INILAH.COM, Jakarta - Terkait penolakan Front Pembela Islam (FPI) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dianggap FPI bukanlah dilakukan masyarakat Dayak, melainkan dilakukan oleh Preman.
"Yang menolak itu preman, bukan warga Dayak," tegas Ketua Bidang Dakwah dan Hubungan Lintas Agama FPI, Al Habib Muhsin Ahmad Alattas.
Menurut Habib Muhsin, masyarakat Palangkaraya, yang minta FPI melakukan deklarasi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Jadi penolakan yang dilakukan merupakan perbuatan dari orangp-orang yang tidak bertanggung jawab. "Mengapa mengatasnamakan Dayak," ungkap Habib Muhsin.
Penolakan, lanjut Habib Muhsin, dilakukan dengan adanya ancaman pembunuhan yang diterima delegasi FPI saat mendarat di bandara Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu.
Dijelaskannya, saat ini FPI telah melaporkan peristiwa itu ke Mabes Polri. Mereka bertekad akan melakukan segala upaya agar kasus ini ditindaklanjuti oleh aparat. "Kami datangi semua lembaga negara supaya ini cepat diproses oleh pemerintah. Ini bukti kami serius dan ini akan kami kawal," kata Muhsin.
Seprti diketahui, kedatangan delegasi FPI ke Palangkaraya pada Sabtu (11/2/2012) lalu, bertujuan menggelar deklarasi pembukaan cabang dan peringatan maulid nabi di Palangkaraya. Namun, karena ada penentangan, FPI membatalkan deklarasi itu. Sehingga kedatangan mereka hanya dimaksudkan untuk peringatan maulid nabi saja. Bahkan belakangan ini, aksi penolakan FPI gencar dilakukan.[dit]