Kamis, 17 April 2014 | 17:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pilgub Bali, Baliho Cagub PDIP Dibakar
Headline
spanduk calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Bali, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan (PAS)dibakar - Ilustrasi
Oleh: Dewa Putu Sumerta
nasional - Senin, 18 Februari 2013 | 14:56 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Denpasar - Suhu politik di Bali mulai memanas. Sebuah baliho bergambar bakal pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Bali, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan (PAS), di Jalan Drupadi, Renon, Denpasar, dibakar orang tak dikenal.

Perusakan dan pembakaran baliho berukuran sedang itu berlokasi tak jauh dari Kantor Panwaslu Bali. Insiden ini terjadi sekitar pukul 19.30 Wita, Minggu (17/2/2013).

Menurut informasi beberapa warga, pembakaran baliho pasangan cagub-cawagub PDIP itu berlangsung sangat cepat. Awalnya terlihat ada kobaran api kecil, namun warga takut mendekat karena khawatir dianggap pelaku pembakaran.

"Iya kami sudah terima laporan, ada baliho bergambar pasangan cagub cawagub PDI Perjuangan dibakar," ujar anggota pemenangan Tim Advokasi PDIP Bali untuk PAS, Nyoman Sudiantara, di Denpasar Senin (18/2/2013).

Punglik, panggilan Sudiantara, meminta seluruh kader dan simpatisan partai tidak terpancing maupun terprovokasi atas kejadian itu. Punglik menjelaskan, peristiwa ini masih dikaji dan dianalisa oleh tim advokat PAS. Jika nantinya ditemukan adanya bukti awal yang cukup dari aspek yuridis dan hukum, pihaknya akan melakukan proses hukum.

Punglik mengaku belum mengetahui motif pembakaran baliho bergambar paket PAS yang akan bertarung pada Pilgub Bali, 15 Mei 2013. "Kami belum tahu motifnya apa. Kami masih menyelidiki dan menghimpun keterangan serta bukti-bukti atas insiden itu," tuturnya.

Meski menyesalkan insiden tersebut, namun Punglik mengaku akan tetap berhati-hati menyikapinya dengan tetap berpijak pada koridor hukum. Peristiwa ini bagi pengacara kondang di Bali ini sekaligus jadi ajang pendidikan politik terhadap kader PDIP, untuk tetap bisa mengimplementasikan sikap bahwa hukum adalah landasan atau menjadi panglima perang.

"Biar kami tidak rugi, karena dikatakan negara hukum, tetapi kami kemudian tidak patuh pada hukumnya," tambah Punglik. [yeh]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER