Find and Follow Us

Kamis, 27 Juni 2019 | 10:15 WIB

Balada Rosa Manulang di Balik Kasus Wisma Atlet

Oleh : Herdi Sahrasad | Selasa, 23 Agustus 2011 | 08:14 WIB
Balada Rosa Manulang di Balik Kasus Wisma Atlet
Mindo Rosalina Manulang - inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta - Tragedi rumah tangga acapkali datang pada perempuan karir yang sedang apes. Teranyar, tragedi itu datang atas terdakwa kasus suap Wisma Atlet SEA Games, Mindo Rosalina Manulang.

Rosalina meneteskan air matanya dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Rosa mengeluh dan menjerit hatinya karena di tengah derita sebagai terdakwa korupsi, suaminya malah lari dan kawin lagi!

Tak jarang ada lelaki di Indonesia sering dikenal sebagai tukang kawin yang gemar merendahkan martabat perempuan. ''Dan celakanya, bagi perempuan karir di negeri ini, mereka adalah alas kaki disiang hari dan alas tidur di malam hari,'' ungkap sastrawan Hersri, yang juga bekas wartawan Konferensi Asia-Afrika.

Ketika pertama masuk ruang tahanan KPK, Rosa masih nampak gemuk, namun kini dengan derita berantai, dan ancaman penjara tahunan, tubuhnya kian susut. Rosa menangis, karena selain dibelit kasus wisma atlet SEA Games, saat ini ia pun menghadapi tekanan permasalahan keluarga. Bekas anak buah Nazaruddin di PT Anak Negeri itu mengaku sangat terpukul dengan kasus yang sedang dihadapinya saat ini.

"Seminggu lagi saya cerai, saya ditinggal suami saya, suami saya kawin lagi," ungkap Rosa sambil meneteskan air mata, dalam sidang pemeriksaan terdakwa di hadapan Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (22/8/2011).

Kisah Rosa mengingatkan kita pada kisah perempuan karir semacam Melinda Dee (Citibank) yang ambisius, bergaya aristokrat, sopistokrat, namun sekaligus kleptokrat. Ironi dan paradoks berbaur menjadi satu.

Sebagaimana pernah diungkapkan dalam laman ini, Plato dalam magnum opusnya, Republic, menggambarkan sophist sebagai a sort of wizard atau seorang imitator paling nyata. Mereka bukan produsen kebenaran meski amat memahami diktum kebenaran. Mereka hanya memberi kesan kebenaran itu sendiri.

Kecanggihan dalam memanipulasi dan selalu mempertanyakan kebenaran membuat kabur hubungan fakta dan kebenaran. Jika terbius keyakinan bahwa segala sesuatu tentang fakta adalah ilusi, mereka berhasil. Kebenaran lalu menjadi soal yang bisa dinegosiasikan dan dibelokkan.

Menurut teori Deleuze (1994), orang-orang sophist selalu berbicara tentang pengingkaran dan penolakan dengan mempertanyakan kembali hal-ihwal segala sesuatunya. Kecanggihan mereka memainkan simulasi yang selalu ada di ruang samar-samar dan meyakinkan. Sebuah kesalahan adalah hal paling benar, itulah perilaku seorang sophistokrat.

Dalam kasus Roza maupun Melinda, gaya sopirtokrat itu berbaur dengangaya kleptokrat, akibatnya mereka menjadi penghuni Hotel Prodeo, dan menjadi pesakitan di depan pengadilan.

Kini di balik jeruji besi, Rosa merintih dan mengaku sangat kehilangan tawa dan canda sang anak yang masih berumur 9 dan 11 tahun. Ia selalu teringat dengan sang buah hati. "Anak saya kecil-kecil, masih berumur 9 sama 11 tahun," jelas Rosa yang menyatakan menyesali atas segala perbuatannya.

"Saya minta maaf kalau saya membuat sakit hati masyarakat dengan kasus ini. Saya tidak mau lagi kerja kayak gini, saya tidak akan mengulanginya lagi," sesal Rosa.

Berbuat dahulu, sesal kemudian, itulah pepatah yang pas bagi Rosa yang datang dari kampung halamannya nun jauh di sana ke Jakarta sebagai seorang pekerja, untuk tak menyebutnya profesional. Apa hendak dikata, Rosa terjerat perkara korupsi structural dan proses hukum kian memantapkan namanya sebagai terdakwa yang harus menghuni penjara. [mdr]

Komentar

x