Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 3 Agustus 2015 | 05:25 WIB
Hide Ads

Penyerbuan Lapas, Perlawanan kepada Pemerintah

Oleh : - | Minggu, 24 Maret 2013 | 07:37 WIB
Penyerbuan Lapas, Perlawanan kepada Pemerintah
Anggota Komisi I DPR RI Tjahjo Kumolo - inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Tjahjo Kumolo meminta Polda DIY bersama instansi terkait untuk mengusut tuntas kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan Sleman oleh kelompok bersenjata hingga menyebabkan empat tahanan tewas.

"Terkait peristiwa yang mengejutkan di Lapas Cebongan Sleman, setidaknya pihak Polda DIY bersama instansi terkait harus mengusut tuntas kasus tersebut, terlepas apa pun perkara ini sudah merusak wibawa dan tatanan yang ada," kata Tjahyo, ketika dihubungi, Sabtu (23/3/2013).

Kata Tjahjo yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, kejadian itu mengindikasikan bahwa semua lembaga pemasyarakatan di Indonesia rawan akan kejadian tersebut dan tahanan di dalam lapas juga tidak menjanjikan sebuah perlindungan yang aman dari sebuah proses hukum.

Untuk itu, Tjahjo meminta semua pihak introspeksi terkait dengan kejadian tersebut, terlepas kasus balas dendam. Akan tetapi, penyerangan itu sudah menunjukkan bahwa ada perlawanan terbuka terhadap Pemerintah atau kekuasaan, khususnya kekuasaan di bawah Kementerian Hukum dan HAM.

"Semua pihak harus terbuka dan harus siap dievaluasi. Pasti ada yang salah dalam sebuah sistem sehingga muncul hal-hal demikian," kata anggota Komisi I (Bidang Pertahanan dan Intelijen) DPR RI itu.

Sebelumnya Sabtu (23/3/2013) dini hari, sekitar 17 orang bersenjata yang diduga oknum TNI menyerang dan membunuh empat orang tahanan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Empat orang yang tewas tersebut merupakan tersangka pembunuhan terhadap salah seorang anggota TNI yang terjadi di sebuah cafe bernama Hugo's di Yogyakarta pada 19 Maret 2013.

Empat tahanan yang tewas itu adalah Yohannes Juan Manbait alias Juan, Gameliel Yermiayanto Rohiriwu, Andrianus Candra Gajala alias Dedi, Hendrik Benyamin Sahetapy Engkel alias Diki. Empat kawanan ini, seluruhnya berasal dari NTT. [ANT]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.