Kamis, 17 Mei 2012 | 10:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah Artikel Ulil yang Menggegerkan (1)
Headline
wpc/file
Oleh:
nasional - Selasa, 15 Maret 2011 | 20:03 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Ulil Abshar Abdalla pernah menulis sebuah artikel di harian Kompas, pada 18 November 2001 dengan judul 'Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam' yang memicu kontroversi berujung ancaman pembunuhan.

Berikut ini adalah isi artikel tersebut:

SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.

Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.

Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.

Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.

Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.

Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.

Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.

Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam.

Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.

Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.

Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.
[bersambung/mah]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
12 Komentar
cepi
Kamis, 29 Desember 2011 | 08:05 WIB
Bolehlah kita tidak sependapat, tetapi janganlah kita mencaci maki orang yang tidak sependapat. Yang mesti kita lakukan adalah terus menggali ilmu untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki.. Insyaallah.
Selasa, 27 Desember 2011 | 12:56 WIB
Ulil sok pintar, baru sekolah di luar aja belagu, mau sok-sok an mengatur Islam,,, pintaran mana sih anda (Ulil Bloon) sama Nabi Muhammad SAW
bang NAPI
Minggu, 26 Juni 2011 | 09:08 WIB
ULIL EMANG BENER!!!!! Beneran pantes cepet mati maksudx... ^_^ Tapi kalo dipikir, memang inilah cobaan hidup untuk umat Islam yang sesungguhnya, guna mengukur kadar keimanannya, Allah memberikan cobaan berupa seorang yang MUNAFIK ditengah-tengah umat Islam... Oleh karena itu...., bagi anda yang merasa syahadadnya bener.... WASPADALAH!!!! WASPADALAHHH............
herry
Jumat, 18 Maret 2011 | 17:27 WIB
lagu lama, hanya mengekor Cak Nur..yg di akhir hayatnya justru telah bertaubat
jada
Rabu, 16 Maret 2011 | 19:07 WIB
ini oranng ngerti alquran apa gak sih? kok nyebut dirinya tau agama islam? jilbab itu wajib om ada di alquran, soal beda agama ada juga di alquran kasian amat ya sodara pantes tuh ada yg mau bunuh anda sangat menyesatkan umat manusia haduh ga takut ya azab ALLAH???
semar
Rabu, 16 Maret 2011 | 16:15 WIB
emang ulil dah dicuci otak di amerika, sekolahnya aja yg mbayari amerika, masak amerika nggak ada maunya, ada pasti, dan maunya menghancurkan islam dari dalam pelan-pelan, seolah-olah pejuang HAM, tapi menghancurkan, kayak yg mbayari, AMERIKA....
Buset
Rabu, 16 Maret 2011 | 13:06 WIB
Buset dah komentar2 yg di atas... Jadi klo orang yang dianggap sesat wajar klo dikirimi bom ya? Coba pikir klo semua pemeluk agama mengadopsi pendapat yang sama, ga ada kedamaian...
Susi
Rabu, 16 Maret 2011 | 09:46 WIB
Gak tau malu! Terima dollar hanya untuk merusak agama Islam dari dalam. Belajar Islam dari orang kafir, ya begini jadinya. Semua juga tau agenda JIL itu apa, gak usah berlindung dibalik hak asasi.
ngehe
Rabu, 16 Maret 2011 | 09:20 WIB
Tinggal dua hal yang Ulil tunggu, Hidayah atau Azab
Philip
Rabu, 16 Maret 2011 | 07:27 WIB
Si Ulil ini memang pantas dibom karena ulahnya yang tengil. Semoga dia tobat setelah diberi kesempatan untuk hidup ama Yang Maha Kuasa
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.