Kamis, 18 September 2014 | 10:39 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Duel Ruhut Vs Anas, Siapa Tergilas?
Headline
inilah.com
Oleh: Herdi Sahrasad
nasional - Sabtu, 15 Desember 2012 | 11:51 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Gonjang ganjing politik terus melanda internal Demokrat. Pertarungan politisi Demokrat Ruhut Sitompul melawan kubu Anas Urbaningrum makin memuncak. Ruhut ingin balas dendam atas pencopotannya sebagai elite DPP Partai Demokrat. Kekecewaannya diumbar ke ruang publik menjadi amunisi bagi kegaduhan politik.

Faksionalisme di tubuh Demokrat begitu kental sehingga pasca-kepemimpinan SBY nanti (2014) hampir pasti akan mengubah peta politik internal parpol biru itu. Konflik dan fragmentasi bakal menggumpal karena masing-masing faksi sudah mengkristal membangun kepentingannya sendiri.

SBY bukan tidak menyadari hal itu, namun pengaruhnya ke dalam Demokrat sudah melemah sejak skandal Century, Hambalang dan Wisma Atlit menggerus legitimasi Demokrat dan istana dengan begitu cepat. Skandal itu seakan melahirkan jutaan rayap yang menggerogoti batang kayu Demokrat yang kian merapuh dipukul badai korupsi.

Dalam hal ini, Ruhut meyakini pencopotan dirinya dari kepengurusan Dewan Pimpinan (DPP) Partai Demokrat karena ia melontarkan agar Anas Urbaningrum mundur sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Sebelumnya, Ruhut menjabat Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Demokrat. Ruhut mengaku keputusan itu tak akan mengubah sikapnya.

Seperti diberitakan, pascaterungkapnya kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Hambalang, Ruhut terang-terangan meminta Anas dan kader lain yang disebut-sebut terlibat korupsi untuk bersikap legowo dengan mundur dari kepengurusan partai. Pencopotan dirinya dari jabatan Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Demokrat membuatnya berang.

Ruhut alias Poltak bertekad, terus mendesak Anas untuk mundur demi mencegah karamnya Demokrat pada Pemilu 2014. Meski tak memiliki jabatan di DPP, Ruhut masih menjadi Wakil Ketua Fraksi Demokrat Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di MPR.

Bahkan, Ruhut sudah mempunyai rencana jika Anas dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi. "'Badut-badut' itu nanti semua akan tergeser. Kalau Anas jadi tersangka, aku lengserkan semua," tandasnya. Ruhut khawatir Anas terjerat ketika mendekati Pemilu 2014 karena bakal membuat Demokrat terjerembab.

Kini, Ruhut tak memegang jabatan apa pun di DPP Demokrat. Ruhut mengatakan, sejak setahun lalu, dirinya sudah diminta dicopot dari kepengurusan DPP oleh pengurus DPP lainnya. Salah satunya, menurut Ruhut, adalah I Gede Pasek Suardika. Permintaan itu disampaikan kepada Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Di dalam Demokrat, nyali Ruhut sudah siap tempur. Agaknya sejarah sedang menguji, mampukah Ruhut mendesak para pesaing politiknya di Demokrat agar mundur atau justru dirinya yang bakal hancur? [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER