Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Desember 2014 | 08:50 WIB
Hide Ads

Demokrat: Survei LSI Ngawur

Oleh : Agus Rahmat | Senin, 27 Juni 2011 | 12:43 WIB
Demokrat: Survei LSI Ngawur
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan - inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Jakarta - Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang mengatakan bahwa popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun, dinilai ngawur.

"Hasilnya agak tendensius dan faktor masalah Munir. Apakah ia (pemilih) di desa tahu masalah Munir? Tapi kalau kasus Munir, apakah benar kekuatan ingatan bisa setajam itu menurunkan popularitas SBY. Munir itu wafat era Megawati, hukum yang mengadilkan bukan SBY," jelas Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan di gedung DPR, Senin (27/6/2011).

Dia menilai, LSI harus belajar tentang tatanegara. Sebab, era sekarang berbeda dengan era kepemimpinan Soeharto. Masing-masing pihak, kata dia mempunya tugas pokok dan fungsi, jadi tidak bisa serta merta semua masalah dilimpahkan ke SBY. Masih ada jajaran Menteri yang juga perlu ditekan kinerjanya. Dan itu berasal dari berbagai partai politik.

"Yang aneh lagi, segala sesuatu di timpakan ke SBY. Padahal Menkokesra dari Golkar, Menkumham dari PAN, Menkominfo dari PKS. Kenapa tidak spesifik," ujarnya dengan heran.

Ramadhan khawatir, survei oleh LSI ini rawan tumpangan kepentingan. Dia pun menilai, muatan kepentingan politik dalam hal survei tersebut sangat besar. "LSI ini ngawur. Ini survei politik atau survei kepentingan atau pesanan politik?" katanya.

Menurut dia sebaiknya membuka data mentah dari hasil surveinya. Agar masyarakat juga tahu, seperti apa survey LSI ini. "Apa bisa di akses publik data mentah dari LSI ini. Kami tidak alergi. Tapi kalau SBY turun sampai 37 persen, masa sih?," katanya merasa tidak yakin.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis, Minggu (26/6/2011) menunjukkan tingkat kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY merosot. Merosotnya popularitas SBY, ini salah satunya disebabkan oleh kasus Muhammad Nazaruddin. [mvi]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Login with