INILAH.COM, Jakarta - 2010 adalah tahun yang cukup berat bagi Partai Golkar. Ketika itu, ketua umum mereka, Aburizal Bakrie diopinikan sebagai mafia pajak yang merugikan keuangan negara dan harus dimusuhi oleh rakyat.
Badai besar melanda Golkar tatkala Gayus tertangkap kamera berada di Nusa Dua, Bali menggunaka wig dan kaca mata untuk pernyamaran. Padahal seharusnya Gayus berada di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.
Ketika itu, di Nusa Dua, Bali tengah digelar pertandingan dua petenis dunia, Daniela Hantuchova melawan Yanina Wickmayer. Ical yang dikenal sangat menggilai olahraga tenis ternyata juga menonton pertandingan itu.
Dari sinilah isu merebak, Ical dituduh melakukan pertemuan dengan Gayus guna membicarakan tentang kasus tunggakan pajak. Entah siapa yang menghembuskan isu itu, namun para politikus Golkar menduga pelakunya adalah lawan politik Ical, yaitu geng neolib dan juga Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.
Ical membantah keras tuduhan dia bertemu Gayus di Bali untuk menyusun strategi. "Pada waktu itu saya memang sedang berada di Bali. Akan tetapi bukan untuk menemui Gayus. Kalau ingin bertemu dengan Gayus, kenapa harus di Bali?"
Golkar menduga ada operasi intelijen untuk menyudutkan Ical dan Partai Golkar. Dugaan itu didasarkan pada begitu masifnya pemberitaan media yang mendiskreditkan Group Bakrie, Ical dan Golkar.
Kebetulan, isu Gayus mengemuka setelah pemerintah dan Partai Demokrat kalah bertarung dalam Pansus Angket Century di DPR yang menyudutkan Sri Mulyani, Boediono serta keluarga Cikeas.
Sepanjang 2010 hingga 2011, isu konspirasi perselingkuhan Gayus dan Ical menghiasi media massa baik televisi, cetak maupun internet. Berbagai kelompok antikorupsi mendesak KPK untuk memeriksa Ical. Posisi Ical kian terjepit dan tersudut, seolah berada di ujung tanduk.
Hingga akhirnya isu itu menghilang dengan sendirinya ketika Gayus yang semula menyudutkan Ical berbalik menyerang pemerintah. Gayus mengaku dipaksa oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk oleh Presiden SBY untuk menyudutkan Ical dan kelompok usaha Bakrie.
"Istri saya dipaksa-paksa untuk mengaku bertemu Ical di Bali, padahal tidak. Kalau tidak, kenapa yang tidak saya lakukan dipaksa untuk diakui. Yang dijadikan sasaran tembak Denny, selalu Ical. Padahal, kalau mau membongkar mafia pajak, bukannya sasarannya tembaknya adalah Direktur dan Dirjen Pajak dan peran Cirus Sinaga yang membongkar kasus Antasari Azhar," ungkap Gayus.
Publik terbelalak, pengakuan Gayus seketika mematahkan penggiringan opini yang sudah dibangun lama. Ical dan Golkar tampil sebagai pemenang, sidang-sidang yang dijalani Gayus tak lagi menjadi pusat perhatian media massa.
Golkar dan Ical telah membuktikan ketangguhan dalam menghadapi badai isu, propaganda dan konspirasi penggiringan opini. Ical kini tampil sebagai tokoh nasional yang tangguh dan salah satu kandidat kuat calon presiden pada 2014.
Tempaan yang dialaminya itu menjadikan Ical makin kuat dan Golkar makin solid. Hampir tak ada lagi pemberitaan yang mengabarkan perpecahan di internal Golkar. Kini Ical asyik menggelorakan Gerakan Ayo Bangkit yang digulirkannya dari Aceh hingga Papua.
Hari berganti, musim berlalu. Memasuki pertengahan 2011 badai beralih menerpa Partai Demokrat. Semenjak kasus suap di Kemenpora terungkap, ketua umum mereka, Anas Urbaningrum berada di posisi sulit, persis seperti yang dulu dialami Ical.
Namun bedanya, seluruh kader Golkar baik senior maupun junior bersatu membela Ical hingga akhirnya badai berlalu. Adapun Demokrat, kader junior membela Anas, sedangkan kader senior tak seluruhnay membela.
Tertangkapnya M Nazaruddin di Kolombia makin menyudutkan Anas. Nazaruddin yang dikenal sebagai pengikut setia justru malah menyerang Anas dan Demokrat. Residu konflik Kongres Bandung yang memetakan Demokrat menjadi tiga faksi yaitu Anas, Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie makin menambah runyam persoalan.
Isu pencopotan Anas melalui Kongres Luar Biasa (KLB) dan juga usulan penonaktifan sebagai ketua umum makin memperkeruh keadaan. pada 2011 Anas diisukan akan dicopot, namun tak terbukti. Kemudian pekan ini, Anas kembali diisukan akan dicopt namun tak juga terbukti.
Bola panas bergerak liar membidik sejumlah elite-elite Demokrat. Persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) mengungkap sejumlah nama.
Kasus terus menggelinding, bukan hanya Anas, tapi juga Andi Mallarangeng, Sutan Bhatoegana, Mahyuddin, Mirwan Amir dan Angelina Sondakh ikut dalam posisi tersudut. Badai yang menerpa Demokrat tampaknya belum akan berlalu.
Ini menjadi ujian bagi Anas, SBY dan kader Demokrat. Jika seluruh stake holder Demokrat cari selamat sendiri maka bukan tidak mungkin prinsip Tiji Tibeh; mati siji, mati kabeh bisa terjadi.
Langit tampaknya tak lagi biru, entah kapan badai akan berlalu. [mah]