INILAH.COM, Jakarta - Menghadapi persiapan Pilpres 2014, sejumlah lembaga survei seakan berlomba-lomba mengadakan survei, baik dalam menjajaki calon presiden maupun popularitas partai politik (Parpol).
Tapi tak jarang, hasil survei yang dilakukan lembaga satu dan lainnya berbeda. "Itu biasa, masalahnya posisi lembaga tersebut independen atau tidak," kata pengamat politik, Syamsuri Amir, saat dihubungi, Senin (13/2/2012).
Dijelaskannya, ada dua tujuan digelarnya survei, yakni untuk mengetahui seberapa populernya dan untuk meningkatkan popularitas tokoh, lembaga ataupun kelompok tertentu. "Untuk meningkatkan popularitas ini yang berbahaya," ungkapnya.
Dijelaskannya, survei yang dilakukan bertujuan untuk mempopularitaskan sebuah lembaga, nama atau kelompong, merupakan suatu lembaga survei yang tak independen.
"Dengan begitu hasil survei direkayasa dan hasilnya hanya menguntungkan pihak tertentu juga. Survei bisa jadi untuk dijadikan alat legitimasi dan justifikasi saja untuk kepentingan tertentu, Ini pembodohan publik," ungkapnya.
Dirinya mengatakan seharusnya hasil survei dapat dipertanggung jawabkan secara akademis, validitasnya terjamin, dengan perangkat dan metode survei yang dibenarkan secara teoritis-akademis berdasarkan yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.
Seperti diketahui, dalam hasil survei yang dilakukan lembaga survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), menyebutkan, dalam survei yang dilakukan Partai Demokrat masih berada diurutan teratas.
Hasil ini berbeda dengan beberapa survei yang pernah dilakukan oleh beberapa lembaga survei lainnya, yang mengatakan popularitas partai berlambang Mercy ini terus mengalami penurunan. Bahkan pada survei yang dilakukan LSI, perolehan suara Demokrat berada di bawah Golkar dan PDI Perjuangan.[dit]