Minggu, 20 April 2014 | 22:50 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ini Sejarah Lumajang yang Kini Diabaikan
Headline
Foto: Istimewa
Oleh:
nasional - Rabu, 19 Januari 2011 | 10:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Lumajang - Lumajang adalah daerah di Provinsi Jawa Timur yang berada di kaki Gunung Tertinggi di Pulau Jawa "Semeru". Siapa sangka, Lamajang adalah kota tua yang memiliki peradaban budaya, pertanian, pemerintah, dan perekonomian yang maju di masa lalu.

Sayang, peninggalan kerajaan tua di pulau Jawa bagian timur ini seakan tidak berbekas, lenyap ditelan zaman. Bahkan kepedulian masyarakat dan Pemerintah setempat terhadap peninggalan kota yang dulu dikenal pusat pemerintah besar di bawah kerajaan Kediri dan Singosari ditelan zaman.

Dikutip dari berbagai sumber, nama Lumajang berasal dari "Lamajang" yang diketahui dari penelusuran sejarah, data prasasti, naskah-naskah kuno, bukti-bukti petilasan, dan hasil kajian pada beberapa seminar dalam rangka menetapkan hari jadinya.

Beberapa bukti peninggalan yang ada antara lain, Prasasti Mula Malurung, Naskah Negara Kertagama, Kitab Pararaton, Kidung Harsa Wijaya, Kitab Pujangga Manik, Serat Babad Tanah Jawi, dan Serat Kanda.

Karena Prasasti Mula Manurung dinyatakan sebagai prasasti tertua dan pernah menyebut-nyebut "Negara Lamajang" maka dianggap sebagai titik tolak pertimbangan hari jadi Lumajang.

Prasasti Mula Manurung ini ditemukan pada 1975 di Kediri. Prasasti ini ditemukan berangka 1177 Tahun Saka, mempunyai 12 lempengan tembaga. Pada lempengan VII halaman a baris 1 - 3 prasasti Mula Manurung menyebutkan "Sira Nararyya Sminingrat, pinralista juru Lamajang pinasangaken jagat palaku, ngkaneng nagara Lamajang."

Arti dari tulisan prasasti itu adalah : Beliau Nararyya Sminingrat (Wisnuwardhana) ditetapkan menjadi juru di Lamajang diangkat menjadi pelindung dunia di Negara Lamajang tahun 1177 Saka.

Berdasarkan penghirungan kalendar kuno, prasasti tersebut ditemukan dalam tahun Jawa pada tanggal 14 Dulkaidah 1165 atau tanggal 15 Desember 1255 M.

Mengingat keberadaan Negara Lamajang sudah cukup meyakinkan, yakni pada 1255M itu Lamajang sudah merupakan sebuah negara berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255 M sebagai hari jadi Lumajang yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990.

Sejak tahun 1928 Lumajang telah dipimpin oleh sejumlah bupati. Bupati-bupati yang pernah dan sedang memimpin Lumajang antara lain, KRY Kertodirejo (1928-1941), R Abu Bakar (1941-1948), R Sastrodikoro (1948-1959), R Sukardjono (1959-1966), RN G Subowo (1966-1973), Suwandi (1973-1983), Karsid (1983-1988), HM Samsi Ridwan (1988-1993), Tarmin Hariyadi (1993-1998), Drs Achmad Fauzi (1998 - 2008), Dr H Sjahrazad Masdar, MA (2008-2013).

Kerajaan besar di wilayah timur pulau Jawa, kini hanya tinggal kenang dan cerita. Bahkan sejumlah peninggalan Kerajaan Lmajang Kuno di masa kejayaan tidak bisa diketahui, karena kepedulian Pemerintah daerah sangat rendah meski sudah berganti 11 bupati (pemimpin daerah).

Bahkan untuk mendapatkan informasi sejarah Lumajang yang terkenal dengan sebutan Kota Pisang sangat sulit. Akibatnya masyarakat Lumajang sendiri tidak mengetahui pasti Kota Lumajang Kuno ada dimana dan bagaiman dulunya terbentuk.

Jadi jangan heran bila pelajar di Lumajang tidak mengetahui sejarah kotanya yang dulu terkenal dengan Kerajaan besar dimassanya. Karena sejumlah peninggalan Kerajaan Lamajang tidak dirawat dan tereferensi akurat.

Bahkan situs peninggalan Kotaraja Lumajang yang berada di Dusun Biting Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono tidak terawat dan tidak dikelola dengan baik oleh Pemerintah Setempat. Padahal di`tempat itu ada makam yang diduga Arya Wiraja Raja, mantan Adipati Sumenep yang merupakan pemimpin Kerajaan Lamajang untuk wilayah Majapahit wilayah Timur.

Dari tahun ke tahun, pemimpin di Lumajang tidak pernah memikirkan untuk membuat museum cagar budaya untuk peninggalan Kerajaan Lamajang Kuno. Kabar terbaru, Situs Kotaraja Kuno kini mulai terpinggirkan dengan adanya pengembangan perumahan Biting.

Bahkan akibat perluasan perumahan oleh pengembang, sejumlah situs bangunan peninggalan mulai hilang dan tak berjejak. Perluasan perumahan yang mengancam situs asal usul kota Lumajang, pemerintah daerah diam dan membiarkan tanpa berbuat apa-apa.

Beruntung kumpulan orang yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Peninggalan Mojopahit (MPP) Lumajang, mencegah Buldoser yang hendak merusak gundukan tanah yang didalam ada tumpukan batu bata yang merupakan bangunan kerajaan Kuno Lamajang. Berkat adanya MPPM, pengembang perumahan tidak berani lagi melakukan perluasan yang mengarah ke situs peninggalan sejara Lamajang.

Kini pemerintahan Lumajang mulai lupa asal usulnya, sehingga peninggalan leluhurnya dibiarkan terbengkalai tak terawat. Bahkan pemkab Lumajang tidak menganggarkan soal perawatan situs peninggalan sejarah Lumajang baik di tahun 2010 lalu dan 2011 sekarang. Lalu siapa lagi yang harus bertanggung jawab dengan peninggalan Kerajaan Lamajang Kuno? Apakah dibiarkan musnah berkalang tanah dan tidak lagi dikenal sebagai warisan budaya bangsa? [beritajatim/nic]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Soero Yk
Senin, 7 November 2011 | 08:38 WIB
inilah orang" yg tdk menghargai sejarah zaman dulu,gakmau tau jerih payah nenek'moyang kita doeloe,dasar manusia skrng sdh tdk mau diHargai.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER