Sabtu, 1 November 2014 | 16:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Apa Kabar Proyek Pesawat Tempur Nasional KF-X?
Headline
Foto: Istimewa
Oleh:
nasional - Kamis, 17 Februari 2011 | 05:03 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Desakan agar Indonesia segera memproduksi sendiri pesawat tempur kembali bergema setelah Kementerian Pertahanan memutuskan menerima hibah dua skuadron pesawat tempur F-16.

Impian tersebut adalah sebuah keniscayaan, sebab Indonesia dengan Korea Selatan memiliki proyek ambisius pembuatan pesawat tempur KF-X yang rencananya akan dirilis pada 2020. Namun sayangnya, sejak diumumkan tahun lalu, perkembangan proyek tak terdengar lagi.

Rencananya KF-X akan disokong mesin kembar setara dengan kelas General Electric F414 atau SNECMA M88 yang digunakan pada F/A- 18E/F Boeing dan Dassault Rafale. SNECMA menggambarkan M88 sebagai landasan dari keluarga mesin generasi baru.

Mitra yang akan dirangkul untuk pengembangan mesin adalah Lockheed Martin yang sebelumnya terlibat dalam desain dan pengembangan pelatih Korea Aerospace T-50 jet supersonik. Proyek KF-X juga akan merangkul sejumlah perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan asing akan membayar hingga 30 persen dari total biaya program ini.

Proyek ini membutuhkan biaya sekitar 8 miliar USD, dari total biaya yang diperlukan, Indonesia menanggung sebesar 20 persen. Kemudian Indonesia akan memperoleh sebanyak 50 jet tempur KF-X pada 2020.

Kemampuan tempur KF-X dirancang lebih baik daripada pesawat tempur F-16. Jet tempur KF-X diproyeksikan memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen dari F-16.

Badan pesawat KF-X dirancang lebih panjang daripada F-16. Rentang sayapnya pun lebih lebar daripada F-16. Begitu pula kemampuan menampung bahan bakar KF-X lebih banyak daripada F-16.

Pesawat tempur KFX ini dirancang untuk masuk dalam kelompok pesawat tempur generasi 4,5 yang berarti harus mempunyai 6 kemampuan tempur.

Pertama, mampu melakukan manuver ekstrim agar mendapat posisi serang paling menguntungkan (Air Combat Manuverability). Kedua, mbisa terbang lincah sehingga harus menggunakan teknologi fly by wire untuk kontrol penerbangannya.

Kemudian, menggunakan teknologi trust vectoring nozzles yang mampu mengubah-ubah arah semburan gas buang mesin jet agar pesawat tempur mempunyai kemampuan terbang dalam kecepatan rendah dan mampu melakukan belokan tajam.

Selanjutnya, memiliki kemampuan untuk terbang jelajah pada kecepatan supersonik dalam waktu yang lama. Lalu memiliki radar pesawat tempur berkemampuan menjejak target diluar batas cakrawala atau beyond visual range

Dan terakhir mempunyai kemampuan menyerap dan membiaskan pancaran radar atau teknologi stealth.

Jika proyek ini dapat dikebut maka kebanggan Indonesia terhadap kemampuan produksi strategis makin meninggi. Industri pertahanan Indonesia akan disejajarkan dengan negara produsen-produsen pesawat tempur lainnya. [indodefence/mah]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
aa
Kamis, 17 Februari 2011 | 13:36 WIB
tolon dicek lagi ya, lockheed martin gak pernah ngembangin mesin, yang bikin mesin tuh GE, P&W, Roll royce,snecma, lyulka/saturn, shenyang liming
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER