INILAH.COM, Jakarta - Penelitian tentang situs piramida di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat, disuarakan terus oleh Staf Khusus Kepresidenan bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief. Namun penelitian Andi dinilai tidak sesuai kapasitas jabatannya.
Deputi IV bidang Relevansi dan Produktivitas IPTEK Kementerian Negara Riset dan Teknologi Teguh Rahardjo menilai, seharusnya penelitian adanya piramida di Gunung Sadahurip datang dari perguruan tinggi, bukan dari Staf Khusus Presiden.
“Isu ini harusnya lebih banyak keterlibatannya dari perguruan tinggi. Oleh karena itu kita akan menghubungi perguruan tinggi untuk mengumpulkan data, setelah itu baru kita ke lokasi untuk melihat langsung dilapangan seperti apa,” ujar Teguh melaui siaran pers yang diterima INILAH.COM, Minggu (12/2/2012).
Teguh menilai seharusnya penelitian tentang dugaan adanya situs Piramida, yang ditengarai sebagai petunjuk adanya peradaban Atlantis yang hilang di masa purba, lebih tepat dilakukan oleh kementeriannya dan perguruan tinggi di bidang arkeologi, dan bidang terkait lainnya.
Sebelumnya, Andi Arief mengatakan dirinya tertarik dengan penelitian piramida di Sadahurip dan Gunung Padang, karena terkait dengan kebencanaan Nusantara. Sebab sejumlah bencana alam yang terjadi merupakan perulangan peristiwa serupa di masa lalu.
"Seperti yang di Gunung Padang kita belum tahu kenapa (bangunan purba) di sana itu terkubur, atau sengaja dikubur, atau karena bencana. Apakah penduduknya meninggalkan tempat itu karena perang, karena nggak ada orangnya," kata Andi di Jakarta, Selasa (7/2/2012) .[lal]