INILAH.COM, Jakarta - Anjloknya elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disebabkan karena persepsi lunturnya citra PKS sebagai partai bersih.
Publik menilai kini PKS tak jauh berbeda dengan partai-partai yang kerap melakukan korupsi. Akibatnya kepercayaan masyarakat kepada PKS menurun.
"PKS dipersepsikan tidak berbeda dengan partai lain sama saja, bisa terlibat kasus korupsi, janji sebagai partai bersih mulai digerogoti oleh kadernya yang terlibat kasus-kasus itu, jadi pemilih melihat kasus-kasus itu," ujar eneliti Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS), Philips Vermonte, di Jakarta, Sabtu (25/2/2012).
Philips menilai, PKS belum terlalu terpuruk dengan kondisi tersebut. Bahkan PKS dianggap bisa kembali bangkit asalkan PKS mampu menunjukkan kepada masyarakat jika PKS tidak mentolerir kadernya yang tersangkut kasus hukum.
"saya rasa pesannya sama dengan partai lain, berhenti korupsi. Ini bukan persmalahan PKS suara banyak, partai harus berhenti korupsi. Korupsi itu lingkaran setan, kenapa dia korupsi, itu karena itu antipati terhadap partai," jelasnya.
Sebagai bentuk antipati itu berefek kepada prilaku partai dalam mencari dukungan dengan subsidi dana partai dari pemerintah yang minim. Sebab dalam subsidi yang diberikan pemerintah kepada partai politik tidak cukup untuk menggalang dukungan hingga seluruh Indonesia.
"Partai harus membuktikan kalau kadernya terlibat korupsi harus tindak keras, termasuk rekrutmen dan lain, tidak hanya PKS tapi untuk semua," tandasnya.
Seperti diberitakan, survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang perolehan suara parpol pada Februari 2012 menunjukkan suara PKS merosot menjadi 3,7 persen. Sedangkan survei CSIS menyebutkan suara PKS hanya 3,1 persen. mah]