INILAH.COM, Jakarta - Rencana pembelian tank Leopard bekas dari Belanda untuk perkuatan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) bagi TNI Angkatan Darat (AD) masih diperdebatkan.
Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengaku tak keberatan dengan rencana pembelian tank tempur kelas berat itu. Namun sampai saat ini belum ada kesepakan karena masih menunggu proses peninjauan jenis tank oleh pihak TNI.
"Sikap Komisi I tergantung pada hasil proses tersebut. Kebutuhan akan main battle tank itu realistis, selain memodernisasi light dan medium tank TNI yang sudah tua," kata Mahfudz, di Jakarta, Sabtu (28/1/2012).
Mahfudz menilai, rencana pembelian tank Leopard asal Belanda itu kemungkinan besar masih ditolak oleh pihak parlemen Belanda. Sehingga jika dipaksakan dikhawatirkan akan memunculkan prakondisi politik yang akan merugikan Indonesia.
"Pengalaman F-16 yang pernah diembargo dan tank Scorpion harus jadi pelajaran. Mabes TNI harus membuka opsi luas soal pengadaan tank beratnya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Mahfudz mencontohkan, jika TNI ingin mengadakan tank berat namun. Bobotnya lebih ringan dari Leopard, maka bisa dipertimbangkan untuk memilih tank T-90 asal Rusia.
"Pihak Rusia sendiri diketahui sudah menawarkan kerjasama dengan PT Pindad untuk transfer teknologi dan produksi. Fasilitas state credit juga masih tersedia, dan yag lebih penting, Rusia tidak pernah menetapkan prakondisi politis sehingga lebih aman dan leluasa," ungkapnya.
Meski begitu, yang terpenting bagi Komisi I DPR adalah mendukung rencanan modernisasi Alutsista dengan dukungan anggaran utang luar negeri sebesar USD 6,5 Milliar dan itu harus dimbangi dengan skema revitalisasi industri pertahanan nasional.
"Jadi sebaiknya harus ada skema transfer of technology dan joint-production, klausul itu harus mengikuti kontrak pembelian," terangnya. [mah]