Kamis, 17 Mei 2012 | 10:57 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PKS: Rombak Total KBRI Riyadh
Headline
inilah.com/dok
Oleh: Santi Andriani
nasional - Sabtu, 12 November 2011 | 07:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta- Pemerintah didesak segara merombak total manajemen Kedutaan Besar RI di Riyadh, Arab Saudi. KBRI dinilai gagal total memperjuangkan nasib para tenaga kerja Indonesia yang sedang berperkara di sana dan tinggal menunggu eksekusi.

Hal itu menyusul karena hingga kini diplomasi yang dilakukan pemerintah dengan Kerajaan Arab Saudi terkait hukuman mati terhadap tenaga kerja wanita (TKW) Tuti Tursilawati belum juga menemui titik terang.Malahan, nasib Tuti semakin diujung tanduk.

“Jadi atau tidaknya Tuti dihukum mati, pemerintah harus berani merombak total SDM yang ditugaskan di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Riyadh, Arab Saudi. Berulangkali KBRI Riyadh gagal menangani kasus TKW di Arab Saudi apalagi mencegah berulangnya kasus sejenis,” tulis Ketua DPP PKS Bidang Perempuan, Anis Byarwati dalam siaran persnya yang diterima INILAH.COM, Jumat (11/11/2011).

MenurutAnis, jika pada akhirnya Tuti gagal diselamatkan dari hukuman pancung, maka ini akan menambah daftar panjang kegagalan diplomatik pemerintah RI untuk membela warganya di luar negeri. Saat inilah, tak ada lagi alasan untuk mempertahankan formasi sumber daya alam yang bertugas di sana.

"Bagaimana mau menangani warganya dengan baik, jika atase ketenagakerjaan di KBRI Riyadh hanya memiliki satu pegawai home staff dan 14 staf lokal. Sedangkan staf yang secara khusus menangani TKI hanya 4 orang untuk wilayah Saudi Arabia bagian Timur, sedangkan untuk wilayah bagian barat ditangani oleh Konjen Jeddah," sesalnya.


Pembenahan KBRI di Riyadh dan Konjen RI di Jeddah sangat mendesak agar mereka dapat memainkan peranan penting, khususnya penanganan bagi TKW yang sedang bermasalah. Seperti menjadi korban penganiayaan, tidak memiliki tempat tinggal sementara, maupun upaya bantuan hukum bagi TKW bermasalah.

Tercatat sudah ratusan kasus TKW Indonesia yang kabur dari rumah majikannya akibat tidak tahan menahan siksaan lalu lari ke KBRI. Alih-alih mendapat pembelaan, upaya KBRI seringkali malah tak memuaskan.

Selain itu Anis juga menyayangkan hingga kini pemerintah belum juga mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Saudi Arabia mengenai perlindungan TKI di negara tersebut."Padahal dengan Qatar saja bisa, mengapa dengan Arab Saudi tidak dilakukan. Ada masalah apa?," tandas Anis.

Karenanya dia mendesak, pemerintah juga harus memikirkan hal itu dan merealisasikannya.

Tercatat sebanyak 700.000 WNI mengadu nasib di Saudi Arabia melalui jalur legal.Belum lagi dari jalur illegal. Anis memperkirakan, jumlah keseluruhan mencapai lebih dari dua juta orang. Tuti sendiri diputus oleh pengadilan syariah Arab Saudi, Tuti direncanakan akan dieksekusi dalam pekan ini. (ndr)

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Martin
Sabtu, 12 November 2011 | 11:06 WIB
Saya pribadi sangat menghimbau pemerintah agar menggagalkan eksekusi ibu Tuti yg lugu itu ... coba bayangkan bagaimana perasaan seorang ibu lugu tidak berdaya atas perlakuan manusia arab yg biadab itu
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.