INILAH.COM, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai bahwa hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan PKS tidak loyal terhadap SBY, kurang tepat. Bagi PKS, tidak semua yang diprediksi oleh pengamat adalah benar.
"Akurasi pengamat tidak selalu seratus persen (tepat)," ujar Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq kepada INILAH.COM, Senin (20/2/2012). Pernyataan ini menyikapi hasil LSI bahwa partai Golkar dan PKS cenderung tidak loyal terhadap Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut Luthfi, hasil LSI itu adalah persepsi LSI. Bukan dari kebenaran yang selama ini ada. "Itu asumsi LSI. Sebagai pengamat boleh bicara apa saja," katanya.
Luthfi menjelaskan, bahwa antara loyalitas dan komitmen itu berbeda. Loyalitas hanya berlaku jika ada hubungan struktur. Sementara, antara PKS dan SBY tidak memiliki hubungan struktur kecuali komitmen koalisi hingga 2014 mendatang.
Hal ini yang menurutnya tidak bisa dibaca oleh para pengamat. Apalagi, dalam perjalanan koalisi ini, PKS adalah partai yang sering berseberangan dengan partai-partai koalisi lainnya seperti Demokrat, PAN maupun PKB.
"Pelaku politik tidak bisa dibaca sepenuhnya oleh pengamat," katanya.
Termasuk, dalam hal koalisi. Menurut Luthfi, ini yang susah dibedakan oleh pengamat. "Pengamat harus melihat bahwa koalisi adalah pembagian kerja untuk mencapai cita-cita bersama," katanya. Itu tertuang dalam kontrak koalisi yang disepakati antara PKS dengan SBY.
Sebelumnya, peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai dua partai di parlemen sangat loyal terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Dua partai dimaksud adalah PAN dan PKB.
Sedangkan dua partai pendukung SBY di Sekretariat Gabungan (Setgab) yakni Golkar dan PKS, tidak masuk dalam kategori partai yang loyal terhadap SBY.
"Kalau kami lihat partai-partai di Setgab, praktis hanya PAN dan PKB yang paling loyal terhadap pemerintahan SBY. Partai anggota Setgab yang lain memainkan politik dua kaki, terutama Golkar dan PKS," ungkap Burhanuddin saat memaparkan hasil survei di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (19/2/2012). [gus]