Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 27 Juni 2017 | 09:04 WIB

Indonesia Perlu Balas Aksi Boikot Produk Amerika

Oleh : MA Hailuki | Senin, 5 Maret 2012 | 09:44 WIB
Indonesia Perlu Balas Aksi Boikot Produk Amerika
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima - IST
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima mendesak pemerintah mengambil sikap tegas terhadap Amerika Serikat (AS) yang telah memboikot minyak sawit Indonesia.

Politisi PDI Perjuangan ini menilai, AS berpihak sepihak, dan kurang mengindahkan hubungan baik kedua negara, tatkala menyampaikan notifikasi penolakan impor produk minyak sawit mentah (CPO) dari Indonesia ke negeri Paman Sam itu.

"Pemerintah Indonesia perlu menyampakan penjelasan terkait tuduhan AS bahwa produk CPO dari Indonesia melewati batas ambang emisi, sehingga dinilai tidak ramah lingkungan atau unsustainable product. Pemerintah juga perlu betul-betul mengimplementasikan prinsip-prinsip ISPO atau Indonesian Sustainable Palm Oil dalam budidaya sawit maupun proses produksi CPO," kata Aria Bima dalam rilis yang diterima INILAH.COM.

Apabila penjelasan tidak digubris juga, RI perlu membalas tindakan sepihak AS tersebut dengan langkah yang tegas. Terlebih mulai 1 Maret 2012 ini, sesuai Peraturan Menteri Pertanian No. 19/Permentan/OT.140/3/2011, Indonesia mulai mewajibkan implementasi prinsip budidaya dan produksi minyak sawit ramah lingkungan (ISPO).

Menurut Aria Bima, langkah tegas perlu diambil, mengingat apa yang dilakukan AS dengan menolak produk CPO dari Indonesia, diakui atau tidak, lebih kental nuansa perang dagangnya.

Aria Bima menduga, diam-diam pihak AS khawatir jika produk minyak sawit dari Indonesia yang lebih murah akan menggusur minyak kedelai, jagung, dan biji bunga matahari, sebagai bahan baku biodiesel atau biofuel.

Aria Bima menjelaskan, data Oil World menunjukkan, presentase konsumsi minyak kedelai terus menurun dan dilampaui minyak sawit. Pada 1980 minyak kedelai mendominasi pasar minyak nabati dengan total 13,4 juta ton (33%), pada saat yang sama minyak sawit baru memiliki market sebesar 11% dan total produksi 4,5 juta ton.

Namun sejak 2009 situasi terbalik. Minyak sawit menguasai 34% market dengan total produksi 45 juta ton, sementara minyak kedelai hanya memiliki pangsa sebesar 27% dengan total produksi 35,9 juta ton.

"Intinya kan di situ. Kemudian sebagai produsen utama kedelai dunia, AS mulai mencari-cari alasan untuk menolak produk minyak sawit dari Indonesia. Makanya, jika perlu, kita bisa membalas dengan menyatakan produk junk food ala AS yang bertebaran di kota-kota besar negara kita sebagai makanan sampah dan tidak baik bagi kesehatan manusia. Begitu pula dengan produk soft drink mereka. Dengan alasan itu, kita pun bisa melarang mereka masuk Indonesia," kata Aria Bima berap-api.

Aria Bima menyayangkan sikap AS itu. Sebagai bangsa adikuasa, lanjut Aria, AS idealnya memberi contoh bagaimana seharusnya perdagangan yang fair dan adil dilaksanakan di muka bumi ini. Bukan malah maunya untung sendiri, sementara negara lain dibiarkan buntung.

"Jika AS maunya tetap untung sendiri begitu, ya mungkin memang demikianlah watak asli kapitalis. Maunya bangsa lain menjadi pelayan bagi mereka selamanya," katanya. [mah]

 
x