INILAH.COM, Jakarta - Di balik sosoknya yang kerap mengundang kontroversi, Ketua DPR RI Marzuki Alie diam-diam dalam berbagai pembicaraannya kerap menyelipkan ayatal-Quran dan al-Hadits.
Politikus Partai Demokrat asal Palembang, Sumatera Selatan, memang memiliki latar belakang santri yang kuat. Dia juga termasuk aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Maka tak heran bila dalam berbagai kesempatan, dia kerap menyelipkan ayat al-Quran ataupun al-Hadits.
Seperti saat akan melaporkan berbagai proyek yang ada di lingkungan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (20/1/2012), Marzuki menyebutkan langkah tersebut untuk menghindari fitnah. "Di al-Quran juga jelas, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan," tutur Marzuki yang mengenakan baju koko dan dan kopiah hitam, khas seorang santri.
Marzuki menambahkan, selain di al-Quran, di hadits nabi Muhammad, juga disebutkan tidak akan masuk surga orang yang memfitnah sebelum dimaafkan oleh orang yang difitnah. "Ini hadits sahih," sambung Marzuki.
Tidak kali ini saja Marzuki Alie menyelipkan ayat al-Quran atau al-Hadits dalam pernyataan resminya di hadapan pers. Sebelumnya, saat mengeluarkan surat peringatan terhadap Sekjen DPR Nining Indra Saleh, dia menyebutkan kata bijak yang populer. "Qullil haqqo walau kaana murraan (katakanlah kebenaran meski itu pahit)," kata Marzuki.
Begitu pula saat mengeluhkan cara media mengutip pernyataannya yang kerap dikutip sebagian. Akibatnya, kata Marzuki, makna pernyataannya menjadi bias, keluar dari maksud dan konteks pernyataannya.
Ia pun mencontohkan salah satu ayat al-Quran yang melarang orang salat dalam keadaan mabuk. "Ayat 'La taqrobus shoalata wa antum sukaara' (Kamu jangan menunaikan salat saat dalam keadaan mabuk). Jika dipotong kata belakangnya kan jadi ga benar maknanya," kata Marzuki mencontohkan. [mdr]