Sabtu, 30 Agustus 2014 | 03:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
'Pendet Tarian Suci Bali, Bukan Punya Malaysia!'
Oleh:
nasional - Sabtu, 22 Agustus 2009 | 16:03 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Denpasar - Tari Pendet atau tari selamat datang hingga kini tetap disucikan masyarakat Bali. Tarian yang nongol dalam iklan Visit Malaysia Year itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali. Malaysia pun tak berhak mengklaim tari Pendet miliknya.

"Menarikan tari Pendet atau memendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali," kata Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia dalam aksi protes di Taman Budaya Denpasar, Bali, Sabtu (22/8).

Dibia menjelaskan, tarian yang biasa dibawakan dalam bentuk kelompok penari wanita itu pada awalnya hanya merupakan kelengkapan kegiatan keagamaan umat Hindu. Fungsi tari Pendet adalah tari wali pada upacara piodalan (dewa yadnya) di pura-pura atau tempat suci keluarga (merajan).

"Turunnya para dewa dari khayangan ke bumi saat upacara piodalan oleh kalangan masyarakat Hindu di Bali, selalu disambut dengan penuh rasa syukur, hormat dan sukacita," jelasnya.

Menurut Dibia, salah satu cara yang lazim dilakukan dalam menyambut kehadiran para dewata dari khayangan dilakukan dengan cara menari. Salah satu tarian suci itu adalah tari Pendet yang tergolong paling tua di antara tari-tarian sejenis yang ada di Pulau Dewata.

"Berdasarkan beberapa catatan, para ahli seni pertunjukan Bali sepakat untuk menyebutkan tahun 1950 sebagai tahun kelahiran tari Pendet," bebernya.

Tari Pendet merupakan tarian kelompok yang biasanya ditarikan oleh sekelompok remaja putri. Masing-masing penari membawa sebuah mangkok perak (bokor) yang berisikan bunga berwarna-warni. Pada akhir tariannya, para penari menaburkan bunga-bunga yang mereka bawa ke arah penonton, sebagai wujud ungkapan dan ucapan selamat datang.

Dibia menyebut penggagas tari itu adalah dua seniman kelahiran desa Sumertha Denpasar yakni I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. "Kedua seniman ini menciptakan tari Pendet penyambutan dengan empat orang penari untuk disajikan sebagai bagian dari pertunjukan turistik di sejumlah hotel yang ada di Denpasar, Bali," kata Dibia.

Dibia menyebut tari Pendet sebagai sumber inspirasi bagi penciptaan tari-tari kreasi baru maupun tari kotemporer. Pendet pun dapat disajikan sebagai seni 'balih-balihan', yaitu pertunjukan seni yang bersifat sekuler.

Pada tahun 1961, I Wayan Beratha mengolah kembali tari Pendet tersebut hingga menjadi seperti sekarang, termasuk menambahkan jumlah penarinya menjadi lima orang. Setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari Pendet massal, dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Game di Jakarta.

