ini jelas mesti direspon dengan penanganan yang komprehensif. Kendala keilmuan ditengarai menjadi sebab kualitas guru yang buruk. Pendidikan guru yang minim tidak sampai sarjana dan guru jarang mendapatkan pelatihan adalah fakta tidak terbantahkan.

Keprihatinan atas kualitas guru tersebut menjadi pelecut Dompet Dhuafa mendirikan Sekolah Guru Indonesia (SGI) pada 24 Oktober 2009. Didirikan guna melahirkan guru model yang memiliki kompetensi mengajar, mendidik, dan memimpin, SGI didedikasikan bagi para pemuda Indonesia. Mereka adalah pejuang muda yang siap mengabdikan diri menjadi guru model serta siap berkontribusi bagi kemajuan pendidikan di seluruh penjuru nusantara.

“Kelahiran SGI adalah wujud komitmen Dompet Dhuafa dalam program pemberdayaan dan peningkatan kualitas guru,” ungkap Asep Sapa’at, Direktur SGI Dompet Dhuafa.

Hingga 2013, SGI telah meluluskan tiga angkatan. Angkatan pertama, SGI melahirkan 37 guru model, 90% telah berkiprah sebagai guru dan trainer. Angkatan kedua, SGI melahirkan 30 guru model, 80% dari 20 guru yang telah ditempatkan memilih untuk tetap berkiprah di dunia pendidikan. Angkatan ketiga, SGI melahirkan 32 guru model.

“Sedangkan angkatan keempat tengah ditempatkan sebagai guru SD di berbagai daerah. Mereka tersebar di Lampung, Belitung, Banten, Sambas Kalimantan Barat, Dompu NTB, dan Buton Sulawesi Tenggara,” ungkap Asep.

Penempatan di daerah selama setahun merupakan tolak ukur lulusan SGI mengenai sejauh mana mereka mampu menjalankan peran dan fungsinya sebagai guru model.

“Tidak hanya itu, mereka juga sebagai motor penggerak pemberdayaan masyarakat, minimal di lingkungan sekolah mereka ditempatkan. Dengan demikian apa yang telah mereka dapatkan selama masa perkuliahan dan magang mampu benar-benar diaplikasikan secara nyata di lapangan,” imbuh Asep.

Dipilihnya SD sebagai tempat mereka mengajar, kata Asep, karena SD fase paling penting dalam membangun karakter siswa. “Mereka butuh sosok guru model. Kebutuhan guru SD qualified (minimal S1) di daerah sangat terbatas jumlahnya,” jelas Asep.

Asep menambahkan, menurut data guru Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas tahun 2009 menyatakan bahwa secara nasional guru berkualifikasi S1 sebesar 42,3% dan 57,7% merupakan presentasi guru yang belum berkualifikasi S1.

Pembinaan komprehensif

Guna melahirkan guru model, merekrut SDM unggul yang memiliki visi memajukan pendidikan Indonesia serta semangat pengabdian saja tidak cukup. Namun, dibutuhkan pula sebuah sistem yang terstrukur agar terbentuk pribadi yang tangguh, professional, dan memiliki karakter kuat.

Setelah lolos melalui tahapan seleksi berupa administrasi, focus group discussion (FGD), dan interview, para peserta SGI mengikuti proses pembinaan selama enam bulan. Materi selama pembinaan tersebut adalah orientasi, pelatihan, perkuliahan, dan magang.

“Pembekalan kreativitas dalam materi kuliah sangat membantu dalam mengolah kreativitas yang ada,” ungkap Dasnah, peserta SGI angkatan III asal Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut guru model SGI yang ditempatkan di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini kurikulum asrama yang diterapkan membentuk karakter unggul. Kedisiplinan menjadi salah satu elemen penting. “Ruhaniyah kami seperti di-charge. Seimbang antara ilmu dunia dan akhiratnya. Saya merasakan manfaatnya sangat banyak,” tambah alumnus Universitas Negeri Makassar ini.

Menjadi guru sepenuh hati

Memajukan pendidikan anak-anak pelosok negeri menjadi motivasi Dasnah mengikuti SGI. “Selain itu, menggali wawasan dan pengalaman saya tentunya akan bertambah di tempat asing yang akan saya jejeaki,” terangnya.

Senada dengan Dasnah, Julyasman peserta SGI angkatan III penempatan Buton, Sulawesi Tenggara mengikuti SGI sebab terpanggil untuk memberikan kontribusi bagi pendidikan Indonesia.

“Berawal dari saya yang lulusan sarjana pendidikan. Motivasi terbesar saya ingin menginspirasi dan memotivasi anak-anak agar mereka memliki kesempatan yang sama dalam mengenyam dunia pendidikan dan tidak kalah jauh beda dengan anak-anak di kota,” ungkap alumnus Sosiologi Universitas Negeri Jakarta ini.

Bagi Julyasman, mengikuti program SGI dapat menginspirasi dan memotivasi sekaligus belajar banyak hal. Sementara bagi Dasnah, SGI adalah ladang amal, ilmu, dan wawasan bagi jiwa muda yang ingin menjadi guru sepenuh hati. [yogi ahmad fajar]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Tina Istoto
Senin, 13 Mei 2013 | 13:04 WIB
Assalamualaikum, Bagaimana bila saya ingin menyumbangkan tenaga saya untuk ikut program menyukseskan program ini. Saya seorang guru dan juga memiliki kualifikasi dalam melatih guru. Terimakasih Wassalamualaikum
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER