Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 30 Januari 2015 | 22:28 WIB
Hide Ads

Mantan Kepala BPN Jateng Merasa Dikriminalisasi

Oleh : Bayu Hermawan | Rabu, 1 Mei 2013 | 19:07 WIB
Mantan Kepala BPN Jateng Merasa Dikriminalisasi
(Foto : ilustrasi)

INILAH.COM, Jakarta - Mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Semarang, M Thoriq mendatangi Komisi Kejaksaan RI, karena merasa dikriminalisasi setelah ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tukar guling (ruislag) tanah aset Pemprov Jawa Tengah di Kabupaten Semarang oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah.

Thoriq yang datang bersama tim kuasa hukumnya ke kantor Komisi Kejaksaan RI, di Jalan Rambai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/5/2013), bermaksud untuk melaporkan ketidak profesionalan jaksa pada Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah saat menyidik kasus dugaan korupsi tersebut.

"Ini lapdu (laporan pengaduan) dari kasus yang sedang ditangani kejati jateng ruislag tanah milik pemda, tsk bersama para lawyernya bahwa penyidik tidak profesional, tebang pilih dan melakukan penerapan hukum yang tidak tepat," kata Ketua KKRI Halius Hosein.

Halius melanjutkan, Thoriq menilai jaksa tak tepat menerapkan pasal yang disangkakan kepada para tersangka. "Ada penyimpangan, penzaliman, katanya ini penerapan pasalnya tidak benar. Pasal lain, materinya lain. Itu kan sudah penyimpangan," ujarnya.

Halius sendiri memastikan akan segera meminta penjelasan dari penyidik Kejati Jateng yang menangani kasus tersebut. Kroscek diperlukan untuk mencocokan kebenaran laporan yang dilayangkan Thoriq.

"Akan kita coba kroscek ke kejati terkait kebenaran lapdu tersebut. Mekanismenya lapdu akan kita bahas dan akan kita menentukan sikap apakah perlu mengkroscek ke kejati. Tapi yang tadi kita merasa perlu meminta keterangan dari penyidik di kejaksaan tinggi," tandasnya.

Seperti diketahui dalam kasus ini 7 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka yang ditahan yaitu Karyono (swasta), Wimbo Cahyono (pensiunan Kepala Bidang Pengukuran Kanwil BPN DIY) dan Yudi Riarso (Kepala Bidang Pengukuran Kanwil BPN DKI Jakarta).

Empat orang lainya adalah Sri Handayani (Komisaris I PT Handayani Membangun), M Thoriq (mantan Kepala BPN Kabupaten Semarang), Priyantono Djarot Nugroho (mantan pejabat Dinas Cipta Karya Pemprov Jateng), dan Rustamaji (broker, swasta). Dari semuanya baru Jarot yang berada di sel karena tersangkut kasus lain.

Kasus ruislag tanah terjadi pada 2005 lalu. Djarot yang tidak dalam kapasitas mengurus tanah milik pemprov menyuruh Rustamaji dan Karyono menjual tanah seluas 31 ribu meter persegi kepada pengusaha. Cara penjualan dengan tukar guling, tanah itu ditukar dengan tanah seluas 42 ribu meter persegi di Kalongan, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Nilai tanah hasil ruislag ternyata nilainya rendah. Hanya 10 ribu meter persegi yang bisa dimanfaatkan, sisanya berupa tebing. Untuk tanah yang bisa dimanfaatkan, di beberapa titik sudah dibangun perumahan.[bay]

Tag :

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

37289

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.