"Tarian yang diwarisi secara turun temurun itu oleh masyarakat Pulau Dewata mampu dijadikan sebagai sumber inspirasi," imbuhnya. [*/fiq]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
9 Komentar
Amirull
Rabu, 14 Oktober 2009 | 12:19 WIB
PUTRAJAYA Sept. 21 – Menteri Luar, Datuk Anifah Aman berasa pelik dengan sikap media Indonesia yang enggan menerima penjelasan akan isu tarian Pendet yang telah mencetuskan insiden anti-Malaysia di negara itu. Sebaliknya, para pemberita Indonesia terus mengulangi isu itu di surat khabar, kata beliau kepada pemberita di rumah terbuka Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak di Seri Perdana, di sini, hari ini. Beliau berkata, Malaysia telah pun menerima penjelasan Discovery Channel mengenai kontroversi tarian Pendet itu dan penjelasan itu juga telah disampaikan kepada kerajaan Indonesia dan mereka juga telah menerima penjelasan itu. Beliau berkata, Malaysia tidak pernah mengakui tarian Pendet itu adalah tarian Malaysia dan ianya adalah kesilapan pihak Discovery Channel. Anifah berkata beliau telah membuat penjelasan dalam pertemuan dengan rakan sejawat dari Indonesia, Hassan Wirajuda pada Khamis lalu. Beliau berharap selepas pertemuan itu, yang telah berjalan dengan baik, segala masalah yang dihadapi oleh kedua-dua negara akan dapat diselesaikan dalam cara yang terbaik. “Saya telah perjelaskan dalam sidang akhbar (di Indonesia) bahawa Malaysia tidak ada masalah dengan Indonesia,” katanya. Pertemuan dengan Hassan Wirajuda itu adalah berikutan insiden anti-Malaysia dan laporan media yang negatif terhadap Malaysia di republik berkenaan.
palong16
Kamis, 24 September 2009 | 22:45 WIB
buat marwan dan semua warga indonesia,untuk pengetahuan kamu semua,99.9999999999 peratus rakyat malaysia tidak pernah mengetahui wujudnya tarian pendet ini jadi tidak timbul mengapa kami mahu meyatakan tarian ini milik malaysia.mengpa wujud kumpulan yang mahu ganyang malaysia,bukankah lebih baik ganyang israel yang ternyata lebih kejam.Setiap tahun orang di kalimantan membakar hutan,asap dan habuknya sampai ke malaysia etaip tahunnnnnn.!!!!!!!!! tapi kami tidak pernah mahu ganyang indonesia.Sewaktu acheh dilanda tsunami,negara mna yang mula-mula sekali datang membantu.kamu semua punya akal fikirlah dengan waras,kami bukan kepingin bangat tarian itu apatah lagi ia hanya untuk agama hindu
moti
Senin, 21 September 2009 | 15:30 WIB
tentulah diperpanjang...kalian2 Malingsia kan bukan hanya sekali berulah malingsia...TKI kita perompak? kok banyak yg disiksa ya? bahasa low tuh katro... udah tau salah ga mau disalahin...
Hadi
Selasa, 15 September 2009 | 17:56 WIB
Salam hormat ! Kita menyedari sesiapa pun akan naik berang jika haknya dicerobohi ataupun dipindah milik tanpa kebenaran dengan kata lain jika terdapat orang lain cuba menciplak hakcipta kita,sebelum siap setiap apa yang hendak kita hasilkan sudah tentu memerlukan kerja keras secara bertungkus lumus dengan penuh ketelitian dan pemikiran yang kritis serta kajian yang memakan masa beberapa lama untuk menghasikan sesuatu karya tiba tiba ada orang lain senang senang merampasnya, makanya sudah tentu kita ingin membelasah dan menganyang sipencuri itu kerana ingin menunjukkan protes diatas tingkah lakunya yang tidak menyenangkan hati kita itu,mungkin kerana itulah kita membaca didada dada akbar terpampang berita berita yang menunjukkan segelintir pemuda Indonesia cuba menunjuk perasaan untuk menganyang orang (pelajar) Malaysia yang kononnya telah tanpa izin mengambil hak kepunyaan hasil sebuah pemikiran mereka walau pun hanya serangkap lagu,hebatnya orang Indonesia....tidak seperti kita diMalaysia yang banyak mendiamkan diri dan mengalah walaupun beberapa buah pulau telah terlepas tangan ketangan orang asing yang dulu dulunya hanya datang berdagang disini. Saya tidak berhajat untuk mempertahankan langkah tunjuk perasaan yang dibuat pemuda Indonesia itu sebagai betul,cuba sekadar untuk memahami semangat ditunjukkan itu memang tepat,namun begitu harus diingat soal apabila jika satu satu hasil karya kita ditiru orang itu bermakna hasil kerja kita sememangnya berharga,syabas ! tetapi adakah kita sedar setiap amalan kita seharian sebenarnya banyak juga menciplak hak dari orang orang yang terdahulu. Sebagai contoh sebagai orang islam segala ilmu yang kita amalkan pada hari ini adalah diambil daripada generasi bermula dizaman Nabi dibawa kezaman para sahabat kemudian keilmuan islam tersebut diperturunkan kepada para para imam termasuk imam mazhab Maliki,shafie dan Hambali,jadi tidak ada apa sebab kita perlu sibuk memprotes secara melampau dan berlebihan. Walau bagimanapun zaman telah banyak merubah kita,demi untuk memelihara hak intelek seseorang maka kerana itu pelbagai akta telak dicipta manusia demi untuk melindungi hak milik komisial kepunyaan peribadi mahupun penghasilan yang dibuat secara berkumpulan,jadi disini terpulanglah kepada sesiapa samada ingin megambil tindakkan disegi undang undang yang sedia ada seperti untuk mendapatkan sejumlah ganti rugi dan sebagainya,jika segala tindakan yang diambil berbentuk kekerasan pasti tidak akan dapat menyelesaikan masaaallah kerana ianya tidak memenangkan kyalayak ramai malah tidak banyak disenangi umum dan berkemungkinan akan menimbulkan tindak balas yang lebih rumit lagi kerana orang lain juga ada perasaan dan darah yang terhasil dari makanan nasi yang sama malah tidak ada manusia yang dapat menghasilkan anti body urat dawai tulang besi.....Jadi fikir betul betul !
warisan
Senin, 14 September 2009 | 14:14 WIB
bodoh!
alfian
Senin, 14 September 2009 | 08:33 WIB
Saya warga indonesia. Saya sangat prihatin sama negara saya. Bermacam - macam budaya kita di curi oleh negara tetangga kita, sudah cukup negara saya bersabar dan menerapkan sopan santun kepada negara tetangga kita itu.
amm
Jumat, 11 September 2009 | 07:19 WIB
saya warga malaysia. mengapa isu ini dipanjangkan?apakah rakyat indonesia tidak tahu bersyukur? ribuan warga anda mencari rezeki di bumi bertuah MALAYSIA. warga anda di sini pun berperangai buruk juga menjadi pencuri perompak pemyamun tetapi MALAYSIA tidak pernah hendak ganyang Indonesia. fikirlah dengan matang.
siddiq
Kamis, 10 September 2009 | 15:21 WIB
saya warga malaysia.. setahu saya Malaysia tak pernah mengatakan tarian pendet tu miliknya.. semua ini timbul gara-gara video Discovery Channel..bahkan pihak Discovery dh mohon maaf atas kesilapan tersebut.. kenapa perlu pnjangkan cerita dan menyalahkan malaysia?? sedangkan dah terang malaysia tidak bersalah..
Marwan
Rabu, 26 Agustus 2009 | 21:35 WIB
Kita ini bangsa yang bermartabat dan punya harga diri, berkali-kali kita diremehkan oleh Malaysia. mereka melakukan hal yang mereka suka sendiri tanpa melihat dan memandang negeri kita sebagai negara yang santun. Bisa tidak kitaini tegas seperti Presiden Soekarno dulu membuat pernyataan ganyang Malaysia. mungkin terlalu tragis kalau harus seperti itu. Bagusnya kita stop produk Malaysia alias anti Malaysia...berani....saya tunggu sikap pemerintah kita saat ini dalam menanggapi tetangga kita yang tidak pernah menghargai itu.....
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER