Minggu, 26 Oktober 2014 | 05:04 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Generasi 1928 Lebih Jujur!
Headline
ist
Opini: Sjarifuddin
nasional - Rabu, 17 Oktober 2012 | 15:25 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Banyak yang menyatakan, para pemuda yang mengikrarkan Sumpah Pemuda 1928 di rumah Sie Kong Liong, Jalan Kramat Raya No 106 Jakarta Pusat terdiri diri generasi muda yang jujur.

Bukan karena pada waktu itu belum ada proyek-proyek infrastruktur, tetapi lantaran saat itu mereka melulu diliputi semangat mewujudkan persatuan, kesatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Bila melihat daftar peserta Kongres Pemoeda Kedua dibawah ini, boleh dibilang tak ada yang jadi koruptor. Mereka menjadi birokrat, pengusaha dan seniman yang jujur. Perilaku jujur tersebut terbawa terus sampai wafat.

Seperti Soegondo Djojopoespito (Ketua PPPI), RM Djoko Marsaid (Wakil Ketua/Jong Java), Mohammad Jamin (Sekretaris/Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Bendahara/Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Pembantu I/Jong Islamieten Bond), R Katja Soengkana (Pembantu II/Pemoeda Indonesia), Senduk (Pembantu III/Jong Celebes), Johanes Leimena (Pembantu IV/Yong Ambon) serta Rochjani Soe'oed (Pembantu V/Pemoeda Kaoem Betawi)

Sementara di jajaran peserta ada Abdul Muthalib Sangadji, Purnama Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abu Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo, Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu, Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder Djohan, SM Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr Pijper, Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, dan Soejono Djoenoed Poeponegoro.

Juga ada anggota lainnya, Halim, RM Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi, Soekowati (Volksraad), Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo, Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo, Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad Roem, Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin (Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage Rudolf Soepratman, serta Nona Tumbel.

Para peserta Kongres Pemoeda Kedua itu menghasilkan kesepakatan yang sangat mendasar yakni kesepakatan tentang tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Ini yang menyebabkan ketiga unsur itu tak lagi menjadi batu sandungan setelah Indonesia merdeka.

Berbeda dengan India yang mempunyai dua bahasa nasional yakni Hindi dan bahasa Inggris. sedangkan Afrika Selatan punya sekitar sebelas bahasa resmi. Rakyat di kedua negara sempat kisruh lantaran bahasa.

Tak menjiwai

Ironisnya, hasil Kongres Pemoeda Kedua itu lama kelamaan tidak menjiwai generasi-generasi berikutnya. Nasibnya boleh dibilang sama dengan pengabaian terhadap proses pembuatan naskah Proklamasi atau hasil Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955.

Lebih parah lagi, sebagian kecil generasi muda ingin mengganti Pancasila dengan Demokrasi, Kerakyatan dan Hak-hak Asasi Manusia, sedangkan UUD’45 diubah-ubah. Hanya bendera Merah Putih yang tidak diungkat-ungkit, walaupun sama dengan warna bendera Monaco.

Lunturnya penghargaan kepada unsur-unsur kejuangan itu sangat mempengaruhi perilaku dalam memajukan Indonesia. Bagi mereka semuanya itu sudah masa lalu, yang lebih penting adalah mensejahterakan diri sendiri atau kelompok dengan cara apapun.

Faham di atas ditopang oleh orientasi pemerintahan Presiden Soeharto yang cenderung membiarkan penyelewengan ekonomi, namun bersikap tanpa ampun terhadap pembangkangan politik. Pemerintah memang membentuk Komisi Wilopo atau Menpan JB Sumarlin melakukan sidak di RS Ciptomangunkusumo, namun semuanya tak berarti.

Pembiaran itu membuat koruptor dan generasi penerusnya nyaman korupsi dan menjadikannya bagian dari kehidupan. Mereka yang bersikap kritis malah dilibas dan disisisihkan. Apa yang dikatakan pujangga Ronggowarsito benar-benar menjadi kenyataan.

Mochtar Lubis menyebut kebiasaan korupsi itu karena keinginan mengambil jalan pintas atau tidak suka bekerja keras dalam meraih kekayaan. Perilaku lainnya antara lain boros, munafik, senang jadi priyayi, cepat cemburu, dengki dan mudah mabuk kekuasaan.

Diperkirakan, tumpukan lembaran uang hasil korupsi selama ini mungkin sudah sampai ke bulan. Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), potensi kerugian negara akibat korupsi mencapai lebih dari Rp1 triliun per tahun. Pada tahun lalu misalnya, terdapat tiga besar sektor yang paling merugikan negara akibat korupsi. Pertama, sektor investasi pemerintah, dengan potensi kerugian negara mencapai Rp439 miliar.

Kedua, sektor keuangan daerah dengan potensi kerugian negara mencapai Rp417,4 miliar. Ketiga, sektor sosial kemasyarakatan, yakni korupsi yang kasusnya berkaitan dengan dana-dana bantuan yang diperuntukkan bagi masyarakat, yang diperkirakan mencapai Rp299 miliar.

Dr. Sritua Arief, ekonom hebat namun tak dipakai Orde Baru, pernah menyatakan para pejabat pemerintah melakukan penggelapan langsung dana negara dan melakukan pungutan liar terhadap rakyat. Pejabat pusat maupun daerah juga bekerjasama dengan pengusaha (kalangan swasta ) untuk memberi konsesi-konsesi dan monopoli ekonomi.

Belakangan para anggota legislatif juga aktif dalam urun rembug itu. Mereka membantu memuluskan proses ketidakbenaran tersebut sesuai dengan lingkup kerja dan tanggung jawabnya. Setidak-tidaknya hal ini terlihat dari sejumlah pengungkapan kasus akhir-akhir ini.

Alhasil bila pengambilan keputusan pemerintah sudah sarat dengan kepentingan swasta, maka ia semakin ‘sah’ setelah didukung segelintir anggota DPR yang terhormat. Pada akhirnya kepentingan publik tersingkirkan, sedangkan proyek yang secara ekonomis menguntungkan ketiga ‘kelompok istimewa’ memperoleh alokasi dana yang besar.

Korupsi berjamaah itu menyebabkan dampak negatif terhadap kesejahteraan rakyat karena anggaran mengalir ke proyek-proyek diluar kepentingan rakyat. Meskipun begitu korupsi berdampak ‘positif’ terhadap sektor konsumsi, terutama barang-barang mewah.

Barangkali, berkat dukungan penerimaan hasil korupsi itu Indonesia menjadi pasar produk mewah terbesar di Asia Tenggara. Busana mahal, aksesoris dan mobil-mobil mewah serta gadgets-gadgets canggih semuanya laris manis diborong konsumen Indonesia. Orang Indonesia juga membeli apartemen super mahal di Singapura dan kota-kota besar dunia lainnya.

Bila melihat mereka yang baru disangka atau dijebloskan ke penjara karena korupsi, maka kita selayaknya pantas prihatin sebab banyak di antara mereka yang tergolong generasi muda. Generasi yang seharusnya mencontoh perilaku peserta Kongres Soempah Pemoeda Kedua.

Para koruptor itu lupa dengan peringatan Tuhan yang akan membalas di dunia maupun akhirat setiap penyelewengan. Mereka juga lupa bahwa makanan yang diperoleh dengan uang haram akan menjadi daging dan darah yang akhirnya mempengaruhi pola pikir serta pola tindak.

Sungguh memilukan bila melihat para koruptor masih senyum-senyum. Dimanakah kejujuran itu kamu sembunyikan? [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
rizk-mentari
Rabu, 17 Oktober 2012 | 19:10 WIB
para muda sangat bagus perjuangnya
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER