Senin, 22 Desember 2014 | 10:28 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pers di Era Demokrasi Indonesia Raya (1)
Jakarta Memilih, INILAH Grup Bersikap
Headline
inilah.com/Ardhy Fernando
Oleh: Derek Manangka
nasional - Senin, 17 September 2012 | 07:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM. Jakarta - Pendiri INILAH Grup Muchlis Hasyim Yahya (MHJ) merupakan generasi baru di kancah persaingan pers Indonesia. MHJ baru mendirikan www.inilah.com empat tahun lalu, tidak lama setelah lepas dari jabatan Press Officer Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Namun dalam waktu relatif singkat itu MHJ berhasil meluncurkan beberapa media lainnya di Jakarta dan Jawa Barat plus sebuah percetakan baru. Seperti INILAHJabar.com, INILAHKoran, INILAHReview, yangmuda.com hingga Jakartapress.com.

Dalam hal jam terbang dan kesuksesan bisnis media, MHJ belum bisa disetarakan dengan generasi Surya Paloh (Media Indonesia Grup), Dahlan Iskan (Jawa Pos Grup) apalagi Jakob Oetama (Kompas Grup).

Akan tetapi dalam soal idealisme, cita-cita pers, komitmen dan integritas, lelaki Bugis kelahiran 1964 ini tidak bisa dianggap sebagai anak bawang. Karena ia memiliki kesamaan idealisme dengan tiga tokoh pers nasional di atas. Ia memang ingin ikut membangun pers Indonesia yang punya karakter dan sikap.

MHJ tidak ingin pers hanya tenggelam dalam euforia atau sekadar eksis dengan mengikuti arus. Salah satu contoh sikapnya terhadap pengkategorian dan pemeringkatan Indonesia sebagai negara gagal. Hampir semua media membenarkan pemeringkatan itu.

Sementara INILAH atau MHJ tidak setuju apalagi pers Indonesia ikut membesar-besarkan beritanya. Rezimnya boleh gagal, tetapi negaranya (Indonesia) tidak! Karena, sejatinya Indonesia merupakan negara kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang hebat.

Labelisasi negara gagal bagi Indonesia, merupakan bagian dari provokasi LSM internasional yang berkepentingan untuk mengkerdilkan Indonesia. Tujuannya untuk membuat generasi muda Indonesia menjadi apatis dan kerdil.

Itu sebabnya pers Indonesia harus berani menolaknya. Pers Indonesia harus bersikap dengan membela negaranya bukan menyokong LSM internasional atau orang pintar berkewarganegaraan asing. Pers Indonesia tidak perlu khawatir dituding tidak netral, tidak independen hanya karena membela sebuah kepentingan nasional.

Adagium yang menyebutkan bahwa pers itu harus netral, independen dan non-partisan, menurut mantan Kepala Biro Media Indonesia di PBB, New York, AS itu, sebetulnya hanya sebuah jargon. Mudah diucapkan tapi dalam realitanya sulit dilaksanakan. Bahkan dia berani bertaruh, pers di Indonesia yang sudah menerapkan demokrasi liberal, pada hakekatnya cukup banyak yang partisan.

Di negara-negara yang liberal dimana demokrasi sudah jauh lebih matang dan berkualitas, pers pun pada akhirnya tidak bisa bersikap independen secara murni. Keberpihakan, sesuatu yang tak bisa dihindari. Keberpihakan merupakan bagian dari sikap dan jati diri. Seperti kebijakan Washington Post dan New York Times yang mendukung Partai Republik dan Partai Demokrat.

Jadi bagi MHJ, yang lebih penting peran yang harus dilakukan oleh pers atau media di Indonesia yaitu: to inform (menginformasikan), to educate (mendidik), to entertain (mengibur) dan to influence (mempengaruhi).

Inilah yang kemudian menjadi dasar kebijakan redaksional yang kemudian dijadikan pegangan oleh para awak INILAH Grup dalam memilah-milah mana berita, gambar dan opini yang patut didisiminasi kepada publik.

Menghadapi Pilkada 2012 DKI, juga demikian. INILAH bersikap. Dan sikap itu, tidak harus mengikuti eforia, Sikap itu harus berkarakter. Sikap itu harus dilandaskan pada kejujuran dan nurani dan menghormati perbedaan sikap tak peduli apapun alasannya. Kejujuran lahir, bukan karena pesanan.

Ketika putaran pertama Pilkada DKI dimulai, sikap INILAH adalah mendukung dua pasang calon, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini (PKS-PAN) dan Faisal Basri-Biem Benyamin (Independen). Tentunya, INILAH memberi porsi normal kepada incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (PD), sebagai penghormatan kepada 57,87% rakyat yang memilihnya pada 2007.

Penyikapan kepada pasangan Hidayat-Didik, didasarkan pada alasan, kekuatan PKS dan konstituen Islam di Jakarta, cukup signifikan. Sementara kepada Faisal-Biem, lebih karena simpati pada jejak rekam keberadaan dan kesederhanaan pasangan ini.

Kendati mendukung dua pasangan di atas, Hidayat-Didik dan Faisal-Biem, INILAH tidak memberi perlakuan istimewa kepada mereka. Pemberitaan tentang aktifitas mereka selama putaran pertama, sesuai apa yang mereka lakukan dan sifatnya umum saja.

Di sisi lain dalam putaran pertama itu INILAH juga membuat garis tegas sebagai sebuah sikap. Yaitu menentang kandidat yang masih menjabat Kepala Daerah di daerah lain. Kebetulan di putaran pertama itu ada dua calon yang berstatus Kepala Daerah. Alex Noerdin (Golkar - Gubernur Sumatera Selatan) dan Joko Widodo (PDIP - Walikota Solo).

Pada putaran pertama itu, penyikapan INILAH tetap dilakukan secara terukur. Tidak dengan membabi buta. Mengapa? Karena sejak tampilnya enam pasang calon dalam Plkada DKI, INILAH memperkirakan, putaran kedua tak terhindarkan.

Walaupun hampir semua survei memperhitungkan incumbent Fauzi Bowo dan pasangannya akan memenangkan satu putaran, INILAH, tidak terpengaruh dengan perkiraan itu. Kebetulan saja hasil putaran pertama sesuai perkiraaan INILAH.

Baru pada putaran kedua, INILAH bersikap dengan memihak mendukung pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan bukan Jokowi-Ahok. Sikap yang tidak mendukung Joko Widodo ini sebetulnya sebuah konsistensi. Joko Widodo seharusnya menyelesaikan terlebih dahulu tugasnya lima tahun di Solo. Sebab dia sendiri bersumpah dan disumpah untuk tugas tersebut.

Janji yang diberikan kepada 530 ribu penduduk Solo bahwa ia akan bekerja untuk mensejahterahkan penduduk Solo, juga sama dengan janjinya kepada 12 juta warga Jakarta atau 250 juta penduduk Indonesia. Padahal mensejahterakan 530 ribu rakyat Solo sama saja dengan mensejahterakan 530 ribu rakyat Indonesia. Joko Widodo tidak boleh lari dari sumpah atau janjinya.

Memilih pemimpin adalah hak, sesuai keyakinan masing-masing. Namun yang amanah adalah pemimpin yang tidak meningggalkan rakyat di tengah jalan untuk ambisi pribadi atau kelompoknya.

Dan penyikapan untuk tidak mendukung Joko Widodo lantas mendukung Fauzi Bowo, dilakukan secara sadar. Tidak malu-malu apalagi sembunyi-sembunyi. Bahwa dukungan dan penyikapan itu ada risiko, juga disadari. Itulah makna sebuah integritas.

Menanggapi isu SARA dan ada kecenderungan Fauzi-Nachrowi yang disudutkan, INILAH pun bersikap. Misalnya tidak setuju jika Rhoma Irama dituding menyebarkan SARA gara-gara dakwahnya di sebuah mesjid. Dalam dakwah itu Rhoma antara lain meminta agar warga Jakarta yang beragama Islam, tidak mendukung calon yang non-muslim.

Pembelaan terhadap Raja Dangdut itu bukan karena nama besarnya. Rhoma dibela karena dakwah itu memang tempatnya di dalam mesjid, di depan komunitas Islam. INILAH menentang sikap yang menyalahkan Rhoma, dengan latar belakang pemikiran bahwa kalau Rhoma dikriminalisasi seperti itu, hal serupa dapat terjadi pada seorang pendeta atau pastor.

Apa yang akan terjadi di Ibu Kota bahkan di NKRI tercinta ini apabila seorang pendeta, pastor yang berkhotbah di dalam gereja, kemudian dipersalahkan karena dia menghimbau warga Kristen untuk memilih calon pemimpin yang beragama Nasrani?

Yang disikapi INILAH adalah jangan sampai dakwah, khotbah yang disampaikan di tempat-tempat ibadah kemudian dikriminalisasi. Kalau terjadi kriminalisasi seperti itu, persoalannya bisa menjadi preseden buruk. Seseorang hadir di sebuah mesjid atau gereja. Ia kemudian merekam khotbah tersebut. Lalu dicari potongan khotbah yang dianggap menginsinuasi umat. Si pengkhotbah kemudian dilaporkan dengan tuduhan menginsinuasi dengan cara menyebarkan SARA.

Jadi terhadap isu sensitif seperti itu, INILAH tidak segan-segan bersikap. Sekalipun bersikap hanya sendirian, tidak masalah.

Dari kantor pusat INILAH, Jl. Rimba 42, Jakarta Selatan, jajaran kami, cukup kaget menyaksikan silang pendapat yang tidak didasarkan pada parameter yang sama. Sebab dukungan INILAH terhadap pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, oleh sekelompok pekerja pers dianggap sebagai perbuatan yang melawan kekuatan mayoritas.

Yang paling tidak sehat, berbagai kritikan terhadap INILAH dilakukan dengan cara tidak sportif dan tak beretika. Melalui media umum maupun dalam bentuk blog dan forum di media-media on-line, pengeritik tidak segan-segan memfitnah. Yang disayangkan pemfitnah tapi hanya berani menggunanakan nama samaran atau nama palsu.

Demi sebuah demokrasi dan kebebasan pers, INILAH mengajak semua yang berkepentingan untuk meliput Pilkada DKI sebagai sebuah pesta demokrasi. Mari kita buat liputan Pilkada secara profesional, berkualitas sambil mengingatkan kembali masyarakat bahwa perbedaan itu merupakan sesuatu yang wajar dan sangat berharga di negara pluralis sesuai cita-cita demokrasi Indonesia Raya. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
6 Komentar
Agus Suherman
Selasa, 18 September 2012 | 14:40 WIB
Salut! Salut! Salut! Sudah seharusnya semua orang tidak lagi bermimpi dengan jargon media independen. Bahkan yg independen sekalipun pada dasarnya adalah memihak! INILAH telah berani menyuarakan sikapnya ditengah arus deras MEDIA MUNAFIK yg bilang independen tapi secara terselubung namun sistematis menggiring pembacanya untuk memilih satu pasangan dengan opini opininya seperti KOMPAS yg ngaku-ngaku independen tapi mengarahkan pembacanya unt memilih Jokowi. Jelas yg sperti itu adalah media MUNAFIK! Jadi saya salut dengan INILAH yg berani menunjukkan sikap. Apapun pilihan INILAH, saya menghargainya! SALUT! Sejak saat ini saya akan jadikan INILAH sbg media online PERTAMA dan WAJIB saya buka begitu bangun tidur menggantikan DETIK yg sdh nggak jelas arahnya dan nyaris menjadi media esek esek.
yusuf
Selasa, 18 September 2012 | 10:25 WIB
inilah.com berjuanglah terus untuk menyuarakan kebenaran,, ini adalah medan perjuangan anda
Moh Alvin
Selasa, 18 September 2012 | 03:29 WIB
Salut atas ketegasan sikap Inilah.com. Memilih kandidat pemimpin adalah hak bagi setiap individu maupun institusi. Alasan memilih si "A" dan tidak memilih si "B" adalah alasan subyektif yang juga merupakan hak subyektif bagi setiap individu maupun institusi. Maju terus Inilah.com degan sikap ksatria Anda.
Atmoko
Senin, 17 September 2012 | 17:11 WIB
Sangat di sayangkan kalau pers hanya mendukung calon berdasarkan opini sendiri. Pers seharusnya independent, tidak memihak. Biarkanlah pembaca yang menilai.
krisman pandiangan
Senin, 17 September 2012 | 13:39 WIB
Salut...akhirnya bos redaksi bersuara untuk menjelaskan posisi keberpihakan INILAH.COM dalam pilkada DKI 2012. Saya adalah pembaca regular Inilah.com, untuk gaya jurnalistiknya yang lugas, tajam, rada spekulatif tapi terukur. Dalam banyak pemberitaan, saya kadang tidak setuju dengan angle dan substansi berita, tetapi saya tetap apreseasi, karena begitulah sifat dari sudut pandang, subjective. Namun untuk kasus pilkada DKI 2012 ini, dimata saya, Inilah.com telah membuat langkah blunder jurnalistik yang parah. Pemihakan anda dan team redaksi telah sampai pada taraf pemihakan (hampir) buta. Berita dan sudut pandang pemberitaan yang team anda suguhkan seakan-akan memperlihatan bahwa Inilah.com adalah anggota team kampanye Foke-Nara. Lebih parah lagi, dalam hal mempresentasikan diri lepada para pembaca (baca: pemilih), model pemihakan Inilah.com lebih banyak membawa efek negatif terhadap Foke, sama persis seperti Efek Nara. Setiap artikel yang anda muat; baik itu berita mapun opini, hanya membawa pandangan sinis dari pembaca. Bagi saya pribadi, muncul pikiran; Team Redaksi anda tidak cukup qualified atau Inilah.com sudah dibayar. Anda tidak perlu harus jadi pluralis untuk mengecam Bang Rhoma, atau Nara untuk komentar2 rasis yang narrow minded. Anda hanya perlu pake logika untuk bisa menilai komentar ‚??pemimpin harus muslim‚?? atau ‚??kalau mau milih, tanya pak Ustad‚?? adalah kontra produktif dalam siklus kampanye politik. Sudut pandang agama hanya akan memberikan efek positif, apabila dikelola dengan cara yang serius dan substansi yang kuat. Bukan serampangan seperti yang ditulis oleh anggota anda. Anda tahu dong, beberapa hari yang lalu Wall Stree Journal Report (koran ekonomi kondang yang dekat dengan kaum konservatif di AS), memuat seruan kririk satu halaman kepada team Romney; karena, terlepas dari buruknya ekonomi AS, team romney masih tertinggal dari obama dalam polling.WSJR adalah pendukung vokal Romney, tak perlu diragukan lagi, namun mereka (sebagai media) cukup cerdas untuk memposisikan diri di dalam grand design Romney for President. Pada saat team romney melakukan langkah-langkah yang kontra produktif, mereka tak sungkan untuk mengkritik. Karena dengan begitu, akan ada feedback yang konstruktif. Anda mungkin mau niru2 FOX News; mau neraka atau surga, ikut terus dengan Republik. Kalau demikian adanya; perbaikilah sisi kualias jurnalistikknya. Dari yang saya tangkap, team anda waton sekali kutip sana sini pendapat ‚??para ahli‚?? yang lebih suka dengan Foke-Nara, tanpa memperhitungkan kualitas analisa dan kredibilitas orangnya. Mosok tanya politik sama pengamat dari Univeritas Sahid‚?¶.atau Borobudur.
Diarto Rahardjo
Senin, 17 September 2012 | 13:33 WIB
Saya bangga dengan anda semua....SALAM
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER