inovasi portal berita
Kamis, 23 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.9,059.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Pendukung Anas Bergerak, Awas Blunder Politik!
Headline
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum - inilah.com/Agus priatna
Oleh: R Ferdian Andi R
Nasional - Sabtu, 28 Januari 2012 | 07:01 WIB
TERKAIT

INILAH.COM, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum saat ini benar-benar diuji emosi politiknya dalam merespons perkembangan terakhir. Jika tak hati-hati dalam bertindak, bisa-bisa jadi blunder politik.

Salah satu petinggi Partai Demokrat yang duduk di jajaran eksekutif partai berkirim pesan BlackBerry Messenger (BBM) kepada INILAH.COM, Jumat (27/1/2012) petang. Isinya, mengabarkan rencana pergerakan pendukung Anas ke Jakarta untuk melakukan aksi damai menuntut media masa agar tidak melakukan pengadilan opini terhadap Anas. "Kami perkirakan sedikitnya 50 ribu orang yang akan datang ke Jakarta," katanya.

Dia menyebutkan, pihaknya mencermati, sebagian media massa di Indonesia telah mulai tersesat dan terjebak dalam upaya pencemaran nama baik kepada Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Aspirasi tersebut, tambah sumber tersebut, bermunculan dari 33 DPD Partai Demokrat se-Indonesia.

Informasi ini simetris dengan sumber INILAH.COM yang berasal dari kalangan non struktural Partai Demokrat sehari sebelumnya yang menyebutkan akan mengerahkan sedikitnya 10 ribu massa untuk unjuk kekuatan pendukung massa Anas Urbaningrum.

Informasi lebih jelas disampaikan Ketua DPP Partai Demokrat I Gede Pasek Suardika yang menyebutkan Para pendukung Anas di DPP Partai Demokrat pun mulai bergerak membela ketua umum mereka. Salah satunya Ketua DPP PD Gede Pasek Suardika yang menuding ada operasi penggiringan oleh opini terhadap Anas.

"Anas dizalimi dengan peradilan opini dimana sekarang ini seakan-akan ketum kami sudah menjadi terpidana. Padahal ikut dalam proses hukumnya saja tidak, saksi pun tidak," tegas Pasek, Jumat (27/1/2012).

Cara-cara penggiringan opini seperti sekarang sangat jelas, imbuh Pasek, menjadikan Anas sebagai target kelompok tertentu untuk mematikannya secara politik. "Peradilan opini berdasarkan asumsi dan bukan substansi. Ini politik kotor yang penuh kuman dan virus perusak demokrasi," kata anggota Komisi II DPR ini.

Sumber lain menyebutkan, para pendukung Anas Urbaningrum tersebut bakal berunjuk rasa di media-media yang selama ini kerap bersikap kritis kepada Anas terkait pemberitaan seputar kasus Wisma Atlit. Sumber tersebut menyebutkan beberapa media yakni Metro TV, TV One, Media Indonesia, dan Tempo.

Langkah pendukung Anas Urbaningrum yang berencana unjuk kekuatan dengan melakukan aksi demonstrasi di sejumlah media massa memang bisa menjadi salah satu upaya untuk meredam pemberitaan yang dianggap menyudutkannya.

Namun, mestinya para pendukung Anas dapat menempuh cara lainnya yang jauh lebih elegan daripada melakukan pendudukan atau demo di kantor media massa. Meski tidak melanggar prinsip demokrasi sebagai perwujudan kebebasan berekspresi, namun rencana langkah pendukung Anas tersebut justru berpotensi blunder politik yang tidak sederhana.

Media sebagai pilar penting dalam proses demokratisasi ini bukanlah lembaga yang tak tersentuh. Jalur-jalur formal seperti Dewan Pers dapat menjadi cara untuk menyelesaikan persoalan dalam pemberitaan. Langkah ini jelas lebih produktif daripada melakukan show off dengan demonstrasi ke media massa.

Anas Urbaningrum dan segenap pengurus Partai Demokrat bisa mencari jalan keluar yang lebih elegan untuk keluar dari turbulensi yang kini menderanya. Belajar dari sejarah, penyelesaian sengketa dengan media melalui cara pendudukan atau demontrasi justru akan blunder. Seperti era Presiden KH Abdurahman Wahid, saat para pendukungya menduduki kantor Jawa Pos, di Surabaya, yang justru membuahkan citra yang tak positif. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
Berita Lainnya
5 Komentar
rdv @ Sabtu, 28 Januari 2012 | 22:02 WIB
rakyat demo utk menuntut haknya pantes & wajar, masa demo utk bela seseorang, apa lagi yg berdemo elite politik. Ya... Allah
netral @ Sabtu, 28 Januari 2012 | 17:58 WIB
saya jg sdh bosan berita ttg anas yg dibahas berulang2 oleh tvone dan metrotv, sdh jelas ada misi utk menguntungkan partai pemilik tvone dan metrotv utk thn 2014
Herdi Paterli @ Sabtu, 28 Januari 2012 | 16:24 WIB
Menurut saya ... media hanya memberitakan ... dan itupun bersumber dari orang yang dulunya dari internal Demokrat. Demo kpd pers bukannya tidaqk boleh, tp dalam konteks ini saya anggap salah alamat. Kalo mau berhenti pemberitaannya ya tutup aja mulut si Nazarudin.
netral @ Sabtu, 28 Januari 2012 | 14:08 WIB
saya juga sdh bosan dgn pemberitaan ttg anas di tvone dan metrotv, krn sdh tdk netral, krn tvone milik golkar dan metro milik nasdem, dimana sengaja dioxpose agar citra PD turun dan menguntungkan golkar dan nasdem pd pemilu yad
Anti Anas @ Sabtu, 28 Januari 2012 | 08:56 WIB
ITU ADALAH HAK RAKYAT UNTUK DEMO, MENGAPA PERS HARUS TAKUT KALAU MEMANG MEREKA INDEPENDENT,MEMANG ADA BEBERAPA PERS YANG MEMPUNYAI MISI MEMBELA JURAGANNYA, TAPI LEBIH BANYAK PERS YANG INDEPENDEN DAN BERMARTABAT.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.