Kamis, 17 Mei 2012 | 11:58 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Leopard No, T-90 Maybe Yes
Headline
IST
Oleh: Ajat M Fajar
nasional - Sabtu, 28 Januari 2012 | 20:26 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Rencana pembelian tank Leopard bekas dari Belanda untuk perkuatan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) bagi TNI Angkatan Darat (AD) masih diperdebatkan.

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengaku tak keberatan dengan rencana pembelian tank tempur kelas berat itu. Namun sampai saat ini belum ada kesepakan karena masih menunggu proses peninjauan jenis tank oleh pihak TNI.

"Sikap Komisi I tergantung pada hasil proses tersebut. Kebutuhan akan main battle tank itu realistis, selain memodernisasi light dan medium tank TNI yang sudah tua," kata Mahfudz, di Jakarta, Sabtu (28/1/2012).

Mahfudz menilai, rencana pembelian tank Leopard asal Belanda itu kemungkinan besar masih ditolak oleh pihak parlemen Belanda. Sehingga jika dipaksakan dikhawatirkan akan memunculkan prakondisi politik yang akan merugikan Indonesia.

"Pengalaman F-16 yang pernah diembargo dan tank Scorpion harus jadi pelajaran. Mabes TNI harus membuka opsi luas soal pengadaan tank beratnya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Mahfudz mencontohkan, jika TNI ingin mengadakan tank berat namun. Bobotnya lebih ringan dari Leopard, maka bisa dipertimbangkan untuk memilih tank T-90 asal Rusia.

"Pihak Rusia sendiri diketahui sudah menawarkan kerjasama dengan PT Pindad untuk transfer teknologi dan produksi. Fasilitas state credit juga masih tersedia, dan yag lebih penting, Rusia tidak pernah menetapkan prakondisi politis sehingga lebih aman dan leluasa," ungkapnya.

Meski begitu, yang terpenting bagi Komisi I DPR adalah mendukung rencanan modernisasi Alutsista dengan dukungan anggaran utang luar negeri sebesar USD 6,5 Milliar dan itu harus dimbangi dengan skema revitalisasi industri pertahanan nasional.

"Jadi sebaiknya harus ada skema transfer of technology dan joint-production, klausul itu harus mengikuti kontrak pembelian," terangnya. [mah]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
7 Komentar
Arman
Jumat, 3 Februari 2012 | 08:46 WIB
Halah, DPR gak setuju beli leopard kan karena pembelian secara G to G jadi minim broker/calo. Alasan gak cocok dan bobot terlalu berat cuma mengada-ada aja.
enggar
Rabu, 1 Februari 2012 | 17:35 WIB
kalu aku jadi presiden,,,aku lgsg borong leopard 2,ga perlu minta persetujuan sono sini,yang justru mempersulit TNI ...
rom
Rabu, 1 Februari 2012 | 16:35 WIB
satu kelas tp beda mutu...masih lebih perkasa leopard 2 dari pada t-90..botuh bbrp t-90 untuk menghancurkan 1 leo...
totok
Selasa, 31 Januari 2012 | 21:44 WIB
TNI perlu perkuat alat tempurnya...klo TNI kuat otomatis INDONESIA juga KUAT Pak...mengapa di persulit pembelian tank tersebut daripada duit negara di korupsi oleh manusia yg tidak bertanggung jawab mending buat yang berguna bagi negara Pak...
agung
Selasa, 31 Januari 2012 | 15:27 WIB
tank leopard adalah yang terbaik tapi kalau tidak boleh beli ya beli yang lain saja
agung
Selasa, 31 Januari 2012 | 15:25 WIB
tank leopard adalah yang terbaik tapi kalau tidak boleh beli ya beli yang lain saja
bembi
Senin, 30 Januari 2012 | 16:46 WIB
setuju dgn dpr untuk opsi alutsista blok barat/rusia
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.