Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 03:54 WIB

Antara Marzuki Alie dan 8 Mantan Ketua DPR RI

Selasa, 2 Agustus 2011 | 08:01 WIB

Berita Terkait

Antara Marzuki Alie dan 8 Mantan Ketua DPR RI
Ketua DPR RI Marzuki Alie - inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Jakarta - Ketua DPR RI Marzuki Alie, dua hari terakhir ini menjadi sasaran kritik tajam. Penyebabnya tak lain karena politisi Partai Demokrat itu mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK).

Sebetulnya, pernyataan Marzuki tentang pembubaran KPK, tidak sepenuhnya salah. Sebab bangsa Indonesia juga harus berpikir, jika KPK menjadi lembaga permanen, hal itu tidak baik. Itu sama dengan mengakui bahwa korupsi merupakan kegiatan permanen atau bagian dari budaya. Kita tidak mampu menghentikan budaya korupsi. Jadi cepat atau lambat KPK harus dibubarkan.

Hanya saja waktunya yang dipilih Marzuki membuat pernyataan itu tidak tepat. Pernyataan itu disampaikan Marzuki pada saat sorotan soal korupsi yang dilakukan elit Demokrat sedang gencar-gencarnya. Dan Marzuki merupakan satu di antara elit politisi Demokrat.

Sehingga muncul kecurigaan, Marzuki mewacanakan pembubaran KPK, karena dia kuatir, bila bola panas pemberantasan korupsi menerjang siapa saja, bukan mustahil dia akan menjadi salah seorang yang tersambar bola api. Hal ini mungkin tidak diperhitungkan oleh Marzuki dan penyebabnya adalah pada soal minimnya jam terbang yang dimilikinya.

Marzuki juga dikenal sebagai sosok yang senang melawan arus. Di saat masyarakat begitu gencar memprotes rencana pembangunan gedung baru DPR dengan biaya Rp1,2 triliun, Marzuki mempertanyakan kriteria masyarakat yang menentang rencana pembangunan gedung tersebut.

Dia menganggap mereka yang mengatas namakan masyarakat itu, bukan masyarakat dalam arti yang sebenarnya. Dia menganggap hanya segelintir orang saja yang menentang pembangunan itu tapi sudah berani mengatas namakan masyarakat. Marzuki mungkin mengira, menjadi terkenal melalui pernyataan kontroversil, sah-sah saja.

Kalau mau diurut, dosa Marzuki yang bersumber dari pernyataannya bernada melawan arus, di 2011 ini, tidak kurang dari lima isu. Seperti soal korban bencana alam di Sumatera Barat, anggota DPR boleh bawa isteri ke luar negeri saat melakukan studi bandung. Oleh sebab itu tidak heran jika reaksi yang bertubi-tubi dan bahkan menyerang balik Marzuki, terjadi seperti ombak tsunami kecil.

Namun terlepas dari sikapnya yang melawan arus, Marzuki memang merupakan sosok yang rekam jejaknya sebagai politisi, termasuk yang belum banyak pengalaman!. Semakin dia mengaku berpengalaman mengelola perusahaan dan mengerti soal manajemen, semakin orang tidak menghiraukan celotehannya. Marzuki malah terkesan mau menonjolkan kehebatannya, satu hal yang justru tidak produktif dalam budaya pergaulan di Indonesia.

Ketua MPR-RI Taufiq Kiemas yang juga berasal dari daerah yang sama dengan Marzuki, Sumatera Selatan, dalam suatu percakapan ringan, sempat tertawa geli, ketika Marzuki membuat pernyataan kontroversil.

"Sudahlah dia itu kan baru masuk Jakarta. Anda bayangkan orang yang biasanya tinggal di Palembang, tiba-tiba masuk Jakarta dan langsung jadi Ketua DPR. Beda dong dengan saya ini. Itu pun saya masih suka keseleo...." ujar politisi PDI-P yang pernah dijuluki Presiden Bayangan, saat Mega isterinya menduduki posisi Presiden ke-5.

Secara singkat Marzuki bisa dinilai sangat berbeda dengan 8 politisi nasional yang sebelumnya, menjadi Ketua DPR. Kedelapan figur yang diuraikan di bawah ini, sebelum menjadi orang nomor satu di Senayan, sudah banyak berkiprah di dunia politik. Jadi mereka boleh dibilang sudah piawai dalam menghitung kapan, dimana dan isu apa yang harus mereka komentari.

Boleh jadi banyak yang terkaget-kaget ketika Oktober 2009, menemukan Marzuki sudah menjadi Ketua DPR-RI. Bisa jadi banyak pihak yang tidak percaya ketika lembaga tinggi negara ini tiba-tiba dipimpin oleh seorang politisi yang jam terbangnya, masih sangat minim. Sehingga Marzuki Alie pun mungkin terkaget-kaget sendiri, bahwa posisi Ketua DPR itu, merupakan salah satu karir puncak dari seorang politisi.

Bandingkan dengan 8 poltisi nasional yang pernah memimpin DPR antara 1977- 2004. Kebetulan semuanya berasal dari Golkar, di antara mereka terdapat jenderal yang menjadi Golkar setelah pensiun.

Agung Laksono (2004 - 2009), selain duduk di DPP Golkar, semasa rezim Soeharto, dia memulai karir sebagai pengusaha dengan posisi Ketua Umum DPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) kemudian ke di AMPI (Angkatan Muda Pembaruan Indonesia), ormasnya Golkar. Agung dikenal seorang kader yang banyak berguru kepada Sudharmono SH, salah seorang kepercayaan Presiden Soeharto. Bahkan sebelum menjadi Ketua DPR, Agung pernah menduduki jabatan Menpora.

Akbar Tanjung (1999-2004), pernah menjadi Ketua Umum PB HMI, Ketua DPP KNPI, dan menjadi anggota DPR-RI sejak 1977. Sebelum terpilih sebagai Ketua DPR, Akbar sempat menjadi Menteri Perumahan Rakyat dan Mensesneg di kabinet Presiden BJ Habibie.

Harmoko (1997 - 1999), pendiri harian Poskota dan Terbit, menjadi anggota DPR selama tiga periode selain merangkap sebagai Ketua Umum PWI Pusat. Diangkat menjadi Menteri Penerangan kemudian merangkap jabatan Ketua Umum DPP Golkar.

Wahono (1992 - 1997), seorang prajurit TNI dan pernah menjadi Pangdam. Selepas dari Pangdam menduduki beberapa pos birokrasi, sampai akhirnya menjadi Ketua Umum DPP Golkar. Dari Slipi (Markas Golkar) menyeberang ke Senayan (DPR)

Kharis Suhud (1987 - 1982), seorang jenderal bintang tiga, yang setelah pensiun ditugaskan Presiden Soeharto menjadi Ketua DPR. Ketika masih aktif, menjadi anggota Fraksi ABRI (saat itu ABRI masih punya jatah 100 kursi di parlemen). Sehingga ketika menjadi Ketua DPR, Kharis Suhud sudah tidak kagok lagi menjadi pimpinan lembaga tinggi negara tersebut.

Amirmachmud (1982 - 1987), seorang tentara yang terkenal keras. Pernah menjadi Pangdam V/Jaya sampai akhirnya dipercaya Presiden Soeharto selaku Menteri Dalam Negeri. Selama menjadi Mendagri, Amirmachmud dijuluki seorang "buldozer" karena hanya dia yang berani menabrak penentang-penentang Soeharto yang ada di luar Golkar.

Daryatmo (1978 - 1982), juga seorang jenderal bintang tiga sewaktu dipensiunkan agar bisa menjadi Ketua DPR-RI. Daryatmo dikenal sebagai tentara yang paling keras menghadapi perlawanan anggota-anggota PKI saat dia bertugas sebagai salah seorang perwira militer di daerah Sumatera Utara.

Adam Malik (1977 - 1978), bekas Menteri Luar Negeri dan Ketua Sidang Umum Perserikat Bangsa-Bangsa. Sekali lagi bandingkan ke-8 tokoh tersebut dengan karir politk Marzuki Alie ! [mdr]

Komentar

Embed Widget
x