Find and Follow Us

Kamis, 23 Januari 2020 | 01:35 WIB

Pasca-Penangkapan Nunun Nurbaetie

Nasib Miranda Menghitung Hari

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 12 Desember 2011 | 20:14 WIB
Nasib Miranda Menghitung Hari
Miranda Swaray Goeltom - inilah.com/Dok
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Pasca penangkapan Nunun Nurbaetie, nasib mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom sepertinya dalam hitungan hari lagi. Apalagi, kubu Nunun telah bersuara keras atas peran Miranda dalam penyebaran cek perjalanan kepada 26 anggota DPR.

Pengacara Nunun Nurbaetie, Ina Rachman meminta agar KPK menetapkan Miranda S Goeltom sebagai tersangka dalam kasus penyuapan dalam pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI). Dia menyebutkan suap tersebut dalam kenyataannya untuk pemenangan Miranda S Goeltom. "Faktanya, Kasus ini untuk pemenangan Miranda. Justru Ibu yang jadi bulan-bulanan," katanya di gedung KPK, Jakarta, Senin (12/12/2011).

Sementara terpisah suami Nunun Nurbaetie, Adang Darajadtun secara jelas menyebutkan antara Nunun Nurbaetie dengan Miranda S Goeltom saling kenal satu dengan lainnya. Untuk mendukung pernyataannya, Adang menunjukkan foto antara Miranda dan Nunun.

Lebih dari itu, Adang yang juga anggota Komisi Hukum DPR RI ini mengungkapkan rekaman pemeriksaan dirinya dengan empat penyidik KPK yakni RS, N, R, dan I. "Ini ada rekaman tentang bagaimana penyidik KPK mengindikasikan. Ini bukan kata saya ya, tapi KPK mengindikasikan bahwa Miranda Goeltom itu sebagai tersangka," tambah politikus PKS ini.

Rekaman yang diputar Adang Darajadtun itu selama lima menit. Di sela-sela rekaman yang diputar, tampak terdengar suara burung Beo yang diklaim berada di teras rumah kediaman Adang. Dalam potongan pemeriksaan tersebut, penyidik RS mengatakan "Saya punya hipotesa, yang punya kepentingan ini Miranda Goeltom yang dipilih DPR untuk menjadi Deputi Gubernur BI," demikian suara RS dalam rekaman yang diputar Adang.

Sikap keluarga dan pengacara Nunun Nurbaetie yang cenderung menyerang kubu Miranda merupakan langkah baru yang dilakukan dalam kasus cek perjalanan ini. Sikap ini mengkonfirmsi konstruksi yang selama ini dibangun, bahwa Miranda merupakan otak di belakang cek perjalanan.

Anggota Komisi Hukum DPR RI Ahmad Yani mengatakan sebenarnya KPK tidak perlu menghadirkan Nunun Nurbaetie bisa menyeret Miranda S Goeltom. "Menurut saya, tanpa menghadirkan Nunun, KPK bisa menetapkan Miranda sebagai tersangka. Karena sudah ada fakta di pengadilan dan pengakuan," kata Yani di gedung DPR, Jakarta, Senin (12/12/2011).

Yani justru menuding, penangkapan Nunun oleh KPK ini sebagai komoditi untuk memulihkan citra KPK yang babak belur di mata publik. Ini cara KPK untuk merehabilitasi KPK yang terpuruk. Ini kan barang dagangan, pimpinan KPK butuh pencitraan," tambahnya.

Posisi Miranda S Goeltom tampaknya tinggal menghitung hari. Dalam kenyataannya, fakta penyebaran cek perjalanan digunakan untuk memuluskan langkah Miranda S Goeltom sebagai Deputi Gubernur BI pada 2004 lalu. [mdr]

Komentar

x