Senin, 24 November 2014 | 10:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Nusa Kambangan Kendalikan Narkoba Internasional
Headline
Ilustrasi - Ist
Oleh: Dewa Putu Sumerta
nasional - Jumat, 22 Maret 2013 | 05:02 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Denpasar - Pria berkebangsaan Nigeria, Marco yang kini mendekam di Lapas Permisan, Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, ternyata menjadi pengendali sindikat narkotika internasional.

Polda Bali dan Bea Cukai Ngurah Rai Bali belakangan berhasil mengungkap sindikat Marco, setelah berhasil menangkap Junaidi Bin Ali Kano (40) sesaat setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, sekitar pukul 12.30 WITA pada Sabtu 9 Maret 2013 lalu.

Petugas berhasil mengamankan narkotika jenis sabu-sabu dari Junaidi seberat 1.248 gram netto dan 1.150 gram netto yang disimpan di dalam tas pakaian yang dibawanya.

Barang haram itu dibawanya dari Nepal. Usai, menangkap Junaidi, Direktorat Narkoba Polda Bali kembali berhasil membeku kartel sindikat narkoba internasional itu yakni DMP (26), Y (37), Vivi (39), dan DK (40).

"Setelah dilakukan pengembangan, kami berhasil menangkap empat orang lainnya, tiga di antaranya perempuan," ujar Kasubbid Penmas Humas Polda Bali, Ajun Komisaris Besar Sri Harmiti, di Mapolda Bali, Kamis (21/3/2013).

Dalam pengembangan, tersangka Junaidi menyerahkan sabu sebanyak itu kepada V. Junaidi menyerahkan barang terlarang itu kepada V di kamar nomor 7 penginapan Medori Jalan Merta Sari Nomor 120 Suwung Kangin, Denpasar Selatan.

"Barang itu tidak diambil oleh V, tapi oleh tersangka lainnya yanki DK. Saat itu V menunggu di dalam taksi," imbuh Sri.

Sri menuturkan, keterangan yang diperoleh dari V, ia diperintah oleh seorang napi yang mendekam di Lapas Pernisan, Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah bernama Marco. Marco ternyata menggunakan perantara yang berinisial Y.

"Barang bukti itu dibagi tersangka Y dan Junaidi yang menyerahkan kepada tersangka DMP di kamar nomor 210 hotel Maria Jalan Raya Kuta No 108 X Kuta, Kamis 14 Maret 2013 pukul 16.00 WITA," jelas Sri.

Saat diintrogasi petugas, DMP mengaku diperintahkan oleh seseorang bernama Edy melalui Ciwo untuk mengambil tas itu dengan upah Rp10 juta. Namun, saat itu ia baru dibayar Rp800 ribu.

Sri menambahkan, komunikasi mereka dengan Marco kini sudah putus, sehingga jaringannya terputus. Kelima tersangka, kini dijerat dengan pasal berlapis.

Tersangka Junaidi dijerat dengan pasal 112 dan 113 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancamannya hukuman mati, paling rendah 5 tahun.

"Empat tersangka lainnya dijerat dengan pasal 112 ayat 2 dan pasal 114 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman penjara paling berat hukuman mati dan paling ringan 6 tahun," tutupnya. [gus]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER