INILAH.COM, Jakarta - Rencana Pemerintah membeli tank Leopard bekas Belanda, mendapat penolakan dari parlemen Belanda. Rusia menjadi alternatif yang pas untuk membeli tank.
"Kalau di Belanda menolak, itu tidak perlu dianggap serius. Kan alternatif saja, tidak perlu repot. Bisa beli dari Rusia," ujar pengamat militer Muhadjir Effendy kepada INILAH.COM, Senin (23/1/2012).
Sebelumnya, parlemen Belanda menolak penjualan tank Leopard dengan alasan meningkatnya pelanggaran HAM di Indonesia. Namun, pemerintah Belanda masih berusaha untuk meminta green light dari parlemennya.
Menurut Muhadjir, Rusia adalah salah satu negera yang memiliki tank yang tergolong bagus. Indonesia, lanjutnya, bisa masuk melalui Rusia. Apalagi, TNI tidak memiliki tank utama sehingga perlu untuk pertahanan.
"Rusia masih besar kemungkinan, tidak harus dari Belanda.
Kita membutuhkan itu untuk memenuhi standar kebutuhan pokok sebagai tank tempur utama, karena kita belum punya," jelas Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
T-90 adalah Main Tattle Tank buatan Rusia hasil pengembangan dari tank T-72. Tank paling modern di angkatan darat dan marinir Rusia ini dianggap satu kelas dengan tank Leopard 2A6 dan 2A7 buatan Jerman.
Tank jenis T-90 ini juga dioperasikan oleh sejumlah negara lain seperti India. T-90 merupakan penerus T-72BM dan menggunakan senjata dan 1G46 gunner sight dari T-80U, sebuah mesin baru, dan pengindera panas .
Kecanggihan lainnya adalah peralatan pelindung dari ledak reaktif Kontakt-5, laser warning receiver. Juga pembangkit gelombang elektromagnetik EMT-7 sebagai penghancur ranjau elektromagnetik dan Shtorasistem pengacau rudal anti tank kendali infra merah. [gus]