Senin, 22 Desember 2014 | 00:19 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ini Kronologis Penyerangan LP Sleman Versi Kontras
Headline
Koordinator Kontras, Haris Azhar - (Foto: inilah.com)
Oleh: Ahmad Farhan Faris
nasional - Minggu, 24 Maret 2013 | 20:31 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), telah melakukan investigasi terkait kasus penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang menewaskan empat orang tahanan, pada Sabtu (23/3/2013) dini hari.

Koordinator Kontras, Haris Azhar mengatakan investigasi ini dilakukan guna melihat apakah unsur tindak pidana terpenuhi dalam peristiwa yang mengakibatkan 4 orang meninggal dan 8 orang petugas Lapas menjadi korban kekerasan serta fasilitas negara rusak.

Berdasarkan investigasi Kontras, diketahui peristiwa berawal ketika hari Jumat (22/3/2013) lalu, pihak LP Cebongan menerima 11 orang dari pihak Polda DI Yogyakarta. Saat itu, ada empat orang tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus Sertu Santosa di Hugo's Cafe beberapa waktu lalu.

"Saat itu juga pihak LP yakni Kepala Lapas Sukamto menghubungi ke Polda DIY, untuk menanyakan alasan pengiriman orang tersebut. Sebab Kalapas khawatir peristiwa seperti yang terjadi di Mapolres OKU bisa terulang kembali. Namun salah satu Kanit di Polda mengatakan tak perlu khawatir karena Polda DIY akan memberikan back up pengamanan ke Lapas," jelasnya, Minggu (24/3/2013).

Kalapas pun berprasangka baik, dengan berpikir Polda DIY akan mengirimkan intel-intelnya. Pada Sabtu dini hari, seperti biasa Lapas dijaga sekitar 8 orang yakni dua diantaranya berada pada meja piket.

"Setelah itu, datang seseorang dengan menunjukan surat dari Polda dan ingin koordinasi tentang tahanan yang tadi pagi diserahkan ke LP, dan dua orang petugas piket memanggil kepala keamanan," singkatnya.

Setelah kepala keamanan datang, dan membuka pintu masuk agar komunikasi bisa lebih jelas, tiba-tiba segerombolan orang masuk dengan cara memaksa. Rombongan ini berpakaian bebas.

"Ini diperkirakan ada 17 orang dengan senjata laras panjang dan muka ditutup, mereka langsung menodongkan senjata dan ada yang menjaga serta menyandera lalu sebagian masuk menyandera dan menodong senjata ke penjaga LP dilapis pagar bagian dalam. Bahkan, tindakan ini disertai ancaman pengeboman," jelasnya.

Selanjutnya, gerombolan ini memaksa penjaga memberitahu dimana letak tahanan yang baru diberikan Polda, sambil melakukan penganiayaan. Banyak darah petugas LP berceceran karena diseret untuk diminta menunjukan lokasi tahanan 4 orang tahanan yang baru dipindahkan tersebut.

"Akhirnya petugas ada yang mengaku tau letak tahanannya yakni di sel 5a kemudian kunci sel dibawa dan minta diantar juga dengan cara paksa," ucapnya.

Begitu tiba di sel 5a, ada 35 orang tahanan ditanyakan siapa pelaku pembunuhan di Hugo's Cafe, hal ini membuat kepanikan dan kegaduhan didalam sel tersebut. "Kemudian 4 orang tersangka terpisahkan dan langsung dieksekusi dengan cara ditembak didalam sel dihadapan penghuni sel 5a, dan eksekutornya hanya satu orang," jelasnya.

Setelah mengeksekusi, pelaku penembakan ini langsung menyeret petugas LP untuk minta ditunjukan tempat kontrol kamera CCTV dan petugas mengaku tidak tau karena hanya diketahui kepala Lapas.

"Para penyerang tetap memaksa dan meminta diantar ke ruang kepala Lapas lalu diseret ke lantai 2 dan akhirnya didobrak lalu dirusak dan diambil perlengkapan CCTV," katanya.

Di samping itu, menurut keterangan tambahan bahwa diperkirakan para penyerang melompat pagar LP karena malam itu pagar LP dikunci. Selain itu, warga juga mendengar ada suara tembakan dan melihat ada 3 truk berada didekat LP yang letak geografisnya berada di tempat agak sepi dari lingkungan penduduk.

Selain itu, disamping kanan hanya ada rumah besar jaraknya ada tanah kosong diantara halaman LP, samping kiri tanah kosong seperti kebun, depan LP setelah jalan mobil ada 2 bangunan rumah yang belum selesai, di sekitar lokasi jalan depan LP tidak terlihat lampu jalan.

Untuk itu, kesimpulan yang bisa ditarik yakni serangan ke LP dilakukan dengan target pembunuhan hanya kepada 4 orang pelaku pembunuhan anggota Kopassus Sertu Santoso dan patut diduga ada motif dendam.

Kemudian, ada serangkaian kekerasan yang dilakukan kepada petugas LP. Lalu, penyerangan melakukan tindak kekerasan dengan sangat terencana seperti menyiapkan 'surat Polda' dan pembagian tugas diantara 17 orang tersebut serta kontrol waktu dalam penyerangan.

Selain itu, penyerang juga menguasai informasi lokasi LP dan memiliki persenjataan tempur yang tidak mungkin dimiliki oleh warga sipil biasa. Dan, polisi telah membuat kebijakan yang aneh dengan mengirim tersangka ke LP hanya dalam waktu 3 hari pasca kejadian dan tidak dilakukan back up keamanan ke LP, ini terbukti ketika penyerangan tidak ada polisi di lokasi.

Haris menambahkan, berdasarkan informasi bahwa penyerahan atau penitipan tahana oleh Polisi tidak lazim dilakukan dalam waktu sesingkat itu, biasanya penitipan dilakukan oleh pihak Kejaksaan karena tidak memiliki ruang tahanan yang cukup.[bay]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
hariz
Selasa, 26 Maret 2013 | 14:35 WIB
untuk TNI-Polri, sekalian saja tuh orang2 kontras dan aktivis2 ham dibedil aja, mereka itu preman2 berkedok aktivis ham
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER