Selasa, 21 Oktober 2014 | 15:43 WIB
Follow Us: Facebook twitter
‘SBY Salah Gunakan Jabatan di 17-an Istana’
Headline
Susilo Bambang Yudhoyono - inilah.com /Dokumen
Oleh: Vina Nurul Iklima
nasional - Senin, 17 Agustus 2009 | 21:13 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Kata 'lanjutkan' yang diucapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara dianggap sebagai penyalahgunaan jabatan. Kejadian tidak biasa ini bahkan dianggap sebagai sinyalemen yang mengarah pada kekuasaan pemerintah yang absolut.

"Kejadian itu disinyalir sebagai bentuk penyalahgunaan jabatan dia (SBY) sebagai presiden," kata pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Surakarta Aidul Fitriciada saat dihubungi INILAH.COM dari Jakarta, Senin (17/8).

Kata 'lanjutkan' yang identik dengan slogan Partai Demokrat yang berhasil memenangkan SBY dalam Pilpres 2009, tak lazim dilontarkan dalam acara resmi kenegaraan. Selain itu, lagu ciptaan SBY yang dinyanyikan bak lagu nasional, dianggap upaya personalisasi SBY dalam pemerintahan.

"Secara teori mengarah pada pemerintahan yang absolut. Bagaimana personalisasi sosok SBY dalam kehidupan negara. Ini sangat serius, dan bahkan berbahaya," ungkapnya.

Kejadian personalisasi SBY ini, menurutnya, bukan kali pertama. Tapi dalam setiap kesempatan SBY dinilai selalu berupaya membentuk negara identik dengan dirinya sebagai presiden.

"Ini ancaman bagi kita. Padahal dia belum dilantik, tapi sudah mengarah pada kekuasaan absolut. Ia menempatkan bahwa 'negara adalah saya'. Ini jelas sebuah kesalahan," paparnya.

Padahal sebuah negara modern dibangun bukan atas personalisasi penguasa, tapi impersonalisasi atas dasar hukum yang ditegakkan. Masyarakat harus jeli melihat fenomena tersebut. Sehingga ada upaya peringatan untuk mencegah terbentuknya pemerintah yang absolut.

"Memang belum ke arah tuntutan. Tapi paling tidak ada upaya dari oposisi baik partai
di DPR atau gerakan masyarakat sipil untuk bertindak," pungkasnya. [ikl/nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
10 Komentar
retno
Rabu, 19 Agustus 2009 | 11:10 WIB
Tulisan anda sangat kontra produktif dan menyesatkan serta lbh sbg ungkapan org sakit hati. Sy org awam pun tau benar bhw kata lanjutkan biasa dilakukan pd upacara2 17 an. Di kantorku pun irup jg berkata lanjutkan kpd komandan upacara yg melaporkan kesiapan peserta upacara. Justru org2 spt andalah yg berbahaya buat negeri ini.
Baco Ibrahim
Selasa, 18 Agustus 2009 | 17:50 WIB
Itu kan komentar anda, belum tentu pak Sby bekeinginan seperti itu, kesimpulannya cari fakta kesumber asalnya, baru ungkapan ke media, sekali lagi jangan cari kerusuhan, tapi cari persatuan.
Teddy Syamsuri HS, Penasehat MINA Center
Selasa, 18 Agustus 2009 | 14:55 WIB
Sejak awal saya mengingatkan kepada rekan-rekan yang masuk orang miskin dan pengangguran, hendaknya janganlah disesalkan karena penyesalan tak ada gunanya. Isu "Matahari Kembar" yang memojokkan JK terdahulu, itulah yang membuat absulot terlebih partainya menjadi pemenang pemilu. Sangat sependapat bahwa personalisasi sang presiden akan mengundang bahaya bagi ketatanegaraan kita ke depan.
christon
Selasa, 18 Agustus 2009 | 08:51 WIB
dulu mungkin gak pernah upacara..
aladin
Selasa, 18 Agustus 2009 | 07:24 WIB
semoga kondisi yang membosankan selama 5 tahun ke depan cepat berlalu, lebih cepat berlalu lebih baik....
telo
Senin, 17 Agustus 2009 | 23:47 WIB
Sudahlah,kalau tidak berani ngelawan diam saja katimbang bikin ribut di masyarakat,semua anggota DPR pd sudah dibeli semua koq....hehehehe
henry
Senin, 17 Agustus 2009 | 23:07 WIB
alamaak....pengamat atau pengamit. Masak tidak tahu perintah/kata "lanjutkan" itu sudah sejak dahulu kala menjadi ketentuan dalam upacara militer bahkan sudah diasopsi dalam upacara sipil, yaitu perintah Irup kepada Dan Up yang harus diulangi oleh Dan Up saat melaporkan upacara siap dimulai. Ini namanya mengada-ada saja
ojolali
Senin, 17 Agustus 2009 | 22:23 WIB
Ha...ha... Semua sama aja. Feodalis? ada tuh yang udah kelihatan dari dulu. Siapa? tau sendiri aja. Ada juga yang dulu pro rakyat dan anti neolib diucapkan disetiap kesempatan. Ada yang lebih cepat lebih baik kalo pidato ke daerah-daerah. Bedanya, mereka belum berkesempatan saja duduk di RI-1. Tapi lucu juga bisa menyindir yang lain. Mungkin maksudnya begini, hai para looser akhirnya saya yang tertawa terakhir.
jargon kampanye
Senin, 17 Agustus 2009 | 22:17 WIB
Upacara tahun ini kurang khidmat, ditambah dengan insiden kelupaan nyanyi Indonesia Raya di Senayan... Kesannya main-main... Apabila pak Kala sebagai calon yang menang. Masa laporan dari komandan upacara dijawab denga 'lebih cepat lebih baik'... aya aya wae...
Avgan
Senin, 17 Agustus 2009 | 21:53 WIB
Anda benar. Sudah lama saya mengendus bau2 feodalisme dalam diri SBY. Hal ini juga didukung oleh PD (dan kroni2 koalisinya) yg selalu membela apapun, sekali lagi apapun, tindakan/perkataan SBY tidak perduli walaupun seandainya tindakan/perkataan itu kadang2 salah. Ini jelas berbahaya bagi demokrasi kedepan. Waspadalah.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER