Kamis, 18 Desember 2014 | 06:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Setelah Pancasila, Apa Kabar 'Empat Pilar'?
Headline
Taufiq Kiemas - inilah.com
Opini: Derek Manangka
nasional - Rabu, 9 Mei 2012 | 19:33 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Taufiq Kiemas dilantik sebagai Ketua MPR-RI pada 1 Oktober 2009. Tidak berselang lama setelah pelantikannya, menantu Bung Karno, Proklamator RI itu membuat terobosan. Ia mengkampanyekan apa yang dia sebut 'Empat Pilar'. Mahluk atau konsep apakah Empat Pilar serta apa urgensinya?

Ternyata Empat Pilar itu, sebuah formulasi lain tentang Pancasila ala Taufiq Kiemas. Pancasila, bagi MPR atau politisi manapun bukanlah isu baru. Hanya saja baru kali ini seorang Ketua Lembaga (Tertinggi) Negara mengambil inisiatif untuk mempromosikan kembali Pancasila.

Empat Pilar dan Pancasila nyaris tidak ada bedanya. Empat Pilar terdiri atas Empat 'Sila' yaitu NKRI, Kebhinekaan, Kebangsaan dan Persatuan Nasional. Taufiq berdalih, kesadaran dan pemahaman bangsa atas pentingnya penerapan Pancasila sudah semakin menurun. Orang mulai malu berbicara ataupun menyebut Pancasila.

Dikampanyekannya kembali Pancasila lewat formula baru karena adanya indikasi di atas. Terjadinya berbagai kemerosotan dalam praktek kehidupan berbangsa, ditengarai sebagai bukti bahwa manusia Indonesia sudah kehilangan falsafah hidupnya.

Yang berbahaya, jika situasi ini berlanjut, generasi muda akan kehilangan arah bagaimana menjadi manusia Indonesia yang baik. SDM yang baik diperlukan untuk membentuk Indonesia yang berkualitas.

Di atas kertas, Pancasila merupakan Dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila tercantum dalam Konstitusi. Tetapi dalam prakteknya, Pancasila dari hari ke hari semakin diabaikan. Salah satu akibatnya, bangsa Indonesia mulai kehilangan alat perekat persatuan sehingga ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia semakin nyata. Anarkis dan antagonistis seakan menjadi budaya baru bangsa Indonesia.

Bahaya yang paling dikuatirkan, bakal terpecah belahnya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Bila ini terjadi, Indonesia bakal terbagi menjadi beberapa negara seperti eks Yugoslavia ataupun Uni Sovyet. Bayangan perpecahan itu kuat. Sebab bibit-bibit pengikut separatisme seperti DI/TII, GAM, RMS dan OPM masih hidup di berbagai daerah.

Pada awal-awal sosialisasi Empat Pilar, Taufiq Kiemas menggandeng seluruh kekuatan sekaligus pemangku kepentingan bangsa. Mereka adalah pimpinan Lembaga Eksekutif (Presiden), Legislatif (DPR-RI, MPR-RI dan DPD-RI), Yudikatif (Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi) serta BPK atau Badan Pemeriksa Keuangan. Mereka diajaknya berkomunikasi, bertukar pikiran tentang pentingnya Pancasila dan pengamalannya.

Mengesankan. Sebab ternyata respons para pemangku kepentingan itu, positif. Ada kesamaan pandangan bahwa Pancasila semakin dibutuhkan tetapi di pihak lain, semakin dilupakan. Sebuah paradoks tentunya.

Mengesankan dan menarik sebab di tengah kepadatan acara dari pimpinan semua lembaga negara di atas, mereka masih bisa bertemu dalam satu forum bersama. Dalam 2010 itu saja setidaknya terselenggara 3 kali pertemuan formal.

Bersamaan dengan itu, Taufiq Kiemas melakukan road show ke daerah-daerah untuk mensosialisasikan (kembali) Pancasila. Di antara road show yang paling menarik adalah ketika Taufiq Kiemas bersama pimpinan MPR-RI menemui Ustadz Abubakar Baasir di pesantrennya Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Disebut penting sebab Baasir selama ini dikenal sebagai salah seorang tokoh Islam yang tidak mau menerima Pancasila sebagai dasar negara maupun falsafah hidup bagi bangsa Indonesia.

Penolakan Baasir terhadap Pancasila bukan baru sekarang. Melainkan sudah sejak pemerintahan Presiden Soeharto (1966-1988). Baasir tercatat yang paling keras menolak dimasukkannya P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Akibat penolakannya itu, Baasir harus menjadi musuh rezim Soeharto dan terpaksa mengasingkan diri ke Malaysia. Baasir baru kembali ke Indonesia setelah Soeharto lengser dari kekuasaan.

Sorotan terhadap pertemuan pimpinan MPR dengan Baasir semakin tajam, sebab pada waktu itu (24 April 2010), nama Baasir sedang santer-santernya disebut oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai tokoh muslim yang punya hubungan dengan Jemaah Islamiyah, salah satu sayap Al Qaedah, organisasi yang sangat dimusuhi Washington. Selain itu upaya Taufiq mensosialisasikan Empat Pilar kepada Baasir, mirip dengan apa yang dilakukan rezim Soeharto tentang P4.

Tak kurang dari Prof Dr Azyumardi Azra bekas Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta yang ikut mengeritik pertemuan Taufiq Kiemas dengan Abubakar Baasir. Intelektual Islam itu menyebutkan bahwa dalam konteks psikologis politis, pimpinan lembaga tinggi negara tidak patut menemui seseorang yang sedang dilabelkan oleh negara sahabat sebagai sosok yang bermasalah.

Namun kritikan Azra tersebut, tidak mempengaruhi Taufiq dan pimpinan MPR-RI lainnya. Sebab bagi Taufiq pertemuan itu justru merupakan sebuah keharusan atau kepatutan. Agar lebih jelas bahwa Pancasila yang sudah disepakati secara nasional sebagai falsafah negara, tidak mungkin disingkirkan hanya karena ada penolakan dari seorang warga seperti Baasir. Taufik berpandangan, Baasir pun perlu diberitahu bahwa MPR tidak sepakat dengan penolakannya terhadap Pancasila.

Pertemuan itu sendiri bisa dikatakan, tidak menghasilkan sesuatu kesepakatan konkrit. Hanya saja liputan media-media nasional maupun internasional, terkesan cukup luas. Sehingga gaung tentang sosialisasi Pancasila oleh pimpinan MPR kepada seorang penentang Pancasila, tetap terdengar.

Jika tidak melakukan road show, Taufiq Kiemas dan pimpinan MPR-RI menerima delegasi masyarakat di lantai 9 Gedung DPR/MPR-RI Senayan. Pimpinan MPR-RI yang kebetulan mewakili partai-partai papan atas, terkesan sangat kompak dengan agenda Empat Pilar ini.

Sehingga ketika menerima para delegasi yang kebanyakan mewakili organisasi-organisasi kemasyarakatan, yang rata-rata mendukung Pancasila, pertemuan pun memberikan harapan-harapan baru tentang penerimaan dan penerapan Pancasila.

Yang menimbulkan pertanyaan sekarang, sosialisasi Empat Pilar itu, belakangan terkesan sudah agak mengendor. Forum pertemuan yang melibatkan semua pemangku kepentingan, tidak pernah diselenggarakan lagi.

Tidak jelas penyebabnya. Apakah terkendala biaya sosialisasi, munculnya perbedaan baru atau tidak adanya figur yang melakukan pekerjaan estafet, meneruskan apa yang sudah dirintis Ketua MPR-RI.

Atau seperti yang disinyalir oleh beberapa kalangan bahwa sosialisasi apapun yang dilakukan oleh elit saat ini, tetap sulit diterima masyarakat luas. Akuntabilitas yang rendah dari para elit, telah membuat masyarakat kurang tertarik mendukung ataupun menerima barang yang asalnya dari atas.

Persoalannya karena masyarakat sudah jenuh dengan berbagai janji dan masyarakat pun seolah diajak untuk melihat sebuah fatamorgana saja. Sesuatu bayangan belaka yang tidak bisa menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila dan Empat Pilar pun seakan dianggap hanya fatamorgana belaka. Inilah mungkin persepsi yang harus dibuang. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER