Selasa, 30 September 2014 | 18:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Indonesia Terancam Konflik Model Sampang
Headline
beritajatim.com
Oleh: R Ferdian Andi R
nasional - Jumat, 31 Agustus 2012 | 17:56 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Tragedi yang terjadi di Sampang, Madura potensial terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Jika penanganan pemerintah masih bergaya reaksioner, kasus serupa sewaktu-waktu bakal meletus dimanapun dan kapanpun.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan kasus Sampang merupakan peringatan serius bagi bangsa Indonesia akan terjadinya eskalasi serupa yang terjadi dimanapun. "Ini gejala konflik sektarian, fanatisme buta keagamaan, yang berbeda dianggap salah," kata Fajar dalam diskusi "Perspektif Indinesia" di Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (31/8/2012).

Menurut dia, potensi konflik terbuka terjadi di beberapa daerah di Indonesia, tidak hanya antarumat bergama namun juga internal umat beragama. Situasi ini ditambah reaksi pemerintah yang setengah hati dalam menyelesaikan akar persoalan. "Dua bulan lagi, kasus Sampang akan tenggelam. Banyak kasus agama yang tidak diselesaikan, sehingga kemana-mana," keluh Fajar.

Dia menilai cara penanganan pemerintah dalam merespons konflik yang terjadi di beberapa daerah justru bias kepentingan mayoritas. Padahal, kata Fajar, kelompok minoritas memiliki hak yang sama sebagaimana diatur dalam konstitusi. "Bagaimana negara memenuhi janjinya dalam konstitusi? Saat ini pemerintah bersikap partisan," tegas Fajar.

Dia menyebutkan ada beberapa cara menyelesaikan persoalan seperti yang terjadi di Sampang. Pendekatan budaya dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat jauh lebih efektif ketimbang membawa persoalan ke level lebih besar seperti internasionalisasi masalah.

Selain itu, Fajar mengusulkan perlu pendekatan politik-hukum dengan mempertimbangkan berbagai suara yang muncul."Pemerintah harus mempertimbangkan suara kelompok yang banyak, bukan justru mengakomodasi kelompok tertentu saja," kritik Fajar.

Jurnalis Freelance Rusdi Mathari yang melakukan investigasi terkait kejadian kerusuhan Sampang akhir 2011 lalu mengungkapkan dari sisi kronologis peristiwa Sampang dipicu paham keagamaan. "Jadi bukan karena keluarga. Bahwa keluarga menjadi pemicu, iya," ujar Rusdi.

Dia menilai peristiwa Sampang yang mengakibatkan jatuhnya korban merupakan bentuk pembiaran oleh pemerintah. Menurut dia, ada rentang waktu selama tujuh bulan sejak peristiwa akhir 2011 lalu. "Ada ancaman ke kelompok Taju. Ada jarak 7 bulan sejak peristiwa akhir 2011, tapi tidak diantisipasi. Seharusnya Pemda dan aparat keamanan setempat bisa mencium ini," kata Rusdi.

Dia menyebutkan pendekatan dialog antar kelompok masyarakat diyakini dapat menekan potensi konflik. Dia mencontohkan, inisiasi Pemda Bangkalan dengan mengumpulkan kelompok Syiah dan Sunni terbukti efektif. "Cara-cara dialog antarkelompok bisa menjadi model untuk menyelesaikan masalah," tambah Rusdi.

Menurut Rusdi, peran NU dan kyai cukup penting untuk meminimalisir konflik. Dia memastikan tidak ada ajaran kyai dan NU untuk merusak dan menganggu ibadah orang lain.

Anggota DPD RI dari Provinsi Jawa Timur Istibsyaroh mengatakan pemahaman masyarakat akar rumput terkait konstitusi masih rendah. "Publik tidak tahu apa itu UUD 1945, apalagi orang Madura," cetus Istibsyaroh.

Dia meyakini, kejadian yang mengakibatkan kekerasan itu hanyalah bentuk ketidaktahuan masyarakat atas persoalan yang terjadi. "Saya percaya mereka tidak tahu, hanya ikut-ikutan saja," yakin Istibsyaroh. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER