Kamis, 17 Mei 2012 | 12:07 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kekerasan Meningkat, Kontras Anggap SBY Cuek
Headline
foto: Ist
Oleh: Wahyu Praditya Purnomo
nasional - Minggu, 29 Januari 2012 | 04:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Kekerasan massal yang dihadapi masyarakat, akhir-akhir ini kerap terjadi. Ditengah kondisi tersebut, Kontras menganggap presiden SBY hanya berdiam diri.

"Fenomena kekerasan ini sesungguhnya amat kontraproduktif dengan banyak pernyataan politik yang disampaikan Presiden SBY, dimana kerap melontarkan wacana-wacana untuk menuntaskan beragam persoalan bangsa dengan pendekatan bermartabat. Namun ruang pembuktiannya masih teramat minimalis," kata Koordinator Kontras, Haris Azhar, Sabtu (28/1/2012).

Menurutnya, Kontras meyakini kekerasan massal yang terjadi di Lampung, Bima dan Papua tidak terjadi secara tiba-tiba. "Ada akumulasi kekecewaan akibat ketidak-cocokan antara harapan masyarakat Indonesia terhadap janji-janji pemerintah. Inkompatibilitas menimbulkan friksi sosial yang terjadi tidak hanya di perkotaan, namun nyaris di banyak belahan Republik ini," ungkapnya.

Dijelaskan Haris, kerusuhan di Lampung, Bima dan Papua bisa menjadi contoh dari gagalnya negara dalam mengelola dinamika kepentingan di daerah. Isu politik lokal melalui Pilkada di Papua, isu pengelolaan sumber daya alam di Bima, hingga kekacauan dalam pengelolaan distribusi politik lokal sebagaimana yang terjadi di Lampung, menjadi ajang unjuk kekuatan dan kekuasaan kepentingan-kepentingan elite.

Dikatakan, Kontras mencatat sepanjang 2011 ini, setidaknya terdapat 10 kasus kekerasan massal serius yang terjadi. Di mana intensitasnya terjadi pada bulan April-Juli 2011 dan September-Desember 2011. Eskalasi kekerasan masih berlanjut hingga Januari 2012. Kekerasan massal ini umumnya terkait dengan sengketa pengelolaan sumber daya alam, sukses politik lokal, sampai friksi sosial kehidupan keseharian warga.

Pola kekerasan melibatkan kelompok warga, aparat kepolisian dan kelompok korporasi bisnis di lokasi kejadian. Selain Lampung, Bima dan Papua, titik-titik kekerasan massal juga terjadi di Bali dan Ambon. Corak ekspresi ketidakpuasan warga Indonesia akibat pilihan politik kebijakan diskriminatif pemerintahan pusat, khususnya dalam pendistribusian hak-hak ekonomi, sosial dan politik warga.

Dirinya meminta kepada pemerintah dan seluruh aparat penegak hukum untuk tidak gegabah dalam merespons gesekan atau amuk sosial di tengah masyarakat. Keputusan untuk memobilisasi pasukan keamanan ketimbang mendahulukan upaya dialog konstruktif, berpotensi untuk memperluas lokus kekerasan.[dit]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
r
Minggu, 29 Januari 2012 | 09:52 WIB
nohon tutup aja ruang komentar ini9,dan rakyat disuruh pakai rokm semua
rakyat
Minggu, 29 Januari 2012 | 09:50 WIB
Kalau mau komentar yang ngangkat telur.dakusah sediakan kolom ini bung, alias maunya abs kayak zaman suhartu
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.