Kamis, 23 Oktober 2014 | 14:57 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Atur Pengeras Suara di Masjid dan Musala!
Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: R Ferdian Andi R
nasional - Selasa, 17 November 2009 | 07:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan bersepakat mengatur alat pengeras suara dalam setiap ritual keagamaan. Langkah ini ditempuh untuk menciptakan harmonisasi di tengah masyarakat majemuk. Sebuah langkah progresif menyejukkan.

Mengkompromikan semangat syiar dan harmoni lingkungan sepertinya menjadi pijakan MUI di provinsi Kalimantan Selatan untuk bersepakat untuk mengatur alat pengeras suara di masjid dan musala di Kalimantan Selatan. Kesepakatan itu, rencananya akan dibawa ke Komisi Fatwa MUI untuk jadi fatwa bagi masyarakat Kalimantan Selatan.

Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Kalimantan Selatan Rusdiyansyah, pengaturan alat pengeras suara di masjid dan musala belum menjadi fatwa dari MUI, namun hanya masih kesepakatan enam MUI di Kalimantan Selatan.
"Yang ada baru kesepakatan enam MUI di Kalimantan Selatan. Isinya, dimintakan kepada segenap masjid dan musala supaya dalam syiar Islam seperti membaca Al Quran dan tahrim dilakukan sekitar 15 menit sebelum kumandang azan salat," ujarnya kepada INILAH.COM melalui saluran telepon di Bajarmasin, Senin (16/11).
Biasanya, sambung Rusdi, pembacaan Al Quran dilakukan satu jam sebelum pelaksanaan salat. Menurut dia, pembacaan Al Quran sebelum salat terdapat plus minusnya. Plusnya dapat membangunkan orang yang masih tidur, namun negatifnya menganggu orang yang sedang istirahat atau yang sedang salat malam.
"Positifnya untuk syiar Islam. Tapi negatifnya terganggu, apalagi bagi nonmuslim. Memang dalam posisi serba sulit, mau ditegur marah, tidak ditegur nanti terganggu, ujarnya.
Ia menegaskan, langkah itu bukan untuk pelarangan, melainkan pengaturan.
Sementara terpisah, Pembantu Rektor II IAIN Antasari Banjarmasin Masyitah Umar menyambut positif rencana MUI Kalsel mengeluarkan fatwa terkait pengaturan pengeras suara di tempat ibadah. "Sepanjang ada pengaturan, saya kira bagus. Kalau tujuannya untuk kebaikan ya bagus-bagus saja, sepanjang tidak mengebiri," ujarnya seraya menegaskan, Islam merupakan ajaran universal yang tidak hanya nyaman bagi pemeluknya melainkan bagi agama lainnya.
Terkait dengan pengaturan itu, Masyitah berharap, langkah MUI Kalsel dapat ditiru oleh MUI wilayah lainnya di Indonesia. Menurut dia, upaya tersebut sebagai upaya implementasi Islam rahmatan lil alamien serta sebagai upaya harmonisasi di kehidupan yang majemuk.
"Saya kira, kalau untuk kemaslahatan silakan diatur sebaik-baiknya, kalau diatur silakan sepanjang kebaikan kenapa tidak. Kalau tidak baik saya kira tidak perlu ditiru," ujarnya.
MUI dalam beberapa kesempatan mengeluarkan beragam fatwa. Seperti beberapa ulama di Jawa Timur beberapa waktu lalu mengeluarkan fatwa pengharaman penggunaan situs jejaring facebook jika diperuntukkan untuk maksiat. Ada juga fatwa MUI tentang pengharaman merokok untuk anak-anak dan wanita hamil. Saat Pemilu 2009 lalu, MUI juga mengeluarkan fatwa terkait pengharaman golput.
Rencana fatwa MUI Kalsel terkait pengaturan pengeras suara di tempat peribadatan, patut mendapat apresiasi. Langkah ini cenderung progresif di tengah menguatnya pola pikir keagamaan yang serba simbolik. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
ahmad
Senin, 20 Juni 2011 | 14:31 WIB
Masjid umumnya sudah kelewatan berisik mengganggu warga sekitar. Saya sebagai orang Islam merasa prihatin sekali karena Justru cara2 penyampaian siar ini malah merusak citra Islam. Masjid2 sekarang terindikasi lebih disetir oleh pribadi atau kelompok kecil tertentu yang ingin menonjolkan pamornya tanpa menghiraukan ini mengganggu lingkungan. Dept Agama/Pemerintah harus tegas melarang pengeras suara masjid, kecuali utk Adzan saja, saya masih setuju.Tolong , sekali lagi tolong Dept Agama bertindak karena sebenarnya masyarakat pada umumnya sudah buanyak sekali yg resah hanya saja mereka tidak mau protes karena takut dianggap menentang agama mayoritas.Sungguh kami merasa prihatin sekali melihat kebiasan2 masjid yg semakin tidak memeperhatikan keluhan lingkungan warga. Wassalam wr wb
bendera hijau
Jumat, 20 November 2009 | 22:13 WIB
aturan ini sudah lebih dulu diterapkan di Kairo Mesir. Semoga segera diterapkan di seluruh Indonesia demi harmonisasi dan sikap saling menghargai di antara umat beragama di sini
IBNU SYAM
Rabu, 18 November 2009 | 14:12 WIB
Ide pengaturan menghidupkan pengeras suara 15" sebelum masuk waktu shubuh adalah ide yang cerdas dan bijak banget. Kalau itu bisa dijalankan setidaknya ada 2 manfaat : 1) Bagi yang sering TAHAJJUD akan lebih rasakan lebih khusyu' karena suasana hening. 2) Tidak ganggu mereka yang sdg butuh istirahat, agar saat adzan shubuh berkumandang, bisa segera bangun dan shalat shubuh di Masjid atau Mushalla. Semoga ide ini bisa segera dilaksanakan di sana dan segera menyusul MUI-MUI daerah lain. Semoga Allah SWT meridlai ummat Islam semua.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER