Kamis, 24 Juli 2014 | 21:38 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Terkait Ancaman LSM Inggris
Ayo, Mari Bela Presiden Kita
Headline
Presiden SBY - inilah.com/Ardhy Fernando
Oleh: Derek Manangka
nasional - Jumat, 21 September 2012 | 08:13 WIB

INILAH.COM. Jakarta - Reaksi masyarakat Indonesia terhadap ancaman yang dilayangkan kepada Presiden SBY jika ia berkunjung ke Inggris dalam waktu dekat ini, kelihatannya datar-datar dan dingin saja. Seakan tidak peduli, masa bodoh apapun yang terjadi pada diri Presiden dan Kepala Negara RI tersebut.

Sikap dingin, tidak peduli dan terkesan masa bodoh ini tercermin dari sepinya reaksi terhadap ancaman yang sudah disebarkan oleh aktivis di Inggris tersebut, sekalipun Jubir Presiden telah menegaskan, ancaman itu oleh SBY dirasakan cukup mengganggu.

Demikian mengganggunya ancaman itu sehingga telah mengundang Menko Polhukham RI meminta jaminan keselamatan jiwa Presiden kepada pemerintah Inggris. Dinginnya reaksi ini mungkin saja sebagai wujud kekecewaan mayoritas rakyat Indonesia atas kinerja Presiden SBY.

Bisa juga masyarakat tidak peduli (lagi) walaupun Presiden SBY ditangkap di luar negeri. Tidak peduli sebab rakyat merasa SBY tidak peduli (lagi) kepada rakyatnya. Rakyat menilai waktu yang digunakan Kepala Negara untuk melakukan lawatan ke manca negara, terlalu banyak.

Perjalanan ke luar negeri oleh Presiden SBY dan Ibu Negara lebih banyak memboroskan uang negara ketimbang memberi manfaat bagi jutaan rakyat Indonesia. Perjalanan yang seharusnya dibatasi, justru dipaksakan. Intinya rakyat kecewa dengan SBY sebagai pemimpin, sehingga rakyat tidak merasa memilikinya selaku pengayom.

Namun apapun alasannya, sikap rakyat seperti ini, tidak sehat bagi sebuah bangsa yang besar. Sehingga sebelum terlambat dan merambat ke persoalan yang lebih banyak, rakyat Indonesia harus membela Presiden.

Tunjukkan kepada dunia internasional bahwa sayembara LSM Internasional yang memberikan hadiah sampai US$80 ribu apabila bisa menangkap hidup-hidup Presiden SBY, jelas merupakan penghinaan. Mengapa disebut sebuah penghinaan?

Sebab sangat jelas pihak yang memberi iming-iming hadiah itu, bukan siapa-siapa. Bukan lembaga yang akuntabel. Kalaupun dia mengatas namakan sebagai advokat bagi daerah dan rakyat Papua, yang bersangkutan bukan seorang yang punya legitimasi untuk mengatas namakan Papua.

Sayembara itu mengandung sensasi murahan dalam rangka menarik perhatian masyarakat yang lebih luas. Sebaliknya yang harus bereaksi adalah rakyat sebagai pembela bangsa dan negara.

Lakukan tindakan yang resiprokal. Sebarkan sayembara untuk mengkounter penghinaan itu, yang isinya menyebutkan, siapa yang bisa menangkap si penyebar sayembara itu akan diberi hadiah.

Pikirkan hadiah yang menarik, sehingga si penghina rakyat dan bangsa Indonesia itu, sadar bahwa tindakannya sudah membangkitkan sentimen nasionalisme di Indonesia. Yang paling mendasar penyebaran sayembara itu jangan dianggap sebagai hal sepele yang bisa dilokalisir.

Bahkan kalau Presiden SBY mau mengerem nafsu untuk jalan-jalan ke luar negeri, batalkan saja perjalanan ke Inggris tersebut. Walaupun kunjungan itu merupakan balasan atas lawatan PM David Cameron serta terkait undangan Ratu Inggris, pembatalan tidak akan menimbulkan masalah. Kalaupun bermasalah yang terkena dampaknya justru pemerintah Inggris.

Wajar dan sah-sah saja apabila SBY mau membatalkan kunjungan ke Inggeris tersebut. SBY sudah pernah membatalkan kunjungan ke Belanda di menit-menit terakhir, akibat adanya aktifis Republik Maluku Selatan (RMS) yang juga ingin mempermalukan Presiden RI di negara itu.

Lalu mengapa tidak dilakukan hal yang sama? Pembatalan penting sebab sayembara itu sudah merupakan sebuah penghinaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sekalipun yang dihina hanya seorang SBY, namun mengingat sampai 2014 masih menjabat Presiden sehingga ia merupakan simbol negara, maka yang ikut merasa terhina seharusnya seluruh rakyat Indonesia dari Aceh hingga ke Papua.

Yang dikuatirkan jika reaksi SBY tidak cukup efektif, penghinaan serupa akan terus berlanjut. Jenderal Soeharto, ketika sebagai Persiden RI pernah diganggu oleh aktifis-aktifis internasional, tapi ia langsung menentukan sikap.

Australia yang jaraknya begitu dekat dengan Indonesia, pernah merasakan bagaimana sakitnya dihukum oleh Indonesia. Caranya, Presiden Soeharto tidak mau berkunjung ke negara itu selama pemerintah federal tidak bisa menjinakkan para aktifis yang anti Indonesia, anti militer RI dan anti terhadap kepemimpinannya.

Kini bola di tangan SBY, bagaimana reaksi yang dia anggap paling tepat. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER