Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 28 Mei 2015 | 08:48 WIB
Hide Ads

Inilah Titik Krusial Demokrat Pasca-Anas

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 26 Februari 2013 | 07:02 WIB
Inilah Titik Krusial Demokrat Pasca-Anas
Anas Urbaningrum - inilah.com/Ardy Fernando

INILAH.COM, Jakarta - Partai Demokrat berpotensi bakal terlilit masalah internal pasca-berhentinya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Rumusnya, semua harus kembali pada konsensus partai sebagaimana diakomodasi Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat.

Berhentinya Anas Urbaningrum dari Ketua Umum Partai Demokrat tidak serta merta akan mengakhiri carut marut di partai segitiga biru itu. Ada beberapa titik krusial yang justru berpotensi menambah carut-marut partai.

Keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat tentang pelaksana tugas Ketua Umum Partai Demokrat yang dipegang oleh Wakil Ketua Umum Jhonny Allen Marbun, Max Sopacua, Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono dan Direktur Eksekutif Partai Demokrat Totok Riyanto bisa saja menenangkan kondisi internal sepeninggal Anas Urbaningrum.

Hanya saja, masalah krusial akan dihadapi oleh pelaksana tugas Ketua Umum Partai Demkrat ini terutama saat penyusunan daftar calon anggota legislatif. Empat orang ini secara politis merepresentasikan kekuatan faksi di internal Partai Demokrat. Secara historis, Jhonny Allen Marbun merupakan kubu Anas Urbaningrum, Max Sopacua berasal dari kubu Marzuki Alie. Adapun Ibas Yudhoyono dan Totok Riyanto representasi SBY.

Empat orang Plt Ketua Umum Partai Demokrat ini secara praksis tidaklah mudah dalam menyamakan persepsi khususnya saat menyusun pencalegan dari Partai Demokrat. Meski secara teoritis akan dipimpin langsung oleh Majelis Tinggi Partai, pola ini jelas tak mudah. Berbeda bila hanya terdapat Ketua Umum yang dijabat satu orang saja.

Belum lagi urusan administrasi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Nanti kita akan tanyakan ke KPU apakah dengan mundurnya Ketum, Waketum ini bisa mewakili bersama Sekjen untuk tanda tangan daftar caleg yang akan disampaikan kepada KPU," kata Marzuki Alie di Istana Negara, Senin (25/2/2013).

Poin krusial lainnya yang tak kalah sulit adalah saat digelarnya Kongres (Luar Biasa) yang mengagendakan pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat. Di titik ini, apakah Partai Demokrat memunculkan Ketua Umum Partai Demokrat berasal dari kader partai atau non-kader partai? Pasalnya, nama Pramono Edhie, adik kandung Ani Yudhoyono santer disebut calon titipan SBY.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie menyebutkan tidak ada aturan di AD/ART Ketua Umum ditunjuk oleh Majelis Tinggi Partai. "Tidak ada ketentuan penunjukan oleh majelis tinggi, sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga bahwa ketua umum itu dipilih oleh kongres, tentu penggantian juga melalui kongres," kata Marzuki.

Sebelumnya, Marzuki juga yakin, SBY akan taat asas dengan tidak menunjuk Pramono Edhie sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Bagi Marzuki, jika ada penunjukan Ketua Umum akan menjadi preseden negatif bagi Partai Demokrat. "Saya pastikan tidak ada orang luar jadi Ketum Partai Demokrat. Itu preseden yang sangat buruk. SBY pasti taat asas," tegas Marzuki optimistis.

Titik krusial lainnya, juga dipicu oleh para pendukung Anas Urbaningrum di Partai Demokrat. Konsolidasi Anas selama dua tahun lebih di internal Partai Demokrat telah terbentuk jejaring yang kuat. Di poin ini pula, rekonsiliasi antarfaksi mau tidak mau harus segera dilakukan. [mdr]



1 Komentar

Image Komentar
MIFTAH - Selasa, 26 Februari 2013 | 09:58 WIB
Pks ketumnya jadi tersangka,demokrat ketumnya jadi tersangka...mari kita cermati secara obyektif..dan setiap kita bahkan media kalo mau jujur pasti timbul pertanyaan:kenapa pks dan demokrat di landa badai yg sama,tapi pks tetap solid? sedangkan demokrat tambah ancur? belajarlah dari pks.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.