Jumat, 21 November 2014 | 23:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ruhut: Kebangetan Pindah ke NasDem
Headline
Ruhut Sitompul - inilah.com/Agus Priatna
Oleh: Ajat M Fajar
nasional - Senin, 11 Juni 2012 | 13:20 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Ketua Divisi Komunikasi dan Informatika Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Ruhut Sitompul ogah pindah partai lagi. Partai Demokrat menjadi partai terakhirnya.

Sebelumnya, Ruhut merupakan kader Partai Golongan Karya (Golkar). Demokrat memang bukan partai pertama baginya, tetapi yang terakhir. "Oh Demokrat kau bukan yang pertama, tapi terakhir," kata Ruhut sambil bernyanyi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jakarta, Senin (11/6/2012).

Ruhut menyindir Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang memodali para calon legislatif (caleg) uang Rp5 miliar sampai Rp10 miliar. Ia menilai modal yang diberikan partai kepada para caleg bisa menimbulkan beban.

Menurutnya, beban caleg jika terpilih yakni pengembalian modal uang yang sudah diberikan partai. "DPR baru, nanti namanya dewan perwakilan Surya Paloh dan Hary Tanoe," ucapnya.

Surya Paloh dan Hary Tanoe merupakan pengusaha media. Surya Paloh merupakan pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Nasdem, sedangkan Hary Tanoe sebagai Ketua Dewan Pembina NasDem. "Kalau aku ditawarin tidak deh, mereka pengusaha pasti punya kredit di bank, asetnya jangan-jangan kredit," sindir Ruhut.

Ia menilai orang-orang yang mendaftar sebagai caleg di NasDem adalah politisi yang tidak laku, tidak ada partai yang mau mencalonkan. "Kalau Demokrat ada yang mau, itu kader yang kebablasan dan mungkin dia merasa tidak akan dicalonkan lagi karena banyak membela oknum-oknum yang korupsi," celoteh Ruhut. [bar]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
Delon Jericho
Kamis, 14 Juni 2012 | 12:25 WIB
Komunikasi melalui bicara bisa mengungkap pikiran dan perasaan secara gamblang. Namun begitu, komunikasi bicara juga mengandung kepalsuan. Kita lebih mudah berdusta dengan bahasa kata daripada bahasa tubuh. Bukankah sekian persen dari komunikasi bicara sebenarnya merupakan retorika belaka, berupa rayuan gombal, pujian palsu, janji kosong, atau nasehat murahan. Sebab itu, komunikasi tidak selalu harus berbentuk kata. Perlu ada keseimbangan antara komunikasi bicara dengan komunikasi berdiam diri. Orang yang berkepribadian matang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam... dan tanpa disadari oleh "si poltak raja minyak", manuver-manuver yg sering dilakukannya justru semakin menunjukkan ketidakdewasaannya :)
rakyat indonesia
Kamis, 14 Juni 2012 | 11:41 WIB
orang kok bisanya cuma iri hati dengan keberhasilan orang lain... kalau gak mampu diam saja.....
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER