Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 4 September 2015 | 23:33 WIB
Hide Ads

Ini Persoalan Caleg 2014

Oleh : Silvia Ramadhani | Minggu, 5 Mei 2013 | 22:04 WIB
Ini Persoalan Caleg 2014
Ist

INILAH.COM, Jakarta - Daftar bakal calon anggota legislatif (bacaleg) parpol sudah terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun, sejumlah masalah dari bacaleg masih ada.

Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) mengkaji sinkronasi antara berbagai masalah yang muncul dengan kesiapan parpol serta caleg dalam menghadapi Pemilu.

"Saya mencoba memakai teori (politik) kualitas sebuah peran sangat ditentukan oleh kualitas individu dan juga harapan publik," Direktur LPI Boni Hargens, Jakarta, Minggu (5/5/2013).

Boni menjelaskan. terori tersebut digunakan untuk menilai seberapa siap seorang individu yang tidak memiliki latar belakang politik. Boni menyorot para caleg seperti artis, atlit, dan profesi lainnya.

Menurutnya, partai-partai politik yang menggandeng bukan politisi atau kader instan merupakan suatu masalah dalam politik. Para parpol hanya menekankan pada prosedural dari pada substansi.

"Sistem politik di Indonesia masih bemasalah pada tataran substansi. Kawan-kawan partai lebih mengutamakan prosedur dari pada substansi," jelasnya.

Boni mencontohkan sejumlah bacaleg yang bermasalah dengan etika. Memang secara hukum belum ada ketatapan. Namun, secara etika sudah tidak layak lagi. Namun, ini tidak diperhatikan oleh parpol.

"Katakanlah ia tidak memperoleh ketetapan hukum, seperti ia tersangka atau apapun, tetapi disebut-sebut terlibat. Itu kan sebetulnya sudah persoalan secara etis. Karena secara hukum ia tidak dijerat lalu dianggap bersih," ungkapnya.

Sebagai contoh Presiden Jerman, Christian Wullf. Karena cemoohan wartawan atas kasus kredit berbunga rendah yang dilakukan oleh istrinya.

"Jadi secara hukum ia tidak terbukti bersalah, kemudian dalam proses ada rasa bersalah. Itu yang dinamakan etika politik," jelas Boni.

Potensi caleg bermasalah hari ini adalah untuk menunjukkan bahwa para politisi saat ini telah kehilangan moral.

"Kawan-kawan politisi tidak punya sensitivitas moral dan proses politik ini mengabaikan potensinya," tandas Boni. [gus]

Berita Terkait Lainnya

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.