INILAH.COM, Jakarta - Kementerian Pertahanan RI ternyata sudah memesan pesawat intai tanpa awak dari Israel sejak 2004.
Hal itu diakui sendiri oleh Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Syafrie Syamsuddin, di sela-sela workshop internasional Kemenhan RI dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, di kantor Kemenhan, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Pemesanan pesawat intai Israel buatan Israel Aerospace Industries (IAI) dilakukan dengan sistem pemesanan melalui perusahaan asal Filipina, Kital Philippine Corporation (KPC).
Dalam prosesnya, setelah memesan dua tahun sebelumnya, Kemhan kemudian menandatangani kontrak pemesanan pada tahun 2006 melalui perusahaan tersebut.
"Kontraknya sudah tahun 2006, tahun ini dikirim. Pesawat intai ini teknologinya borderless atau tidak ada batas teritorialnya," terang Syafrie.
Disebutkan dia, pesawat sesuai kontrak pemesanan akan datang tahun ini. Hanya saja ia tidak menyebut secara tegas bulan apa pesawat itu datang, termasuk banyaknya pemesanan pesawat.
Adapun mengenai harga per unit pesawat intai tanpa awak mencapai 16 juta dolar AS atau setara dengan Rp72 miliar. Selama ini pemerintah Indonesia setiap kali melakukan operasi intelijen ke negara tetangga, imbuh Syafrie, dilakukan dengan menggunakan pesawat intai pinjaman.
Karena kebutuhan itu, pemerintah yang mempunyai anggaran lebih kemudian mengalokasikan pembelian pesawat tersebut melalui perusahaan dari Filipina.
Pemesanan dilakukan setelah pihaknya melihat simulasi dan teknologi pesawat intai dari Belanda, Rusia dan Israel. Namun Kemhan memutuskan memilih pesawat intai dari Israel, karena teknologinya dianggap lebih canggih.
Syafrie menegaskan bahwa pembelian pesawat itu tidak salah pilih, apalagi teknologinya diketahui mampu melakukan operasi intelijen diatas udara hingga 15 jam. Bukan itu saja, pesawat Israel tersebut juga mampu terbang menjelajah hingga radius 250 kilometer. [mah]