Jumat, 25 April 2014 | 10:47 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Obituari Mensesneg Moerdiono
27 Tahun Menulis Pidato Pak Harto
Headline
Mensesneg Moerdiono saat bersilaturahmi dengan wartawan INILAH.COM, Derek Manangka di kediamannya pada 12 Juni 2008. - inilah.com
Opini: Derek Manangka
nasional - Sabtu, 8 Oktober 2011 | 14:41 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Pemimpin Orde Baru, Jenderal Soeharto tergolong Presiden RI yang tidak senang dibantah. Ditambah latar belakang militernya yang kuat dan cara memerintahnya secara otoriter, membuat banyak orang tidak berani mendebatnya.

Di masa jayanya, Presiden Soeharto juga terkenal dengan berbagai gagasan. Namun tidak semua Menteri termasuk orang dekatnya mampu menerjemahkan gagasan-gagasannya itu. Menjelang kejatuhannya, Jenderal Soeharto banyak "dijilat" oleh politisi atau kekuatan tertentu yang haus kekuasaan. Termasuk kalangan pengusaha.

Kendati begitu, ada yang bukan hanya bisa membantah tetapi juga mampu meraba dan berani menerjemahkan keinginan Soeharto. Dan yang paling mendasar, orang tersebut, sekalipun cukup dipercaya oleh Soeharto, ia tidak ingin "menjilat" Soeharto terutama demi mencari keuntungan pribadi.

Orang tersebut adalah Moerdiono, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur 77 tahun lalu yang Jumat 7 Oktober 2011 petang meninggal dunia di Singapura. Terlepas dari kekurangannya sebagai manusia biasa, termasuk kelemahan rezim Orde Baru, meninggalnya Moerdiono merupakan sebuah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Terutama ketika bangsa yang saat ini mulai atau sedang merindukan hal-hal positif yang pernah dibuat oleh Soeharto bagi NKRI.

Sebagai penulis pidato Presiden RI selama kurang lebih 27 tahun, Pak Moer , setidaknya memiliki saham yang cukup besar dalam pembangunan NKRI. Walaupun tidak secara langsung, tetapi sahamnya itu melalui pidato-pidato Presiden Soeharto, yang telah mewarnai perjalanan NKRI.

Untuk menyusun pidato Presiden, Pak Moer harus paham berbagai masalah bangsa. Sehingga Pak Moer harus bisa berfikir seperti seorang pemimpin Indonesia. Memahami masalah dalam arti tidak hanya dari perspektif pemerintah, tetapi juga dari kepentingan rakyat. Memahami secara timbal balik. Pemahamannya itu kemudian harus tercermin dalam setiap pidato Presiden.

Yang paling sulit tentunya, ketika Pak Moer menulis pidato kenegaraan menyambut ulang tahun kemerdekaan RI yang disampaikan setiap 16 Agustus. Isi pidato harus bisa menyemangati rakyat Indonesia agar tetap bangga menjadi warga negara Indonesia.

Atau Pidato Pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang dikemukakan Presiden setiap minggu pertama Januari. Isinya harus mampu memberi gambaran apa yang akan dilakukan pemerintah satu tahun ke depan, demi kepentingan rakyat.

Selain panjang dan menyeluruh, isi pidato Presiden RI tersebut harus bisa dimengerti oleh masyarakat awam. Pidato lainnya yang cukup berat yang harus ditulis Pak Moer adalah ketika Presiden Soeharto sebagai Mandataris MPR harus menyampaikan pertanggung jawaban apa yang dikerjakannya selama 5 tahun.

Pidato lima tahun sekali ini tidak bisa diringkas. Tetapi justru harus mengelabolarasi semua pencapaian dan penyebab kegagalan. Hal mana sudah tidak dilakukan lagi oleh Presiden RI pasca-Soeharto.

Sehingga bisa dibayangkan, peran Pak Moer sebagai penulis pidato Presiden yang kemudian menjadi Menteri Sekretaris Negara, tidak sekadar sebagai pelengkap. Pak Moer merupakan "komputer" bagi Presiden Soeharto. Tidak heran jika banyak ungkapan yang disampaikan Presiden Soeharto, menjadi sebuah pembahasan yang menyeluruh oleh komponen bangsa.

Yang cukup menarik dari performa Pak Moer, ia tidak pernah mengklaim sebagai "orang cerdas" yang berada di balik kepemimpinan Soeharto. Ketika Soeharto sukses, pujian tidak ada yang jatuh kepadanya. Namun ketika Pak Harto dicela dan dicerca, Pak Moer termasuk yang ikut kena getahnya.

Dengan meninggalnya Moerdiono, membuat sejarah bangsa kita kehilangan seorang pelaku sejarah yang benar-benar penting. Perginya Pak Moer membuat beberapa sekuens penting dalam episode sejarah Indonesia, terputus. Berhubung sekuens itu belum sempat direkam.

Pada 12 Juni 2008, INILAH.COM sempat diterima Pak Moer di kediamannya Jl. Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta. Pertemuan, tujuannya hanya sekadar silaturahmi dan bernostalgia. Karena ketika Pak Moer menjabat sebagai Mensesneg dan penulis bertugas meliput kegiatan Presiden RI, kami sering berinteraksi di berbagai forum.

Pertemuan kami terakhir, terjadi di Cartagena, Kolombia, Oktober 1995. Saat itu KTT Gerakan Non Blok digelar di negara Amerika Latin itu. Sehingga rentan waktu tidak bertemu, cukup lama.

Tidak disangka pertemuan berkembang menjadi sebuah pembicaraan yang berdurasi 7,5 jam! Tidak diduga pertemuan itu merupakan pertemuan kami yang terakhir. Karena sejatinya, Pak Moer ingin membuat berbagai testimoni berbentuk serial yang direkam dalam format audio visual. Kami berjanji akan bertemu kembali.

Namun beberapa kali dicoba untuk mengatur perekaman testimoni itu, tetapi waktunya tidak bisa cocok dengan agenda Pak Moer. Terutama karena pada bulan-bulan berikutnya Pak Moer sudah mulai dipadati kesibukan politik. Ia mulai melakukan 'road show' ke beberapa tokoh politik, karena sejumlah jenderal pensiunan mulai bersiap-siap tampil sebagai calon Presiden dalam Pilpres 2009.

Dari bahasa tubuhnya, Pak Moer kelihatannya was-was kalau para jenderal seperti Wiranto., Sutiyoso dan Prabowo Subianto harus berkompetisi dengan SBY. Di pihak lain Pak Moer juga cukup kecewa dengan performa SBY sebagai Presiden hingga 2008 itu.

Yang dipikirkan Pak Moer, bagaimana menyelamatkan Indonesia. Di mata dia, kalau di era 1966-an, Pak Harto bisa membangun kembali Indonesia, mestinya di 2000-an, siapapun yang memimpin Indonesia akan mampu.

Dalam pertemuan itu, penampilan Pak Moer, masih cukup segar. Ingatannya masih cukup jelas dan analisanya masih cukup tajam. Ini terlihat dari caranya menjelaskan beberapa peristiwa penting yang terjadi di seputar kekuasaan Soeharto.

Misalnya latar belakang keputusan Presiden Soeharto mengangkat Mbak Tutut, anaknya, untuk menjadi Menteri dan kesiapan Presiden ke-2 RI tersebut menerima kunjungan mendadak Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin di Cendana, Oktober 1992.

Dua peristiwa itu termasuk hal-hal yang cukup kontroversial dan Moerdiono memiliki jawabannya. Di dua peristiwa itu, Moerdiono memiliki peran yang cukup menentukan. Karena di dua kejadian itu, Moerdiono selain melakukan debat juga diam-diam menerjemahkan apa yang diinginkan Soeharto.

Saat menjamu INILAH.COM tiga tahunlalu, di kediaman Pak Moer itu, tidak nampak ada tanda-tanda kehidupan rumah tangga yang utuh. Hal itupun tidak kami singgung. Namun, Pak Moer sempat berucap bahwa rumahnya yang besar nampak 'kosong' karena memang tidak diisi berbagai koleksi. Karena untuk mengisinya memerlukan dana yang besar. Sementara Pak Moer hanya hidup dari hasil bunga deposito.

"Jangan anda mengira menjadi orang kepercayaan Pak Harto lalu saya bergelimangan materi. Saya tidak punya perusahaan, karena saya tidak tahu berbisnis dan saya juga tidak menjadi komisaris di perusahaan manapun. Tapi saya nikmati saja kehidupan ini......," tutur Pak Moer di bagian akhir perbincangan kami. Selamat Jalan Pak Moer. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
salsabilla mulia
Rabu, 23 November 2011 | 18:05 WIB
sorry tpi kelihatanya gx ada pidatonya
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER