Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Januari 2018 | 02:58 WIB
 

Ketika Seorang Presiden Keluhkan Gaji

Oleh : Ava Larasati | Jumat, 21 Januari 2011 | 15:27 WIB
Ketika Seorang Presiden Keluhkan Gaji
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - Foto: Istimewa

INILAH.COM, Jakarta Bagi mereka yang tak pernah menengok sejarah, melihat sekilas masa lawas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan bisa berkilah, pernyataannya soal gajinya yang sudah tujuh tahun tak naik, bukanlah curahan hati alias curhat.

Beliau bisa mengatakan, itu adalah fakta dan dirinya hanya memakai fakta itu untuk membesarkan hati para pimpinan TNI yang tengah menggelar Rapat Pimpinan TNI dan Polri, di Balai Samudera.

Tetapi melacak rekam jejak adalah hal yang sangat mudah di era superinformasi ini. Karena itu, dengan mudah akan diketahui bahwa yang dinyatakan Presiden, Jumat (21/1) pagi ini jelas-jelas curhat.

Bagaimana tidak bila, pada 3 April 2009, di hadapan guru-guru di Surabaya pun presiden pernah melakukan hal yang sama. "Gaji saya belum pernah naik. Nggak apa-apa," kata SBY saat itu.

Sebelumnya, presiden pun melakukan hal serupa. Pada 5 Januari 2009, saat presiden berpidato dalam penyerahan daftar isian penyelenggaraan anggaran (DIPA), SBY juga mengeluhkan gajinya. Saat itu soal nominal yang ia terima. "Gaji presiden harusnya yang paling tinggi, tapi ternyata tidak," ujar SBY saat itu.

Baiklah, berapa gaji presiden saat ini? Kantor Presiden pernah melansir, gaji presiden Indonesia mencapai US$74,9 ribu per tahun, atau sekitar Rp 62,4 juta per bulan. Publik tahu, seperti yang terjadi juga pada pimpinan daerah, ada berbagai dana dan tunjangan lain yang besarnya belum dirilis resmi.

Tetapi persoalannya, untuk negeri dengan kemiskinan dan sejumlah problem sosial akut seperti Indonesia, besaran gaji plus aneka tunjangan yang tak jelas besarnya itu sudah lebih dari cukup. Menurut majalah kredibel The Economist, gaji presiden Indonesia justru merupakan gaji pemimpin dengan kesenjangan tertinggi ketiga dari 22 negara yang disurvei 2010 lalu.

Majalah itu menulis, berbeda dengan rilis resmi Kantor Presiden, gaji per tahun yang diterima Presiden SBY mencapai 124.171 dolar AS per tahun. The Economist mencatat, dengan angka tersebut artinya gaji SBY itu 28 kali lipat dari pendapatan per kapita rakyat Indonesia.

Sementara, bila memakai data majalah itu, Perdana Menteri China dan Perdana Menteri India, dua negara berpenduduk besar seperti Indonesia tetapi telah lebih maju dalam perekonomian, mencatatkan angka yang lebih populis bagi rakyatnya.

Lihatlah, PM China hanya digaji sekitar 2,5 kali lipat dari pendapatan per kapita penduduknya. Sementara India lebih kecil lagi, yakni PM India hanya bergaji sekitar dua kali lipat dari pendapatan per kapita warganya.

Bahkan secara nominal pun, gaji SBY tercatat lebih tinggi dari gaji PM Cina yang hanya US$10.633 per tahun, atau India yang hanya menggaji PM mereka US$4.106 per tahun. Bila rajin menghitung, perbandingan gaji presiden Indonesia dengan PM Cina dan PM India itu, gaji SBY besarnya 12 kali gaji PM Cina dan 30 kali gaji PM India.

Padahal jelas, selain kinerja mereka terlihat jelas dari kemajuan ekonomi yang diraih kedua negara itu, tak pernah terdengar keduanya mengeluhkan besaran gaji yang mereka terima.

Kini, ada baiknya sebagai rakyat bertanya kepada para pemimpinnya, tak hanya presiden. Apakah sebenarnya yang mereka cari dari jabatan dan amanah yang mereka sandang.

Kemakmuran materi berupa kelimpahan harta dari gaji dan aneka uang yang namanya bahkan merepotkan untuk dibuat kriteria, atau keberkahan hati dan respek dari rakyatnya, dengan lebih banyak bekerja dan mengabdi dibanding mengeluh. Manusia memang selalu mengeluhkan segala. Tetapi pemimpin manusia, layaknya bisa mengurangi porsi itu sebanyak-banyaknya. [mdr]

Komentar

 
Embed Widget

x