Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Desember 2014 | 13:10 WIB
Hide Ads

Politik Saling Menjatuhkan Makin Marak

Oleh : Derek Manangka | Selasa, 18 Januari 2011 | 15:31 WIB
Politik Saling Menjatuhkan Makin Marak
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - Foto: Istimewa

INILAH.COM, Jakarta - Politik nasional hari-hari belakangan ini semakin riuh. Sayangnya riuh yang bertendensi kesemerawutan. Presiden SBY mengeluarkan Rapor Merah bagi sejumlah menteri. Sementara sejumlah tokoh lintas agama menuduh SBY telah melakukan 9 kebohongan publik.

Pada saat dua isu panas ini baru saja beredar, tiba-tiba muncul wacana baru bahwa peluang untuk memakzulkan Presiden SBY menjadi lebih mudah. Wacana itu begulir setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi tentang persyaratan kuorum Hak Menyatakan Pendapat (HMP).

Kalau sebelumnya kuorum lebih sulit, sebab diperlukan persetujuan 3/4 total suara parlemen, kini lebih mudah karena suara yang diperlukan cukup dengan 2/3 dari total anggota 560.

Pemecatan Presiden (SBY) memang bukan hal mudah. Akan tetapi adanya wacana pemakzulan, ditambah munculnya tudingan presiden berbohong dan rapor merah bagi sejumlah menteri, tiba-tiba mengubah agenda kerja para elit politik. Semangat saling menjatuhkan makin marak.

Terhadap wacana pemakzulan, Presiden SBY tidak bereaksi secara langsung. Namun menghadapi tuduhan pembohong, presiden bereaksi sangat cepat. Presiden, pekan lalu mengutus Dr Daniel Sparinga, staff khusus, untuk menemui para tokoh lintas agama. Lalu Senin (17/1) malam, presiden, wakil presiden dan sejumlah menteri berdialog dengan para tokoh lintas agama di Istana. Dari penyelenggaraan yang terkesan terburu-buru ini, presiden dan kabinetnya nampaknya sangat terganggu.

Mungkin ada kekuatiran, tudingan pembohong bisa berlanjut ke mosi tidak percaya, Hak Menyatakan Pendapat dan akhirnya pemakzulan. Seperti yang dilaporkan media, pertemuan Senin malam yang berjam-jam, tidak menghasilkan sesuatu yang konkrit.

Sungguh memprihatinkan. Kalau keadannya seperti itu, baik presiden maupun tamunya sudah pantas untuk dikecam. Mereka tidak pantas disebut pemimpin. Mereka tidak tau menghargai waktu. Mereka hanya "om do" alias omong doang. Mereka adalah anggota-anggota NATO (No Action Talk Only).

Sebetulnya Presiden SBY yang bergelar doktor itu, tidak perlu meladeni aksi para tokoh lintas agama. Apalagi dengan cara cepat seperti itu. Cara itu hanya memperlihatkan SBY mudah panik.

SBY juga tidak perlu kuatir dimakzulkan, walaupun mekanismenya lebih mudah. Para tokoh agama yang mengeritiknya, seharusnya juga tidak dilihat sebagai rohaniawan yang apolotik. Mereka justru sudah berpolitik.

Melihat sepak terjang kesehari-harian mereka saja, sedikitnya terdapat dua tokoh agama yang terlibat dalam aksi politik praktis. Ada yang pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden, kemudian yang satunya lagi pernah berusaha masuk dalam bursa calon presiden pilpres 2009.

Begitu pula peluang pemakzulan, tidak perlu dilihat sebagai sebuah ancaman serius. Yang perlu dicermati adalah mengapa Mahfud MD selaku Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), ikut mempermudah proses itu?

Sebetulnya cukup mengagetkan kalau MK yang diketuai Mahfud tidak tahu sejarah kuorum tersebut. Sebab Mahfud juga merupakan korban dari pemakzulan Presiden Wahid alias Gus Dur di 2001. Saat itu Mahfud menjabat Menteri Pertahanan.

Belajar dari pengalaman Gus Dur, maka kuorum ke tahapan pemakzulan, memang sengaja dipersulit. Tujuannya supaya bangsa Indonesia memiliki pemimpin nasional yang bisa menyelesaikan masa kerjanya secara utuh.

Kalaupun Mahfud MD berkilah bahwa MK hanya memenuhi permintaan anggota DPR, itu pun masih harus didebat. Karena dua dari tiga anggota DPR yang meminta uji materi itu, dikenal sebagai wakil rakyat yang sangat vokal terhadap Presiden SBY. Keduanya adalah Bambang Soesatyo (Golkar) dan Lily Wahid (PKB).

Bambang yang eks wartawan dikenal sebagai inisiator pembentukan Pansus Skandal Bank Century. Bambang berada pada pihak yang melihat Presiden SBY bersalah. Di luar Pansus, Bambang bahkan menulis buku tentang Skandal Bank Century dimana di dalamnya secara eksplisit ia menyalahkan SBY.

Lalu Lily Wahid, yang adik kandung Gus Dur. Dalam voting mengenai Bank Century, ia membelot dari fraksinya PKB. Karena fraksinya membela SBY. Jadi situasinya sangat obvious sehingga SBY sebetulnya tidak perlu membuang waktu yang sangat berharga.

Potensi energi yang ada, semestinya digunakan untuk hal-hal yang produktif. Tidak seperti rapat Senin malam dengan para tokoh lintas agama yang hanya ingin mempertahankan egonya masing-masing.

Dari peristiwa politik belakangan ini, memang ada kesan elit menjadi reaktif dan semakin condong mengurusi hal-hal yang tidak substansil. Tokoh agama, sebagai elit pemimpin informal, semestinya juga ikut bertanggung jawab atas kegagalan pemerintahan SBY.

Mereka tidak bisa lepas tangan begitu saja. Seharusnya mereka bisa berperan melalui dakwah dan khotbah yang membangunkan semangat para pengikut mereka dan bukan sebaliknya.

Sebaliknya Presiden SBY juga perlu melakukan perubahan gaya kepemimpinan dan pendekatan. Rasa-rasanya SBY lebih suka ditemui di Istana atau Cikeas ketimbang melakukan road show ke pusat kekuasaan para tokoh agama. Kesempatan untuk memperbaikinya masih ada. [mdr]



3 Komentar

Image Komentar
BOB - Kamis, 20 Januari 2011 | 09:41 WIB
Ada nih berita bagus dari sini http://goodnewsfromindonesia.org/
Image Komentar
BALISTA - Selasa, 18 Januari 2011 | 19:54 WIB
Lalu apa yang sudah anda berikan buat negeri ini wahai derek manangka??? selain asik mengutik2 ini dan itu dan berkoar dibalik website???
Image Komentar
ANTI ANARKI - Selasa, 18 Januari 2011 | 17:54 WIB
Gak ada berita bagus apa? bosan nih negara, berita jelek mulu.

Kirim Komentar

Login with