Minggu, 31 Agustus 2014 | 01:27 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mengadu ke Komnas HAM & Kontras
Petambak & Karyawan Tulang Bawang Tuntut Keadilan
Headline
inilah.com
Oleh:
nasional - Kamis, 21 Maret 2013 | 11:53 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Petambak Peduli Kemitraan (P2K) dan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Centralpertiwi Bahari (SPSI CPB) meminta Komnas HAM dan Kontras agar objektif dan adil dalam melihat konflik di kawasan tambak udang, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

P2K dan SPSI melihat sebelumnya telah terjadi pemutarbalikkan fakta yang telah dilakukan oleh pihak Forsil dan ditulis di beberapa media nasional. Demikian dalam keterangannya tertulisnya P2K dan SPSI CPB yang diterima Kamis (21/4).

Pasca-bentrokan yang terjadi pada 12 Maret 2013 lalu di kawasan tambak udang PT CPB di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, belasan plasma dari perkumpulan P2K dan karyawan PT CPB yang tergabung dalam SPSI CPB Jumat (15/3/2013) pekan lalu mendatangi kantor Komnas HAM dan kantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) di Jakarta.

Dalam pertemuan itu, secara bergantian, P2K maupun SPSI melaporkan aksi penyerangan yang dilakukan oleh kelompok petambak Forum Silaturahmi (Forsil) yang berujung pada tewasnya petambak P2K dan karyawan serta puluhan lainnya luka-luka.

Di Komnas HAM, P2K dan SPSI diterima langsung oleh Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani dan staf ahli Komnas HAM, Maelani. Di pertemuan tersebut, secara bergantian petambak P2K yang diwakili Supriyono dan SPSI PT CPB, Zainal Muttaqim menyampaikan kronologis kejadian bentrokan yang terjadi.

Diungkapkannya, dari ketiga orang yang tewas, salah satunya diduga dibunuh dengan senjata tajam yang telah dilumuri racun dan dilempar ke kanal. Sedangkan korban luka mencapai sekitar 28 orang termasuk di dalamnya seorang tokoh P2K.

Dijelaskannya, massa Forsil yang berjumlah ratusan orang hingga saat ini masih terus melakukan aksi pengusiran, intimidasi, perusakan sampai pembakaran rumah-rumah petambak P2K yang berseberangan dengan kelompok Forsil.

Forsil juga hingga kini dilaporkan masih melakukan aksi sweeping ke rumah-rumah petambak pro kemitraan. Akibatnya, hingga kini ribuan petambak beserta anggota keluarganya terusir dari kampungnya. Sekarang mereka mengungsi ketakutan ke Gelanggang Olah Raga di area tambak CPB dan sebagian lagi mencari perlindungan ke desa-desa sekitar perusahaan yang dinilai aman.

Diungkapkannya, kelompok forsil juga telah melakukan aksi penyerangan secara sistematis dan terencana. Ini terbukti dengan dokumentasi yang dimiliki yang menunjukkan Forsil telah menyiapkan parang, celurit, pedang, serta senjata tajam lainnya untuk melakukan serangan tersebut.

Menjawab pertanyaan Siane mengenai kesiagaan aparat kepolisian saat itu, Supriyono mengatakan bahwa jumlah aparat kepolisian saat itu tidak imbang jika dibandingkan dengan jumlah Forsil yang melakukan serangan.

Selain ke Komnas HAM, petambak P2K dan perwakilan karyawan juga mendatangi kantor Kontras di Jakarta untuk mengeluhkan hal yang serupa. Diterima oleh Syamsul Munir, Kepala bidang Advokasi Kontras beserta jajarannya, Petambak P2K menjelaskan telah terjadi aksi intimidasi dan penganiayaan terhadap petambak yang ingin serius budidaya oleh kelompok Forsil.

Di kedua lembaga tersebut, P2K dan SPSI berharap adanya tindak lanjut yang dilakukan baik oleh Komnas HAM maupun Kontras agar kasus konflik tersebut dapat teratasi. Mereka berharap agar Forsil dapat segera dikeluarkan dari area pertambakan karena telah mengacaukan keadaan dan keberadaannya telah begitu meresahkan warga maupun petambak yang ada di area pertambakan CPB. Di samping itu, mereka mengharapkan agar dapat peroleh perlindungan hukum dan keadilan yang saat ini kurang dirasakan oleh para petambak dari aparat penegak hukum.

Kepada Komnas HAM maupun Kontras, P2K dan SPSI juga meminta agar kedua lembaga tersebut dapat adil dan obyektif dalam melihat konflik ini dan tidak ada keberpihakan ke salah satu pihak, karena sebelumnya telah terjadi pemutarbalikkan fakta yang telah dilakukan oleh pihak Forsil dan ditulis di beberapa media nasional.

Menanggapi pengaduan dari P2K dan karyawan CPB, Siane mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam atas nasib yang dialami oleh para petambak dan karyawan CPB. Ia menjanjikan pihaknya akan segera merancang kembali agenda untuk membantu melakukan mediasi dan menjadi fasilitator konflik tersebut.

“Kami sangat prihatin mendengar kronologis kejadian yang telah diceritakan,” ujarnya. Poin pertama, menurutnya adalah memprioritaskan terlebih dahulu keselamatan jiwa warga yang ada di lokasi tersebut. Adanya korban tewas dan terusirnya petambak tempat dia bekerja jelas bersinggungan dengan HAM. “Dan kedua, fungsi aparat juga perlu dikondisikan, karena aparat yang memiliki kewajiban untuk menindak lanjuti apa yang perlu dilakukan untuk keadilan,” ujar Siane. [*]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER