Sabtu, 22 November 2014 | 00:37 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pemberitaan HIV Harus Berempati Kepada Korban
Headline
Foto: Ilustrasi
Oleh: Dewa Putu Sumerta
nasional - Minggu, 23 September 2012 | 22:45 WIB

INILAH.COM, Denpasar - Wartawan senior dan pemerhati HIV/Aids Saiful W Hasibuan menyatakan selama ini pemberitaan seputar HIV/Aids dinilai masih belum berempati kepada korban. Menurutnya sejumlah pemberitaan di media masih berkutat pada data statistik tanpa didukung penjelasan memadai sehingga justru kurang membantu upaya pencegahannya di masyarakat.

Saiful mengaku sering didapati sajian berita yang hanya mengejar sensasional dengan data-data mencengangkan namun miskin argumentasi. "Berita yang muncul di media lebih banyak sesansional, yang justru akhirnya membuat masyarakat takut dan resah, jauh dari empati," ungkap wartawan senior dan pemerhati HIV/Aids Saiful W Hasibuan, dalam lokakarya HIV dan Media di Sanur, Minggu (23/9/2012).

Menurut Saiful, penyajian berita selama ini yang masih menonjolkan statistik tanpa didukung penjelasan akan sangat sulit diharapkan bisa merubah keadaan dimana masalah virus HIV yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Berbeda dengan penyakit beerbahaya lainnya seperti kanker, diabetes, penyakit Aids kurang mendapat perhatian serius masyarakat padahal penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang mengancam keselamatan manusia.

Untuk itu Saiful berharap Media dapat membantu dan bisa memberikan pencerahan, edukasi dan jangan terjebak pada pemberitaan yang mengejar sensasi semata. Jika Media hanya masih mencari sensasi, sehingga Saiful berpendapat Media seolah kehilangan induk dan tidak tahu harus bagaimana mengubadah paradigma agar masyarakat bisa berempati. Saiful juga berharap hendaknya pemberitaan Media tentang seputar Aids bisa membangun kesadaran masyarakat sehingga bisa mendekat, bukan sebaliknya menjauh.

Saiful juga meminta Media hendaknya lebih memberi empati kepada korban dan keluarganya agar tidak mendapat labelisasi negatif di masyarakat. Selain itu, pemberitaan Media juga dapat memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat seputar penyakit tersebut sehingga menempatkannya sebagai subyek serta membuka kesadaran, bahwa HIV telah menjadi ancaman nyata sehingga publik makin waspada agar mampu bagaimana mencegah perilaku rentan seperti berganti pasangan dengan yang berisiko Aids dan penggunanan jarum suntik narkoba.

Hal yang sama juga di utarakan Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Bali Made suprapta dimana saat ini ia merasakan masih minim pemberitaan seputar HIV dan belum banyak ditemukan ragam jurnalisme yang berempati terhadap korban. Suprapta juga mengakui jika uraian data angka tentang jumlah penderita dan prevalensi penyakit HIV dirasa belum cukup mampu bisa menekan angka penyebaran penyakit serius ini.

Suprapta menambahkan, sebaiknya Media jangan hanya menyoroti sisi negatifnya namun bagaimana beratnya perjuangan hidup korban dan kelurganya. Media harus mampu merubah paradigma dengan memberikan empati kepada korban dan keluarganya serta mampu memberi semangat bagaimana korban HIV/Aids bisa bangkit, sembuh dan terus berkiprah di masyarakat.[dit]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER