Sabtu, 20 Desember 2014 | 07:12 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Penjemputan Paksa Penyidik KPK
Ini Motif Polisi Ungkap Kasus Novel 8 Tahun Silam?
Headline
ist
Oleh: Renny Sundayani
nasional - Sabtu, 6 Oktober 2012 | 04:05 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pihak Kepolisian yang datang ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jumat (5/10/2012) hendak menangkap salah satu penyidik KPK bernama Kompol Novel Baswedan.

Oleh Polda Bengkulu, Novel ditetapkan sebagai tersangka kasus penembakan 6 pencuri walet pada tahun 2004. Penembakan berlangsung di pantai panjang Bengkulu. Kasus yang sudah berlangsung 8 tahun lalu, kenapa baru sekarang dibuka lagi?

"Kasus ini sudah 8 tahun. Ada apa ini?," kata aktivis HAM Usman Hamid di kantor KPK, Kuningan Jakarta, Sabtu (6/10/2012) dini hari.

Usman menilai, wajar muncul kecurigaan. Sebab, kasus ini sudah lama. Apalagi, momen sekarang Novel dikenal sebagai salah satu penyidik di kasus Simulator SIM yang menyeret jenderal aktif Polri, Djoko Susilo yang kini sebagai tersangka.

Usman menilai, tidak seharusnya polisi menunggu proses begitu lama untuk mengusut Novel jika ia melakukan tindakan pidana. Polisi bisa memproses secara pidana tanpa harus menunggu laporan jika ada indikasi pelanggaran pidana.

"Kalau ada indikasi pidana, harusnya diproses dong," kata Usman heran.

Di tempat terpisah, hampir bersamaan Mabes Polri juga menggelar konferensi pers di Mabes Polri, Trunojoyo Jakarta. Dalam keterangannya, Kombes Dedy Irianto, Direskrimum Polda Bengkulu membantah hal itu.

"Memang kasus lama tapi kebetulan ada laporan yang masuk dan kewajiban kami sebagai Polri menindaklanjuti sebagai penyidik," elaknya, Sabtu (6/10/2012) dini hari. Laporan dari korban tersebut masuk sejak 1 bulan lalu.

Dia beralasan, penangkapan Kompol Novel ini murni tindak pidana. Tidak terkait dengan upaya untuk melemahkan KPK. "Jadi kami tidak punya tendesi apapun kecuali menyangkut tindak pidana murni."

Dia mengatakan, dari keterangan saksi-saksi yaitu bawahan Novel ketika bertugas di wilayah Polda Bengkulu, disebutkan bahwa Novel adalah orang yang melakukan penembakan. Sedangkan versi Novel, yang melakukan penembakan itu adalah anak buahnya.

"Satu orang ternyata yang ditembak oleh Iptu Novel (saat itu pangkat Novel masih Iptu, sekarang Kompol) ini adalah tersangka yang sama sekali tidak tahu menahu, tapi ditangkap, ditembak, dan dihukum selama 6 bulan," jelasnya. [gus]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER