Rabu, 22 Oktober 2014 | 01:19 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mega-JK: Mengulang Kejayaan Abad Silam
Headline
Megawati Soekarno Putri dan Jusuf Kalla - inilah.com
Oleh: Nyoman Brahmandita
nasional - Senin, 28 Januari 2013 | 16:32 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Suhu politik di 2013 benar-benar kian memanas. Menjelang Pemilu 2014, berbagai partai dan makin rajin memoles jago-jago yang bakal diunggulkan dalam Pilpres 2014.

Banyak pihak dalam elit pimpinan partai maupun khalayak umum berharap agar terbentuk pasangan Megawati Soekarnoputri dan Muhammad Jusuf Kalla, masing-masing sebagai capres dan cawapres.

Peluang pasangan Mega-JK yang diharapkan banyak pihak memenangi Pilpres tersebut, sejauh ini memang belum dapat dipastikan. Namun pilihan menyandingkan Mega dengan JK itu cukup menarik untuk dicermati dari sisi sejarah nusantara.

Bila upaya menyandingkan Mega-JK menjadi presiden dan wapres RI menjadi kenyataan melalui Pilpres 2014 mendatang, maka hal tersebut seolah akan mengulangi kembali jalan sejarah nusantara yang terjadi sekitar 684 tahun silam.

Catatan sejarah nusantara yang tergurat dalam Kakawin Negarakertagama maupun Serat Pararaton, antara lain, menceritakan bahwa Kerajaan Majapahit yang dipimpin Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi yang bertahta sejak tahun 1328 hingga 1351.

Dalam memimpin Kerajaan Majapahit Ratu Tribhuwana yang didampingi suaminya, Kertawardhana, didukung pula oleh Maha Patih Gajah Mada. Keberadaan Maha Patih Gajah Mada inilah, yang menjadi kunci utama keberlangsungan tahta Ratu Tribhuwana.

Di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana, Gajah Mada mengucapkan sumpah Hamukti Palapa saat dilantik menjadi patih atau Maha Patih Majapahit pada 1334. Berawal dari sumpah itulah, dan atas restu Ratu Tribhuwana, Maha Patih Gajah Mada berjuang membawa Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan dan kejayaan menyatukan wilayah Kepulauan Nusantara.

Bercermin dari keberhasilan Tribhuwana–Gajah Mada itu, banyak kalangan memunculkan harapan besar bahwa pasangan Mega–JK dapat mewujudkan kembali kejayaan Nusantara pada tujuh abad silam itu.

Megawati Soekarnoputri dipercaya mewakili sosok figur Ratu Tribhuwana yang memimpin di saat Nusantara tengah berupaya mewujudkan kejayaannya. Di pihak lain Jusuf Kalla digambarkan sebagai sosok Maha Patih Gajah Mada yang memiliki kemampuan berjuang menjaga dan mempererat persatuan Nusantara sebagai negara multietnis, suku bangsa, dan beragam agama.

Dalam pandangan yang lebih teknis, Megawati sebagai presiden RI lebih banyak menjalankan peran sebagai kepala negara, sementara JK sebagai wakil presiden lebih banyak melaksanakan fungsi-fungsi kepala pemerintahan. Dalam hal ini, JK lebih berperan sebagai eksekutor kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah diputuskan oleh kepala pemerintahan.

Persoalannya sekarang, partai mana yang benar-benar akan mengusung pasangan Mega–JK sebagai capres dan cawapres dalam Pilpres 2014 mendatang? Banyak kalangan masyarakat yang berharap Mega–JK dapat bersama-sama memimpin negeri nusantara ini.

Sejauh ini banyak kader di lingkungan internal PDIP yang masih menjagokan Megawati sebagai capres dari partai banteng bulat ini. Dan Megawati juga tampaknya masih berharap dapat tampil kembali memimpin nusantara, meskipun partainya sendiri belum secara resmi memutuskan pencalonannya.

Sementara itu, dukungan publik maupun elit parpol secara perorangan memang mengalir cukup deras ke arah inisiator perdamaian Ambon, Poso dan Aceh ini. Namun, kenyataannya, JK sampai saat ini belum mendapatkan dukungan resmi dari partai tertentu. Tanpa ada dukungan resmi dari parpol, langkah JK menuju kursi RI 2 mendampingi Megawati, masih sebatas angan-angan.

Persoalan lainnya, bersediakah JK mengalahkan egonya untuk menjadi pendamping atau wakil Megawati sehingga kelak dapat memerankan fungsi Maha Patih Gajah Mada? Dan sebaliknya, apakah Megawati bersedia menghapus egonya untuk berpasangan dengan JK, mengingat dalam Pilpres 2004 dan 2009 lalu JK adalah lawan politiknya?

Bila Mega–JK telah sampai pada taraf kematangan individu sebagai negarawan, sehingga bersedia menekan egonya masing-masing demi panggilan kepentingan bangsa, maka harapan sebagian publik untuk melihat mereka tampil sebagai pasangan capres–cawapres cukup beralasan. Tinggal kemudian, mencarikan kendaraan politik yang bersedia mengusung pasangan calon ini.

Bila memang benar Partai Nasdem yang baru usai berkongres pekan lalu tidak hendak mencalonkan Surya Paloh maupun Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto maju dalam Pilpres 2014 mendatang, maka ada cukup harapan bagi pasangan Mega – JK dicalonkan oleh partai baru ini. Apakah ini terjadi? Kita tunggu tanggal mainnya [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
arifin yahya
Rabu, 30 Januari 2013 | 02:06 WIB
Semestinya mega bisa berkaca diri bahwa dia sama sekali tidak punya komunikasi utk menjadi presiden ..si mega ini cuma di komunikasikan untuk jadi presiden oleh Jaringan2 Imperialis yg TIDAk MENGHENDAKI NKRI ini menuju Negara yg Besar...
rizal
Senin, 28 Januari 2013 | 20:39 WIB
I love JK, saatnya the next "ayam jantan dari Timur" memimpin negara ini.
sunar
Senin, 28 Januari 2013 | 17:11 WIB
harusnya JK yg jadi Presiden, bukan Mega yang sudah tidak pantas lagi
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER