Jumat, 31 Oktober 2014 | 01:56 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Survei LSI untuk Pilgub Jabar Minim Sampel
Headline
foto ilustrasi - inilah.com/Agus Priatna
Oleh: Iwan Purwantono
nasional - Rabu, 6 Februari 2013 | 17:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, JAKARTA – Survei dengan teknik pengambilan sampel multistage random sampling yang digunakan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam survei pilgub Jabar dikritik sejumlah kalangan. Survei yang mengunggulkan pasangan Dede Jusuf-Lex Laksamana itu mempunyai margin error yang besar, yakni 4,8%.

Analis The Media Institute Tri Handhika menilai besarnya margin error itu dinilai terkait dengan minimnya biaya yang dikeluarkan untuk penelitian.

“Penetapan margin of error yang diambil LSI sebesar 4,8% tentunya terkait biaya yang dikeluarkan dalam penelitian. Semakin kecil margin of error, maka konsekuensinya biaya penelitian akan semakin besar,” ujar Analis The Media Institute Tri Handhika , saat menanggapi hasil survey LSI tersebut, Rabu (06/01/13) di Jakarta.

Menurut Dosen Pascasarjana Universitas Gunadharma dan Universitas Indonesia ini, bila semakin kecil margin of error yang ditetapkan maka semakin banyak responden yang harus diikutsertakan, demikian pula sebaliknya. “Banyak sedikitnya responden tentu akan berpengaruh pada biaya penelitian,” tegas Handhika.

Dengan jumlah pemilih di seluruh Jabar yang cukup besar, yaitu sebanyak 36,6 juta jiwa, sambung Handhika, ternyata LSI menggunakan sampel yang tidak memadai yaitu hanya 440 orang. “Ini tentu semakin memperkuat dugaan adanya kesalahan penghitungan dalam penetapan jumlah sampel dengan metode multistage random sampling tersebut,” urainya.

Sayangnya, lanjut Handhika, LSI tidak merinci berapa banyak stage atautahapan yang digunakan dalam penelitian. Padahal, semakin banyak tahapan yang digunakan dalam multistage random sampling mengakibatkan kesalahan prediksi menjadi semakin terakumulasi.

Selain itu, penetapan pilihan lokasi kelompok atau cluster pengambilan sampel juga menjadi masalah dalam survei Pilgub Jabar. Hal ini disebabkan kondisi geografis Jabar yang wilayahnya tersebar dengan populasi yang juga cukup besar.

Data Sistem Informasi dan Adnimistrasi Kependudukan (SIAK) 2011 menyebutkan, populasi penduduk Jabar saat ini kurang lebih sebanyak 46 juta jiwa, yang tersebar di 26 Kabupaten/Kota, 625 Kecamatan, dan 5.899 Desa/Kelurahan.

“Padahal, jika cluster yang ditetapkan LSI cukup besar maka kurang dapat menggambarkan kondisi pemilih Jabar secara keseluruhan. Begitu pun sebaliknya, jika cluster tersebut terlalu kecil maka kurang cocok untuk kondisi geografis Jabar yang cukup tersebar,” urai Handhika. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
MANG GATRU
Rabu, 13 Februari 2013 | 01:01 WIB
ho'oh.. kegiatan apapun membutuhkan biaya. apalagi survey se jabar. chiapa yang bayar gede itu ratingnya tertinggi, lumayan buat dongkrak popularitas
Ich
Kamis, 7 Februari 2013 | 11:36 WIB
Itu akal-akalan LSI aja, sama seperti di jakarta. Surveinya selalu meleset, tergantung yang bayar, LSI tidak bisa lagi dijadikan rujukan!!!! Tidak ilmiah!!!!!
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER