Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 14 Desember 2017 | 22:05 WIB

Atur Pengeras Suara di Masjid dan Musala!

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 17 November 2009 | 07:29 WIB
Atur Pengeras Suara di Masjid dan Musala!
inilah.com /Dokumen
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta " Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan bersepakat mengatur alat pengeras suara dalam setiap ritual keagamaan. Langkah ini ditempuh untuk menciptakan harmonisasi di tengah masyarakat majemuk. Sebuah langkah progresif menyejukkan.Mengkompromikan semangat syiar dan harmoni lingkungan sepertinya menjadi pijakan MUI di provinsi Kalimantan Selatan untuk bersepakat untuk mengatur alat pengeras suara di masjid dan musala di Kalimantan Selatan. Kesepakatan itu, rencananya akan dibawa ke Komisi Fatwa MUI untuk jadi fatwa bagi masyarakat Kalimantan Selatan.Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Kalimantan Selatan Rusdiyansyah, pengaturan alat pengeras suara di masjid dan musala belum menjadi fatwa dari MUI, namun hanya masih kesepakatan enam MUI di Kalimantan Selatan. "Yang ada baru kesepakatan enam MUI di Kalimantan Selatan. Isinya, dimintakan kepada segenap masjid dan musala supaya dalam syiar Islam seperti membaca Al Quran dan tahrim dilakukan sekitar 15 menit sebelum kumandang azan salat," ujarnya kepada INILAH.COM melalui saluran telepon di Bajarmasin, Senin (16/11). Biasanya, sambung Rusdi, pembacaan Al Quran dilakukan satu jam sebelum pelaksanaan salat. Menurut dia, pembacaan Al Quran sebelum salat terdapat plus minusnya. Plusnya dapat membangunkan orang yang masih tidur, namun negatifnya menganggu orang yang sedang istirahat atau yang sedang salat malam. "Positifnya untuk syiar Islam. Tapi negatifnya terganggu, apalagi bagi nonmuslim. Memang dalam posisi serba sulit, mau ditegur marah, tidak ditegur nanti terganggu, ujarnya. Ia menegaskan, langkah itu bukan untuk pelarangan, melainkan pengaturan.Sementara terpisah, Pembantu Rektor II IAIN Antasari Banjarmasin Masyitah Umar menyambut positif rencana MUI Kalsel mengeluarkan fatwa terkait pengaturan pengeras suara di tempat ibadah. "Sepanjang ada pengaturan, saya kira bagus. Kalau tujuannya untuk kebaikan ya bagus-bagus saja, sepanjang tidak mengebiri," ujarnya seraya menegaskan, Islam merupakan ajaran universal yang tidak hanya nyaman bagi pemeluknya melainkan bagi agama lainnya. Terkait dengan pengaturan itu, Masyitah berharap, langkah MUI Kalsel dapat ditiru oleh MUI wilayah lainnya di Indonesia. Menurut dia, upaya tersebut sebagai upaya implementasi Islam rahmatan lil alamien serta sebagai upaya harmonisasi di kehidupan yang majemuk. "Saya kira, kalau untuk kemaslahatan silakan diatur sebaik-baiknya, kalau diatur silakan sepanjang kebaikan kenapa tidak. Kalau tidak baik saya kira tidak perlu ditiru," ujarnya.MUI dalam beberapa kesempatan mengeluarkan beragam fatwa. Seperti beberapa ulama di Jawa Timur beberapa waktu lalu mengeluarkan fatwa pengharaman penggunaan situs jejaring facebook jika diperuntukkan untuk maksiat. Ada juga fatwa MUI tentang pengharaman merokok untuk anak-anak dan wanita hamil. Saat Pemilu 2009 lalu, MUI juga mengeluarkan fatwa terkait pengharaman golput. Rencana fatwa MUI Kalsel terkait pengaturan pengeras suara di tempat peribadatan, patut mendapat apresiasi. Langkah ini cenderung progresif di tengah menguatnya pola pikir keagamaan yang serba simbolik. [mor]

Komentar

 
x